Header Ads

Mengapa Kita Kurang Percaya Diri? Simak Alasan Psikologis Berikut

Mengapa Kita Kurang Percaya Diri? Simak Alasan Psikologis Berikut

Oleh: Alvi Aulia Shofyani
Mahasiswi STEI SEBI

Mengapa Kita Kurang Percaya Diri? Simak Alasan Psikologis Berikut

Pernahkah kamu merasa kurang percaya diri? Dan sebetulnya apa itu percaya diri? Percaya diri adalah sebuah insting di mana kita merasa bergairah dalam melakukan sesuatu, memiliki energI positif, dan percaya pada segala kemampuan yang ada pada diri kita. Konsep percaya diri menurut Thursan Hakim dalam bukunya berjudul “Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri”, adalah suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek, kelebihan yang dimilikinya, dan diyakininya bahwa ia mampu memenui tujuan hidupnya.

Namun, kepercayaan diri seseorang itu kadang naik turun. Ketika rasa percaya diri itu lagi menguat, orang akan dengan mudah mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, apabila sedang menurun, rasanya seperti kehilangan jati diri. Karena orang yang tidak percaya diri merasa sudah tidak percaya lagi bahwa dirinya bisa diterima orang lain. Mereka merasa dirinya tidak berharga dan tidak berguna.

Menurut Sugiarto, indikasi seseorang terutama anak-anak yang memiliki kepercayaan diri rendah adalah tidak banyak bicara ketika ditanya, menghindari kontak mata saat berbicara, tidak antusias mengikuti kegiatan di kelas ataupun di luar kelas, mudah demam panggung, tidak mudah berinteraksi dengan lingkungan baru, dan tidak mudah meminta bantuan orang lain yang baru dikenalnya. 

Benarkan perasaan kurang percaya diri menandakan seseorang butuh pujian? Orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang baik biasanya sering mendapat apresiasi dari orang lain.
 

Dilansir dari kompas.com, rasa percaya diri muncul dari kombinasi antara pola asuh dan peristiwa yang terjadi di masa perkembangan. Pola asuh orang tua terhadap anak menjadi suatu hal yang krusial untuk membentuk kepercayaan diri anak tersebut. Pada masa anak-anak, pujian merupakan sebuah kebutuhan bagi anak, bukan hanya reward atas prestasi akademik.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rahma (2018) terhadap 41 anak TPA Plosokandang Tulungagung, diketahui sebanyak 28 anak (68%) memiliki kepercayaan diri yang rendah, 28% memiliki kepercayaan diri sedang dan hanya 4% yang memiliki kepercayaan diri yang tinggi. 

Indikasi anak yang memiliki kepercyaan diri yang baik berdasarkan survey tersebut adalah mereka yang sering mendapat pujian, mereka merasa bersemangat saat mendapatkan tepuk tangan, sehingga rasa malu yang sebelumnya ada menjadi hilang. Kemudian ketika di rumah, ibunya selalu memotivasinya dengan mengatakan kamu pintar dan kamu harus selalu percaya diri. 

Apabila dilihat dari perspektif seorang guru, yang dapat dilakukan guru kepada muridnya adalah dengan selalu mengapresiasi murid apabila berhasil menyelesaikan tugas dan memberikan feedback yang membangun. Serta tidak mudah menyalahkan kesalahan muridnya. 

Yakini bahwa manusia pasti pernah melakukan kesalahan, itulah hakikatnya belajar. Dengan begitu, murid merasakan adanya dukungan yang begitu tulus dari sang guru.

Bentuk pujian dapat dilakukan dengan pujian verbal maupun non verbal. Pujian verbal diaplikasikan dengan kata-kata seperti, “Kamu pasti bisa!”, “Wah, hebat sekali anak ayah, pasti kamu telah berjuang dengan sungguh-sungguh”. Sedangkan pujian non verbal dapat berupa pelukan, acungan jempol dan ekspresi wajah senang.

Tidak hanya pujian, kalimat-kalimat cinta seperti “I love you”, “Aku sayang kamu” juga sebagai bentuk dukungan yang ampuh dalam mengaktualisasikan kepercayaan diri seseorang. Mengapa demikian? Karena pada intinya, orang yang tidak percaya diri merasa dirinya tidak dicintai. 

Maka, cobalah katakan kata-kata cinta minimal sehari sekali kepada orang-orang tersebut. Sebuah kata yang sederhana namun power full. Hal ini membuat mereka merasa dicintai.

Selain teman, guru dan orang tua, memuji diri sendirii juga perlu lhoo sebagai bentuk love your self. Lakukanlah ungkapan ini setiap malam sebelum tidur:

“Hey, kamu hebat dan kamu berharga. Terima kasih telah berjuang untuk hari ini, terima kasih atas seagala upaya yang kamu lakukan hingga berada pada titik ini, terima kasih telah menjadi hebat walaupun dengan segala kekurangan yang kamu punya. Aku sayang kamu. Malam ini istirhat ya, besok kita ketemu lagi, semoga esok lebih baik dari hari ini. Good night!”

Jadi, memuji diri sendiri dan orang lain sangat diperlukan guna merangsang rasa percaya diri. Jangan pelit untuk memuji orang lain, sekecil apapun prestasi yang diraih. 

Prestasi di sini bukan hanya menang lomba, tapi berhasil mengerjakan soal matematika, berhasil membuat kue, dan hal-hal kecil yang dilakukan sebaiknya dapat diberi apresiasi, pujian dan motivasi. 

Kemudian jangan ragu untuk mengungkapkan kata-kata yang penuh cinta. Karena kata-kata tersebut memiliki energi dan membuat mereka merasa dicintai.



Referensi:
Anggraini, A. P. (2018). Memahami Pentingnya Rasa Percaya Diri dalam Kehidupan. https://lifestyle.kompas.com/read/2018/09/05/111100720/memahami-pentingnya-rasa-percaya-diri-dalam-kehidupan-?page=all
beritasatu.com. (2013). Psikolog: Pujian Berpotensi Menyakiti Kepercayaan Diri Anak. https://www.beritasatu.com/archive/92054/psikolog-pujian-berpotensi-menyakiti-kepercayaan-diri-anak
Rahma, J. (2018). Pembentukan Kepercayaan Diri Anak Melalui Pujian. Martabat: Jurnal Perempuan Dan Anak, 02(01), 117–133.
Surya, A. (2016). Motivasi Hidup Sukses - Cara Mengobati Minder & Perasaan Sensitif. https://youtu.be/0l_DnhJqxh8