Header Ads

Apakah Vaksin dan Swab Membatalkan Puasa?

Apakah Vaksin dan Swab Membatalkan Puasa?

Silvi Apriyanti  | STEI SEBI

Apakah Vaksin dan Swab Membatalkan Puasa?



Oleh karna sebentar lagi bulan ramadhan, dan kondisi covid-19 masih belum membaik, yang mana vaksin dan swab merupakan hal yang wajib kita lakukan apa lagi jika berpergian dalam jarak yang cukup jauh.Nah terus gimana sih hukum vaksin dan swab di saat kita sedang menjalankan ibadah puasa, akankah membatalkan puasa kita atau tidak?

Mari kita sedikit membahas tentang hal tersebut.

Hukum suntik terhadap orang yang sedang berpuasa di bagi menjadi 4 jenis menurut pendapat para ulama:
  1. Suntik otot dan suntik pembuluh darah (membatalkan puasa) 
  2. Suntik dengan semua jenisnya (tidak membatalkan puasa)
  3. Suntik yang melalui pembuluh darah membatalkan sedangkan yang melalui otot tidak
  4. Suntik yang bertujuan untuk berobat tidak membatalkan puasa, sedangkan untuk kekuatan (infus) membatalkan puasa.

Fatwa MUI: Vaksinasi COVID-19 dan Tes Swab Tidak Batalkan Puasa

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan 2 fatwa terkait penanganan pandemi COVID-19 selama menjalankan ibadah puasa.

Keduanya adalah Fatwa No 13/2021 yang menyebutkan bahwa vaksinasi COVID-19 dengan injeksi intramuscular (suntikan pada otot) tidak membatalkan puasa, begitu juga dengan test swab sebagaimana disebutkan di Fatwa No 23/2021. (Poin no 3)

Nah kan clear ya untuk pembahasan vaksinasi bahwa diperbolehkan dengan alasan bahwa vaksinasi adalah merupakan injeksi intramuscular yang mana suntikan yang di lakukan pada otot maka tidak akan membatalkan puasa

Nah bagaimana jika swab dilakukan di bulan Ramadhan? apakah membatalkan puasa?

Para ulama berpendapat dan sepakat bahwa memasukan makanan, minuman dan benda lain saat berpuasa dapat membatalkan puasa. Namun memasukkan benda yang masih di atas rongga mulut ini masih menjadi perbedaan pendapat para ulama karna batasan nya itu sampai mana.

Imam Syafi’i berpendapat tentang memasukan benda kedalam hidung saat berpuasa bahwa itu membatalkan puasa:

“Jika ada benda yang di masukan ke dalam pangkal hidung bagian dalam maka membatalkan puasa, Jika tidak sampai kedalam maka tidak batal. (Lanah At-Thalibin , 2/261)

Nah terus gimana dong sekarang kan banyak banget karyawan atau tuntutan pekerjaan untuk mewajibkan swab bahkan 1 minggu bisa 2 atau 3 kali swab akankah harus batal terus puasanya ketika swab?

Berhubung ada hajat dan maksud yang akan di tunaikan maka MUI mempertimbangkan hal tersebut dengan pertimbangan pendapat 3 mahzab:


1. Ulama Syafi’iyah 

Puasa mencegah dari masuknya benda ke organ dalam. Ada pendapat bahwa bagian dalam tubuh tersebut dapat mencerna makanan atau obat. Tenggorokan tidak dapat dikatakan organ dalam tubuh karena tidak dapat mencerna/mengelola makanan (Hasyiah Qalyubi 5/286)

2. Ulama Hanafiyah

Penjelasannya berupa makanan yang masuk ke mulut jika langsung lenyap maka batalah puasanya, inilah yang disebut menetap dibagian dalam. Jika bagian itu tidak lenyap bahkan ada sisa di bagian luar tubuh atau tersambung dengan benda di luar maka tidak membatalkan puasa, karena tidak menetap di dalam (Hasyiah Radd Al-Mukhtar, 2/436)

3. Ulama Malikiyah

Puasa mencegah masuknya benda cair ke tenggorokan seperti air,minyak dll nya, meski tidak sampai ke lambung, walaupun masuknya beda tadi tidak karena lupa atau tidak sengaja. Pengecualian benda cair adalah benda beku, seperti kerikil dan uang koin. Masuknya benda tersebut ke tenggorokan tidak membatalkan puasa, tapi kalau masuknya ke lambung maka membatalkan puasa. (Hasyiah Ash Shawi 3/260)

Jadi jika para kaum muslimin ingin melakukan swab di bulan ramadhan maka diperbolehkan dan tidak menjadi membatalkan puasa karena melakukan swab rutin memiliki tujuan hajat yang baik untuk kemaslahatan bersama

Sedangkan Swab Test saat berpuasa diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa karena; pertama, nasofaring dan orofaring yang menjadi tempat pengambilan sampel lendir merupakan organ yang tidak bisa mencerna makanan atau obat, sehingga tidak termasuk kategori organ dalam yang membatalkan puasa menurut salah satu pendapat dalam madzhab Syafi’i.

Kedua, kapas lidi yang dibuat untuk mengambil sampel lendir termasuk kategori benda padat, sehingga tidak membatalkan puasa menurut ulama madzhab Maliki. Ketiga, kapas lidi yang dibuat untuk mengambil sampel lendir tidak menetap di dalam tapi dikeluarkan kembali, sehingga tidak membatalkan menurut pendapat ulama madzhab Hanafi.

Dalam Fatwa MUI Provinsi Jawa Timur Nomor: 2 Tahun 2021 tentang Hukum Rapid Test, GeNose, dan Swab yang ditandatangani KH. Ma’ruf Khozin Ketua Komisi Fatwa MUI Jatim apda tanggal 31 Maret 2021 dijelaskan bahwa Rapid Test saat berpuasa diperbolehkan dan tidak membatalkan puasa, karena jarum yang masuk ke dalam daging tidak melalui rongga yang terbuka, melainkan melalui pori-pori. 

Tetapi untuk temen temen yang berpegang terhadap pendapat Syafi’iyah yang sebagai mayoritas di pegang oleh orang Indonesia  menjelaskan disana bahwa ketika memasukan sesuatu di atas rongga hidung maka akan membatalkan puasa. 

Antum lebih baiknya dan mengurangi rasa ke khawatiran tersebut maka jika ada swab yang dilakukan di malam hari maka pilihlah alternatif tersebut. Tapi jika tida bisa swab di malam hari apalagi kondisi sudah mendesak tidak apa apa swab di siang hari karena tidak membatalkan puasa.