Header Ads

Dampak Masih Maraknya Alat Kesehatan Import Beredar, Karyawan Pabrik Alat Kesehatan Lokal Dirumahkan

Dampak Masih Maraknya Alat Kesehatan Import Beredar, Karyawan Pabrik Alat Kesehatan Lokal Dirumahkan

Cikarang - wajahbekasi.com, Sekitar ribuan karyawan pabrik PT. STM sebagai produsen alat kesehatan lokal seperti alat swab antigen, melakukan aksi demo pada Rabu (17/11/2021) di depan halaman pabrik, PT. Sri Tita Medika, Jl. Inspeksi kali malang, Kp. Paparean Rt.008/005 Desa.Pasir Tanjung Kec. Cikarang Pusat. Kab. Bekasi

Para karyawan menyuarakan aspirasi terkait kesejahteraan mereka dalam bekerja yang semakin menurun, atau bahkan banyak dari mereka terpaksa dirumahkan menyusul kondisi perusahaan yang terus merugi akibat kurangnya pendistribusian alat kesehatan yang sudah diproduksi. 

Hal itu terjadi karena masih maraknya alat swab antigen import di pasaran. 

"Kami mohon kepada pihak manajemen perusahaan untuk memperhatikan nasib kami kedepannya dan juga teman-teman kami yang sudah dirumahkan. Selain itu, Kami juga menghimbau pihak - pihak terkait, terutama kepada bapak presiden Joko Widodo untuk membantu dan memperhatikan nasib Kami sekarang ini agar menjadi lebih baik dengan lebih mengutamakan produksi alat kesehatan dalam negeri ketimbang alat kesehatan import," kata Owi Indra Sebagai perwakilan dari karyawan PT. STM.

Di lain sisi, pihak manajemen tidak memungkiri kalau kondisi perusahaan memang sedang terpuruk menyusul susahnya pendistribusian alat kesehatan berupa alat swab antigen karena masih banyaknya barang import yang tersebar di pasaran. 

Oleh karenanya, pihak perusahaan juga menyampaikan dan menghimbau pemerintah untuk menstop masuknya produk import dan lebih mengutamakan alat kesehatan dalam negeri. Hal ini perlu disampaikan oleh Heru karena dirinya menemukan di beberapa perusahaan di bawah BUMN  masih menggunakan alat swab antigen import. 

"Saya memohon kepada bapak Presiden  untuk meperhatikan dan memberikan instruksi kepada yang di bawah untuk memetahui peraturan terkait penggunaan produk dalam negeri yang tertuang dalam Kepres nomor 12/2021 dan nomor 15/2021. Hal ini perlu dilakulan agar penggunaan produk-produk lokal bisa lebih diperhatikan lagi dan dijalani di lapangan," ujar Heru Purnomo, General Manager PT. Sri Tita Medika.

Pak Heru menambahkan, untuk produk lokal sendiri sekarang ini sebetulnya sudah sanggup memenuhi kebutuhan alat swab antigen dalam negeri. Menurut Heru, PT. Sri Tita Medika sendiri bahkan bisa memenuhi kebutuhan alat swab antigen nasional sebanyak 25 juta per bulan. 

Namun karena kurangnya penggunaan alat swab dalam negeri, bahkan lebih mengutamakan produk import, maka dalam beberapa bulan terakhir pihak perusahaan PT. Sri Tita Medika harus memangkas gaji  dan juga jumlah karyawan. 

"Kita tidak butuh subsidi dari pemerintah karena kami masih sanggup membiayi produksi yang dibutuhkan. Namun yang kami butuhkan sekarang adalah pasar yang adil bagi kami dalam mendistribusikan alat swab antigen yang kami produksi. Makanya, apabila tidak adanya pasar yang adil bagi dalam mendistribusikan produk kami, maka masalah itu akan berbuntut pada kesejahteraan karyawan, karena mau tidak mau kami harus memangkas gaji dan merumahkan beberapa karyawan karena kondisi finansial perusahaan perlu diselamatkan," ucap Heru.

Heru juga menegaskan bahwa regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah sebetulnya sudah baik. Namun memang dalam pelaksanaannya di lapangan, tidak sesuai dengan regulasi yang telah dibuat dan diarahkan. "Harapan kami, semoga regulasi yang telah ditentukan bisa berjalan dengan semestinya agar produk buatan dalam negeri bisa diutamakan dan digunakan," tutup Heru. (Y2n)