Header Ads

Dampak Dosa Kecil Terhadap Kualitas Hafalan Al-Quran

Dampak Dosa Kecil Terhadap Kualitas Hafalan  Al-Quran

Syifatiani Kurnia
Universitas Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Sebi Sawangan, Depok


Dampak Dosa Kecil Terhadap Kualitas Hafalan  Al-Quran


Menjadi penghafal Alquran adalah keinginan semua umat islam. Tentu saja karena diketahui keutamaannya yang sangat banyak di dunia maupun di akhirat. Ada sejumlah hadis yang menyebutkan sejumlah keutamaan menghafal Alquran, misalnya seperti yang diriwayatkan dalam hadis Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Aisyah RA: 

“Orang yang hafal Alquran dengan baik akan bersama malaikat. Sementara yang menghafal dan bacaannya terbata-bata juga akan mendapatkan pahala.” 

Adapun keutamaan-keutamaan menjadi penghafal Alquran di antaranya adalah menjadi golongan manusia terbaik. Berdasarkan hadis riwayat Bukhari, dari Utsman, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah yang menghafal Alquran dan mengamalkannya.” 

Selain itu, para penghafal Alquran juga akan mendapatkan syafa’at kelak di akhirat. Sebab, dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda bahwa Alquran bisa memberikan syafa’atnya atau pertolongan kepada pemiliknya.  

Dengan menghafal Alquran hidup juga akan lebih terorganisir dan tertata. 

Namun, dapat kita lihat bahwa sekarang ini, banyak penghafal Alquran yang menganggap remeh terhadap perbuatan maksiat dan dosa kecil. Padahal Alquran akan sulit melekat pada ahli maksiat. 

Imam Syafi’i berkata, “Aku pernah mengadu kepada Imam Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau mengarahkanku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan kepadaku bahwa ilmu adalah karunia. Dan karunia Allah tidaklah mungkin diberikan kepada ahli maksiat”. 

Seperti yang kita ketahui bahwasanya hafalan Alquran itu sangatlah sensitif. Dengan kata lain sangat mudah terlupakan dari ingatan penghafalnya. Banyak hal yang dapat berpengaruh terhadap kualitas hafalan Alquran. 

Salah satunya adalah melakukan perbuatan dosa, baik itu dosa kecil maupun dosa besar. Sudah seharusnya bagi penghafal Alquran agar menjaga diri dari perbuatan dosa, termasuk juga dosa kecil. 

Manusia adalah tempatnya kesalahan, sudah pasti akan melakukan kesalahan, namun Rasulullah saw. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang bertaubat”.  Kesalahan-kesalahan tersebut akan terampuni oleh suatu perbuatan yang dinamai taubat. 

Dampak Dosa Kecil Terhadap Kualitas Hafalan  Al-Quran


Pengertian dosa kecil

Dosa kecil adalah dosa yang tidak ada hukum atau hadnya di dunia. Tidak dilaknat oleh Allah dan rasul-Nya, dan tidak ada pernyataan bukan mukmin.  Dosa kecil juga dapat diartikan dengan dosa yang tidak tergolong kepada perbuatan dosa besar. Beberapa contoh sifat yang hanya boleh dimiliki Tuhan dan tidak boleh dimiliki makhluk dan jika makhluk memilikinya maka dianggap dia berdosa adalah: Takabur (Sombong). 

Meninggalkan dosa kecil bagi penghafal Alquran sangatlah dianjurkan untuk menjaga kualitas hafalan mereka. Seperti halnya kisah Imam Syafi’i, suatu hari beliau mengadu kepada gurunya, Imam Waki', tentang jeleknya hafalannya. Padahal Imam Syafi’i terkenal dengan hafalan yang luar biasa. Diriwayatkan dari Imam Syafi’i, ia berkata:

 "Aku telah menghafal Alquran ketika berumur 7 tahun. Aku pun telah menghafal kitab Al-Muwatho' ketika berumur 10 tahun. Ketika berusia 15 tahun, aku pun sudah berfatwa." Sungguh hebat hafalan beliau rahimahullah.

"Aku pernah mengadukan kepada Waki' tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat." (I'anatuth Tholibin, 2: 190).

Di dalam surat An-Nisa ayat 31, Allah berfirman:
“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa besar yang dilarang kamu mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” (QS. An-Nisa`: 31). 


