Header Ads

ORGANISASI PERLU MANAJEMEN RISIKO?

ORGANISASI PERLU MANAJEMEN RISIKO?


Mungkin kita sudah tidak asing lagi dengan Bahasa Risiko, sebuah kata yang mungkin dapat kita dengar sehari-hari, sebuah kata yang ketika dibicarakan identik dengan konotasi negatif atau hal yang tidak kita sukai (merugikan). 

Risiko sendiri bisa didefinisikan sebagai “Konsekuensi yang muncul sebagai dampak dari suatu tindakan yang telah kita pilih dan lakukan ” atau bisa juga diartikan sebagai “kemungkinan hasil yang kita peroleh menyimpang dengan apa yang telah kita rencanakan/harapkan”. Risiko ini tidak bisa ditebak kapan datangnya dan merupakan suatu hal yang sulit kita hindari, karena sifat dari risiko sendiri yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan kita sehari-hari. Misalnya ketika seorang ibu memasak makanan, untuk mengantisipasi risiko habisnya bahan makanan untuk dimasak, maka seorang ibu tentunya akan menyetok bahan makanan didalam kulkas sebagai persediaan jika bahan makanan utama habis.

Banyak yang mengira Risiko dan ketidakpastian sebagai suatu istilah yang sama, Namun sebenernya makna dari Risiko ini berbeda dengan ketidakpastian, yang mana ketidakpastian ini sifatnya  memiliki informasi yang relatif sedikit, sehingga kehadirannya pun tidak bisa diprediksi dan dibuat perencanaan. Misalnya ketika kita ingin pergi ke suatu tempat untuk menghadiri kumpulan/rapat, kita tidak tahu apakah dijalan nanti akan ada kendala yang menghambat perjalanan kita (seperti macet, dll), sehingga dapat membuat kita terlambat untuk sampai ke tujuan. Berbeda halnya dengan Risiko yang relatif memiliki informasi lebih banyak, sehingga kehadirannya pun dapat diprediksi dan diantisipasi. Misalnya ketika kita ingin pergi ke suatu tempat untuk menghadiri kumpulan/rapat, tentunya kita tidak tahu apakah jalan yang kita ambil lancar ataukah terdapat kendala seperti macet, dll. Maka dari itu kita mencari informasi terlebih dahulu dengan tanya-tanya kepada teman, atau bisa juga lewat google maps untuk melihat rute yang sekiranya lancar dan tidak terdapat kemacetan, sehingga dapat tiba ditujuan tepat pada waktunya. Maka dari itu,  ketika informasi yang diperoleh itu sudah lebih banyak dan dapat dikuantifikasi, Status daripada ketidakpastian ini dapat meningkat menjadi risiko dan dapat direncanakan/diantisipasi.

Saat ini baik organisasi, perusahaan maupun instansi pemerintah sendiri mulai dituntut untuk melakukan manajemen risiko untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan dihadapi. Seperti halnya kejadian dalam 2 tahun terakhir ini, kejadian yang tidak pernah terfikirkan oleh orang-orang, kejadian yang dapat merubah kehidupan kita semua, dimana kita dihadapkan dengan situasi pandemi. Situasi yang membuat manusia sebagai mahluk sosial harus diam mengurung diri dirumahnya masing-masing. Tentunya kejadian ini menjadi pukulan telak bagi kita semua, karena banyak sekali dampak dan kerugian yang dihasilkan dalam kejadian. Dari mulai kehilangan pekerjaan, perusahaan yang bangkrut, organisasi yang menjadi tidak aktif hingga kestabilan perekonomian yang menurun.

Dalam pengimplementasiannya, manajemen risiko ini tidak terjadi secara otomatis dan merupakan proses yang panjang dan berliku. Mungkin dalam memulai prosesnya memang tidak sulit, cukup dengan keresahan pemerintah pada awal pandemi ini yang mendesaknya untuk menerapkan proses manajemen risiko. Namun ternyata dalam pengimplementasiannya tidak cukup sampai disitu. Seperti halnya ketika pemerintah mengambil langkah awal untuk mulai menghimbau agar masyarakat tetap dirumah melakukan sosial distancing pada tahap awal kondisi pandemi ini, dengan harapan agar masyarakat yang terpapar virus dapat segera diatasi. Namun pada kenyataannya atas dasar desakan kebutuhan hidup dan kebutuhan ekonomi, masyarakat hanya mampu bertahan hingga 1-2 minggu untuk berdiam diri di dumah (social distancing), hingga akhirnya ketika mulai terasa desakan untuk memenuhi kebutuhan hidup, mereka mulai keluar rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Dan mulai dari titik ini pengimplementasian manajemen risiko menjadi lebih sulit.

Dalam organisasi sendiri manajemen risiko ini masih merupakan hal yang baru dan tidak banyak orang yang tahu. Maka dari itu pada beberapa organisasi, tantangan dalam mempraktikan manajemen risiko sendiri bisa terbilang cukup sulit. Ketika kita memiliki inisiatif dalam mengolah suatu risiko organisasi mungkin itu pada awalnya dapat menjadi suatu pembahasan yang menarik. Namun ketika atasan mulai bergerak untuk meprioritaskan pembahasan terhadap isu-isu lain, maka sudah putuslah harapan mengenai pembahasan risiko organisasi tersebut. Karena dalam menjalankan proses manajemen risiko dalam suatu organisasi, diperlukan atasan yang mendukung aktif pembahasan mengenai manajemen risiko tersebut. Selain itu, sebagian besar individu (khususnya para pemgenag jabatan) dalam organisasi yang tidak mau dilihat kelemahannya dalam analisis risiko juga menjadi hambatan dalam penerapan manajemen risiko di organisasi karena dianggap menjadi ancaman dalam memudahkan pekerjaannya di organisasi.

Tentunya tidak semua organisasi anti dan sulit untuk diterapkan manjemen risiko, dalam beberapa organisasi seperti industri manufaktur, penilaian risiko sudah menjadi hal yang mendasar dalam menjaga kesehatan dan keselamatan kerja. Selain itu juga lembaga keuangan seperti bank sudah lama menerapkan manajemen risiko dalam pelaksanaannya. Misalnya bank yang membuat mekanisme yang jelas, juga mencadangkan kasnya agar sistematika pengelolaan keuangannya dapat lebih jelas dan dapat mencegah terjadinya likuidasi perusahaan yang dapat terjadi akibat peristiwa tak terduga atau kehilangan kepercayaan dari masyarakat.

Dalam pelaksanaannya pada sebuah organisasi manajemen risiko bisa diterapkan dengan cara dibuat suatu tim yang dikhususkan untuk membahas isu-isu terkait risiko baik dalam organisasi maupun luar organisasi yang mungkin akan berpengaruh dalam jalannya organisasi tersebut (Explisit). Misalnya untuk mencegah terjadinya risiko terjadinya kebangkrutan dalam suatu bisnis pada masa pandemi ini dibuatkan tim yang sengaja ditugaskan untuk menganalisa penyebab terjadinya suatu perusahaan tidak dapat bertahan (bangkrut) di masa pandemi ini. Selain menggunakan cara yang pertama, bisa juga dengan cara menerapkan sistem, SOP atau rules dalam organisasi tersebut yang secara tidak sadar itu dapat mencegah risiko terjadinya dampak yang cukup merugikan bagi organisasi tersebut (Implisit). Baik dengan cara implisit maupun dengan cara ekspilist penerapan manajemen risiko harus dilakukan dengan cara sadar dan sistematis agar dapat lebih efektif dalam mengatasi risiko yang ada.