Header Ads

Sudah, Putuskanlah untuk Memutuskan!

 “Demi Kebaikan Aku, Kamu dan Kita Semua. Kebaikan Itu Seharusnya Jangan Kita Tunda. Maka Jadilah Pemantik Kebaikan Itu”

Penulis: Abdullah Al Faruq


Sudah, Putuskanlah untuk Memutuskan!



Kita hanyalah manusia biasa yang disematkan cinta dalam hati. Bukankah tak salah karena cinta adalah sebuah anugerah dari Illahi. Seharusnya cintalah yang memanusiakan sesama manusia, selalu memberikan warna dan selalu bisa membangunkan harapan. 

Tak ada masalah pada cinta, karena tidaklah Allah menciptakan sebuah rasa cinta untuk menyiksa. Justru Allah turunkan sebuah cinta untuk saling mengasihi dan mempersatukan dua insan dalam satu bahtera.

Cinta adalah pemberian Allah dan kasih sayang-Nya. Allah menanamkan cinta dalam diri kita sebagai bentuk bahwa inilah cinta dan kasih sayang-Nya pada hambanya dengan tujuan semata-mata agar kita terus dan selalu berpikir tentang-Nya.

Allah menjadikan kita memiliki rasa cinta terhadap lawan jenis. Sama hal nya seperti Allah jadikan rasa cinta kepada apa yang kita inginkan di dunia.

Allah SWT lah yang mengaruniakan cinta, maka mustahil Allah mengaruniakan yang buruk kepada hamba-Nya. Dan hakikat cinta itu luas, maka janganlah kita mempersempitnya dengan nafsu belaka. 

Maka dari itu, janganlah karena maksiat lantas kita merendahkan kasih sayang Allah yang teramat tinggi pada hambanya. Karena Islam mengajarkan bahwa cinta adalah kasih dan mengasihi seperti layaknya yang selalu kita rasakan. Mulai dari seorang Ayah kepada ibu dan kepada kita sebagai anaknya.

Apakah islam pernah mengharamkan cinta? Tentu tidak!

Islam selalu memberikan kita Kompas untuk menjadi arah laju cinta agar selalu berjalan pada koridor yang semestinya. Menyediakan aturan agar kita tahu bagaimana cara kita menunaikan rasa cinta kita kepada orang tua. 

Cinta kepada seiman bahkan kepada sesama manusia tentunya juga kepada lawan jenis. Maka berbicara perihal cinta antara lawan jenis, pilihan terbaiknya adalah cinta di atas pernikahan yang dengan itu segala bentuk cinta menjadi halal dan berkah,  Insyaallah.

Balik dari apa yang kita bahas di atas, Islam tentu melarang keras segala sesuatu bentuk pengaplikasian cinta yang tak halal. Mengapa?  

Karena Islam itu adalah agama yang memuliakan manusia dan mencegah kerusakan dari para perusak yang dirusak manusia itu sendiri. Dan cinta yang tidak semestinya dan cinta yang tidak halal adalah bagian dari cinta yang merusak.

Sayangnya, umat islam di zaman sekarang hidup dikelilingi masyarakat yang sebagian besar salah dalam memahami cinta. Saat ini manusia hidup dalam orang-orang yang mengagungkan kepuasan diri dengan melakukan perbuatan yang Allah larang, salah satunya terjerumus pada nafsu yang membuat malapetaka.

Kesucian diri dan kesakralan sebuah pernikahan sudah tidak ada lagi muka di sisinya. Kemuliaan dan harga diripun tak ada dalam pikirnya dan telah berganti dengan pergaulan yang buas lagi buruk. Seperti biasa pacarana yang kita sering dengar dengan berbalutkan kakak-adik, teman tapi mesra dan lain-lain.

Apapun mereka berusaha memuaskan kesenangan diri dengan lawan jenis dan perbuatan yang mereka lakukan akan Allah hisab. Akan tetapi, sayangnya alasan yang akan mereka kemukakan di hadapan Allah tidak akan ada celah untuk terucap. 

Hingga saat itu tiba, bersaksilah anggota tubuhnya di hadapan Allah walaupun lisan mengemukakan alasan untuk pembenaran.

Maka sedari dini lah kita mendidik cinta agar ia landing dan bermuara pada ketaatan, bukan diinjak oleh maksiat. Bimbinglah cinta agar menjadikanmu terhormat. Bukan hina yang ditanggung karena maksiat yang terlaknat.