Pengertian menghafal alquran

Menghafal Alquran merupakan usaha dengan sadar dan sungguh-sungguh yang dilakukan untuk mengingat dan meresapkan bacaan kitab suci Alquran yang mengandung mukjizat ke dalam pikiran agar selalu ingat, dengan menggunakan strategi tertentu. 

Adapun metode-metode menghafal Alquran adalah sebagai berikut:

  1. Thariqah Tasalsul, yaitu dengan cara menghafal ayat pertama hingga lancar, dilanjutkan dengan menghafal ayat kedua hingga lancar, kemudian mengulang dari ayat pertama hingga ayat kedua hingga dianggap lancar, dilanjutkan dengan menghafalkan ayat ketiga, begitu seterusnya.
  2. Thariqah Jam’i, yaitu dengan cara menghafal ayat pertama hingga dianggap lancar, dilanjutkan dengan ayat ke dua, ayat ketiga, hingga mencapai akhir dari ayat yang ingin dihafalkan, kemudian mengulanginya beberapa kali dari awal hingga akhir sampai dianggap lancar.
  3. Thariqah Muqassam, yaitu membagi ayat menurut makna, kemudian menuliskan hasil hafalannya itu ke atas kertas. Dan memberi setiap yang dihafal dalam subjudul, kemudian dihafalkan secara kumulatif dan digabungkan.

Dampak dosa kecil terhadap kualitas hafalan Alquran

Seseorang yang melakukan perbuatan maksiat kepada Allah, sebenarnya ia sedang melupakan pengamalan isi kandungan Alquran. Sebab menghafal Alquran bukanlah sekadar menjaga huruf-huruf, kalimat-kalimat dalam ingatan saja, melainkan dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sebagaimana terdapat dalam Alquran. 

Sangat dianjurkan bagi penghafal Alquran untuk menjaga hafalannya, salah satunya dengan cara mencegah diri melakukan dosa, termasuk dosa kecil. Karena Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa hafalan Alquran itu akan lebih cepat terlepas dari pada ikatan unta. Pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh dosa kecil terhadap kualitas hafalan adalah:

a. Maksiat hati berpengaruh pada berkurangnya minat belajar Alquran

   Seperti ria, ‘ujub, ragu kepada Allah, merasa aman dari siksa Allah, putus asa dari rahmat Allah, takabbur kepada hamba Allah, dan masih banyak lagi. 

b. Maksiat mata dapat menjauhkan indera visual dari Alquran

Seperti melihat perempuan atau laki-laki yang tidak halal, melihat aurat, melihat orang muslim dengan menghinakannya, dan masih banyak lagi. 

Apabila hati seseorang bersih, maka maksiat mata dapat dihindarinya. Al-Ba’lawi menegaskan keharaman bagi seorang laki-laki melihat bagian tubuh wanita yang bukan mahramnya, begitu pula bagi wanita. Dalam segala bentuk, baik itu gambar, video, nyata, bahkan ilusi.

c. Maksiat lisan berpengaruh menjauhkan gustatory dari Alquran

       Seperti ghibah, adu domba, sumpah palsu, berbohong, mengutuk, memaksa, mengolok-olok, menghina, dan masih banyak lagi.

d. Maksiat telinga dapat menjauhkan kepekaan auditory dari Alquran

     Seperti mendengarkan rahasia atau aib orang lain, suara musik yang melalaikan zikir, suara ghibah dan lain sebagainya. Pikiran yang terngiang-ngiang pada ingatan tentang maksiat akan menyulitkan menyimpan hafalan dalam bentuk auditory.

Namun, dalam beberapa kasus, adapula penghafal Alquran yang juga melakukan dosa kecil. Namun, sama sekali tidak berpengaruh terhadap kualitas hafalan Alquran mereka, dengan kata lain kualitas hafalan mereka tetap baik-baik saja. 

Hal tersebut dikarenakan memang ada sebagian pengahafal Alquran yang mempunyai daya ingat yang kuat, atau pun seringnya seorang penghafal Alquran mengulang hafalannya. 

Pada kasus lain pula, bagi penghafal Alquran yang melakukan dosa kecil tidak berpengaruh negatif terhadap kualitas hafalan Alqurannya. Hal itu disebut istidraj, yaitu Allah memberikan dunia kepada seorang hamba, ia hanya bersenang-senang saja namun pada hakikatnya Allah sudah tidak peduli padanya.  

