Header Ads

Tidak Seharusnya Syarat dan Rukun Jual Beli Diabaikan

Tidak Seharusnya Syarat dan Rukun Jual Beli diabaikan

Penulis: Shafa Nabiilah Nuur Rahmah 
 Mahasiswa STEI SEBI Depok


Tidak Seharusnya Syarat dan Rukun Jual Beli Diabaikan


Indoensia merupakan salah satu Negara, yang memiliki penduduk dengan beragama mayoritas islam. Menjadi umat muslim, ada banyak hal yang harus diperhatikan contohnya dalam jual beli.

Tahukah kalian apa itu akad? Akad merupakan segala sesuatu yang dikerjakan seseorang berdasarkan keinginan sendiri. Pengertian secara khusus adalah perikatan yang ditetapkan dengan ijab dan qabul  berdasarkan ketentuan syara yang berdampak pada objeknya..

Akad sering diartikan juga suatu pertukaran (exchanging) antara suatu komoditas dengan uang atau antara komoditas dan komoditas lain

Akad biasanya digunakan dalam ijab qabul contohnya ketika akan bertransaksi dalam jual beli. Secara terminologi terdapat  beberapa definisi jual beli yang dikemukakan para ulama‟ fiqh sekalipun substansi yang bertujuan masing-masing artian sama. 

Menurut Sayyid sabiq,  jual beli adalah pertukaran harta dengan  harta atas dasar saling merelakan atau  memindahkan milik dengna ganti yang didapat dibenarkan. 

Akad jual beli termasuk kedalam rukun jual beli. Rukun akad yaitu unsur yang harus ada dan merupakan esensi dalam setiap kontrak. Jika salah satu rukun tidak ada, menurut hukum perdata Islam, kontrak dipandang tidak pernah ada. Rukun dan syarat jual beli:
  1. Shighat (Pernyataan ijab dan qabul)
  2. Aqidan ( ada 2 pihak yang melakukan akad yaitu penjual dan pembeli)
  3. Mauqud ‘alaih ( objek kontrak yaitu adanya barang atau yang lainnya yang diperjual belikan)
Shigat merupakan ungkapan yang menunjukkan kesepakaatan pihak-pihak akad. Kriteria shigat:
  1. Maksud shigat itu harus jelas dan bisa dipahami
  2. Ada kesesuaian antara ijab dan qabul
  3. Ijab dan qabul dilakukan berturut-turut
  4. Ada keinginan melakukan akad pada saat itu
‘Aqidan merupakan pelaku akad, tidak diisyaratkan harus sesama muslim. Syarat pelaku akad yaitu tidak melakukan akad dalam kondisi tidur, mabuk, gila, pingsan, lupa, menghamburkan harta, serta sakaratul maut .

Objek akad merupakan harga atau barang yang menjadi objek transaksi seperti objek jual beli dalam akad jual beli, hadiah dalam akad hibah, barang yang digadaikan dalam akad rahn, dan utang yang dijamin dalam akad kafalah. Syaratnya:
  1. Barang yang masyru’ (legal)
  2. Bisa diserah terimakan waktu akad
  3. Jelas diketahui oleh para pihak akad
  4. Objek akad harus ada pada waktu akad
Setelah rukun jual beli terpenuhi, maka selanjutnya adalah kedua belah pihak yakni penjual dan pembeli melaksanakan syarat jual beli dalam Islam. Syarat sahnya jual beli terdiri dari syarat subjek, syarat objek dan lafadz.

Dapat disimpulkan bahwa rukun jual beli dalam Islam begitu kompleks mengatur syarat-syarat yang harus dipenuhi. Bahkan berkaitan dengan barang yang diperjualbelikan pun ada aturan dan ketentuannya. Dan jika rukun dan syarat jual beli tidak terpenuhi salah satunya, maka proses jual beli yang dilakukan tidak sah dan tidak boleh dilakukan. 

Dalam hal sudah terjadi jual beli dan baru menyadari bahwa rukun dan syarat tidak terpenuhi secara utuh, maka jual beli yang sudah dilakukan hukumnya menjadi batal.



Referensi
https://alamisharia.co.id/id/hijrahfinansial/mengenal-akad-ekonomi-syariah/#:~:text=Akad%20adalah%20segala%20sesuatu%20yang,syara%20yang%20berdampak%20pada%20objeknya.
https://journal.unilak.ac.id/index.php/gh/article/download/7499/3117
https://www.rumah.com/panduan-properti/rukun-jual-beli-55812