Header Ads

Kutukan Banjir Kali Citarum Tak Lagi Lima Tahun Sekali

Kutukan Banjir  Kali Citarum  Tak Lagi Lima Tahun Sekali


Oleh Dedi Kurniawan, S. Sos

Kutukan Banjir  Kali Citarum  Tak Lagi Lima Tahun Sekali

Saban tahun jika memasuki pergantian tahun masalah selalu terjadi di sekitar wilayah hilir Kali Citarum. 

Wilayah hilir ini terdiri dari empat Kecamatan yaitu Kecamatan Pebayuran, Cabang Bungin, Pebayuran dan Muara Gembong di Kab. Bekasi Jawa Barat. Persoalannya selalu sama, banjir rutin yang menggenangi daerah tersebut. 

Jika di rumut dari hasil pengamatan titik lokasinya, kampung yang terendam selalu sama karena kampung tersebut letaknya tak jauh dari Das dan hanya dibatasi dengan tanggung penahan yang berupa tanah maupun pasir kecoklatan lazim disebut warga lokal sebagai tanah ladon. 

Puluhan milyar anggaran telah dihabiskan oleh Pemkab maupun Pemprov namun tak bisa menunjukan hasil yang maksimal.  

Proyek abadi


Keadaan bukannya malah membaik dan cenderung memburuk terkait tanggulnya yang senantiasa jebol terhempas oleh derasnya debit air pada saat hujan terjadi di wilayah hulu yaitu Bandung sampai Purwakarta. 

Dan lagi- lagi, Pemerintah mencoba menenangkan rakyat dengan membuat tanggul kembali menggunakan alat berat. 

Tanpa kajian yang terfokus menggunakan hukum alam dan terus mengandalkan ilmu teknik sipil, maka masalah justru semakin membesar dan itu adalah sebuah proyek besar mirip jalur Pantura yang selalu jadi bancakan setiap kali menyambut Idul Fitri.

Belajar dari sejarah


Kali Citarum adalah pusat peradaban masyarakat sunda. Di Kali ini semua peradaban pernah berdiri dan merupakan pusat perekonomian yang maju pada masanya. 

Para leluhur sangat arif mengelola tanpa dibekali dengan teknik dari teori Barat. Dengan hanya mengandalkan pepatah yang senantisa mereka pegang teguh "Leuweung ruksak, cai beak, manusa balangsak (Jika hutan dirusak, air tidak ada, kita sendiri nantinya yang akan sengsara). 

Sebagai buktinya peradaban mereka maju hidup selama ratusan tahun. Karena para leluhur kita sangat peduli dengan hutan yang di hulu dan pohonan pada garis sempadan sungai Citarum tersebut Yang pada akhirnya membuat urat nadi perekonomian masyarakatnya berkembang selaras dengan alamnya. 

Kondisi hari ini Kali Citarum


Sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat ini merupakan icon tersendiri bagi rakyatnya. Dengan panjang 300 km, lebar 50-70 meter dan kedalaman 1.5 sampai 4 meter, tergolong sebagai Kali Alam Primer yang memiliki anak sungai dengan jumlah puluhan dan sebenarnya itu adalah asset yang tak ternilai bagi keberlangsungan jutaan warganya. 

Ada tiga waduk raksasa yang mengatur debit airnya dan digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik raksasa yaitu Waduk Saguling, Jatiluhur dan Cirata. Di lain hal, tujuan pendirian Waduk tersebut mempunyai fungsi utama irigasi teknis pertanian yang sekarang berubah fungsi sebagai pemenuhan baku air minum bagi 12 juta warga Ibukota Jakarta. 

Sempat mendapat julukan dari Dunia sebagai "the most dirtiest river in the world" atau Sungai terkotor di Dunia, namun telah dijawab dengan Program Nasional Citarum Harum dari tercemar berat menjadi tercemar ringan. 

Maklum, Ada lebih dari 500 Perusahaan yang berdiri di sepanjang Kali Citarum dan dan memperoleh izin dengan mudahnya. Rata rata jenis perusahaan tekstil yang tergolong serakah mengeksploitasi air, dan jumbo dalam membuang hasil residu cair sisa pencelupan pewarna kimia kainnya. Maka tak heran, endemik ikanya telah punah sejak 15 yang lalu. 

Butuh pemikiran out the box agar mata air Kali Citarum tak lagi menjadi air mata. 

Cara Konvensional terbukti tak cukup efektif, dan jawabannya adalah belajar dari filosopis leluhur kita, demi menjaga Kali Citarum yang disebabkan karena si "Miskin menduduki Das karena kemiskinannya, si Kaya merampok Das hutan demi memenuhi pundi pundi kekayaannya". 

Penulis adalah Direktur Kajian Strategis #bambufoundation.