Sudah seharusnya kita sangat berhati-hati dengan kasus seperti ini. Hendaknya kita mengingat kembali tujuan awal dari menghafal Alquran bukan sekadar untuk menyudahi hafalan 30 juz. Namun yang terpenting adalah untuk mencari ridha dan mendapatkan karunia Allah. Karunia Allah tidak akan datang pada orang yang bermaksiat seperti yang dikatakan Imam Syafi’i di atas. 


Menghindari Dosa Kecil dan Menjaga Kualitas Hafalan Alquran

Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk senantiasa menjaga diri dari perbuatan dosa atau maksiat. Salah satunya adalah dengan cara memperbanyak melakukan kebaikan. Sebab, kebaikan dapat menghilangkan keburukan. 

Salat adalah salah satu kebaikan yang dapat menghilangkan keburukan. Seperti firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surat Hud ayat 114, “Sungguh perbuatan yang baik itu menghapus perbuatan-perbuatan yang buruk.”

Adapun cara-cara lainnya yang dapat kita lakukan adalah senantiasa meminta pertolongan kepada Allah, menghindari lingkungan yang penuh dosa, mengetahui konsekuensi dari dosa tersebut, senantiasa mengisi dan memenuhi pikiran dengan mengingat Allah, dan segera bertaubat ketika khilaf.

Adapun hal-hal yang dapat kita lakukan untuk menjaga kualitas hafalan kita adalah dengan cara mengulang hafalan ketika salat fardu maupun salat sunah, meluangkan waktu untuk mengulang hafalan, mendengarkan murottal Alquran, memotivasi diri, dan yang paling penting adalah menjaga diri dari perbuatan dosa, tidak hanya dosa besar namun juga dosa kecil. 

Dosa kecil juga dapat menjadi dosa besar pada kondisi tertentu, seperti yang sudah dijelaskan oleh penulis di atas.

Menghafal Alquran adalah hal yang sangat mulia dan sangat diimpi-impikan oleh umat islam, sangat banyak keutamaan menjadi penghafal Alquran, baik di dunia maupun di akhirat. Sudah seharusnya bagi penghafal Alquran untuk senantiasa menjaga kualitas hafalan mereka karena sangatlah berdosa bagi penghafal Alquran yang tidak bisa menjaga hafalannya. 

Para penghafal Alquran dapat menjaga kualitas hafalan mereka salah satunya dengan menjaga dirinya dari perbuatan maksiat atau perbuatan dosa, baik itu dosa besar maupun dosa kecil. Perbuatan maksiat atau perbuatan dosa sangatlah berpengaruh negatif terhadap kualitas hafalan Alquran.

Melalui tulisan ini, besar harapan agar kita senantiasa lebih memerhatikan perkara perbuatan maksiat dan perbuatan dosa. Serta tidak menganggap remeh akan hal tersebut, karena begitu banyak dampak negatifnya terhadap kualitas hafalan Alquran.




DAFTAR PUSTAKA
  • Akhum, Nafan. 2019. Al-Qur’an Terjemah. Jakarta: Nafan Akhum. 
  • Al-Adawy, Syaikh Mustafa. 2013. Melatih Anak untuk Taat Beribadah Sejak Dini. Jakarta: Qisthi Press.
  • Al-Jauziyyah, Muhammad Ibn Abi Bakr Ibnu Qayyim. 2003. Penawar Hati Yang Sakit. Jakarta:  Gramedia.
  • Al-Audah, Syaikh Salman. 2015. Bersama Sang Nabi.  Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
  • Gulen, Muhammad Fethullah. 2013. Cahaya Abadi Muhammad saw. Jakarta: Republika Penerbit.
  • HR. Al-Bukhari, Fath al- Bari, 9/74, dari Usman, hadis marfu’
  • Nur, Subhan. 2012. Energi Ilahi Tilawah Al-Qur’an. Jakarta: Republika Penerbit. 
  • Ramadan, Askar. 2020. Itsar edisi Januari. Surabaya: Askar Ramadhan Volunteer. 
  • Sya’rawi, M. Mutawalli. 2000.  Dosa-dosa Besar. Bandung: Gramedia. 
  • Wahidi, Ridhaul dan M. Syukron Maksum. 2013.  Beli Surga dengan Al-Qur’an. Jakarta: Medpress Digital.