Header Ads

Urgensi Penerapan Akuntansi bagi Keuangan Masjid

Urgensi Penerapan Akuntansi bagi Keuangan Masjid

Jajang

nurjamanjajang581@gmail.com

Mahasiswa Prodi Akuntansi Syariah STEI SEBI 2021


Urgensi Penerapan Akuntansi bagi Keuangan Masjid

Masjid merupakan tempat peribadatan bagi umat Islam. Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas umat Islam, memiliki banyak masjid yang tersebar di berbagai daerah. Dikutip dari Republika, penanggung jawab SIMAS (Sistem Informasi Masjid)  Kemenag RI, Fachrie Affan, menjelaskan bahwa terdapat 741.991 masjid dan mushalla di Indonesia. Data tersebut dicatat manual yang diperoleh secara berjenjang mulai dari Kantor Urusan Agama (KUA) di tiap daerah. Populasi muslim yang besar di Indonesia menyebabkan jumlah masjid yang banyak pula, sebagai pemenuhan tempat beribadah.

Masjid pertama yang dimiliki umat Islam adalah masjid Quba yang terletak di Madinah. Masjid tersebut didirikan oleh Nabi Muhammad SAW. Sejak saat itu, masjid menjadi tempat yang sangat penting bagi umat Islam, menjadi pusat kegiatan keagamaan, pendidikan, pusat pertemuan dan lain-lain. 

Hentika (2016) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa terdapat lima fungsi masjid; 

  1. masjid sebagai tempat pemenuhan rohani umat Islam, 
  2. masjid menjadi tempat penyelesaian masalah di bidang sosial melalui kegiatan yang bersifat memberi bantuan kepada masyarakat, 
  3. masjid mempunyai potensi yang kuat di bidang pendidikan, 
  4. masjid mempunyai potensi ekonomi jika zakat, infak dan sedekah dari umat dikelola dan disalurkan untuk membantu usaha produktif masyarakat, pendirian lembaga syariah, dan koperasi, 
  5. masjid dapat membentuk karakter masyarakat menjadi lebih baik.

Urgensi Penerapan Akuntansi bagi Keuangan Masjid

Dalam menjalankan operasional, aktivitas, dan fungsinya, masjid tentu membutuhkan aliran dana. Masjid merupakan salah satu organisasi sektor publik yang tergolong dalam organisasi nirlaba (non profit oriented) di mana sumber daya yang dimilikinya berasal dari masyarakat secara sukarela dan ikhlas. Sumber dana yang diperoleh masjid dapat berasal dari kotak amal masjid, donasi, zakat, infak dan sedekah dari masyarakat. 

Masjid memperoleh sumber daya dari masyarakat. Oleh sebab itu, masjid harus membuat laporan keuangan yang transparan sebagai wujud pertanggung jawaban atas pengelolaan sumber daya tersebut. Masjid seringkali mengelola dana yang sangat besar yang berasal dari masyarakat, mencapai miliaran atau bahkan lebih. 

Namun, dana tersebut belum tentu disajikan dalam laporan keuangan yang sesuai standar. Selain itu, masih jarang sekali dilakukan audit terhadap laporan keuangan masjid, sehingga kecurangan mungkin saja terjadi.

Menurut Sarwan et al. (2020) banyak permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan dana masjid, terutama masalah akuntabilitas dan transparansi. 

Dalam mempertanggungjawabkan pengelolaan dana, diharapkan terdapat akuntabilitas dan transparansi agar pemberi sumber daya mengetahui bahwa sumber daya yang diberikan digunakan dengan baik. Akuntabilitas dan transparansi dalam pelaporan keuangan masjid dapat menjadi kunci sukses dalam upaya menjaga kelangsungan dan kemakmuran masjid. 

Selain itu, sebagai muslim maka terdapat dua akuntabilitas yang harus diwujudkan pengurus masjid, yaitu akuntabilitas vertikal (pertanggung jawaban kepada Allah SWT) dan akuntabilitas horizontal (pertanggung jawaban kepada masyarakat). Dengan pelaporan keuangan yang baik maka dua akuntabilitas tersebut diharapkan dapat terwujud.

Penerapan akuntansi pada keuangan masjid merupakan akuntanbilitas dan transparansi yang mampu mengurangi kesenjangan informasi antara pengurus masjid dengan masyarakat. Kesadaran akan pengetahuan praktik akuntansi sangat penting bagi pengurus masjid sehingga dapat memastikan bahwa keuangan masjid dicatat dengan benar. 

Penyajian laporan keuangan entitas berorientasi nirlaba diatur dalam ISAK 35 tentang Penyajian Laporan Keuangan Entitas Berorientasi Nirlaba, dimana pengguna laporan keuangan entitas yang berorientasi pada nirlaba umumnya memiliki kepentingan untuk menilai cara dan tanggung jawab manajemen dalam mengelola sumber daya. Pencatatan laporan keuangan masjid dapat mengacu pada ISAK 35.

Fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa kebanyakan masjid hanya mencatat dan melaporkan kas masuk dan kas keluar saja. Masjid tidak melakukan pencatatan inventarisasi terhadap harta yang dimilikinya sehingga nilai ekonomis dari masjid tidak dapat diketahui dengan baik. 

Hal ini dapat menimbulkan terjadinya penyelewengan dana masjid, sehingga masyarakat tidak percaya lagi kepada pengurus masjid. Selain itu, kecurigaan bisa timbul di kalangan masyarakat. 

Saat ini, masih banyak masjid yang mebuat laporan keuangan dengan format tertentu tanpa memerhatikan standar laporan keuangan. Padahal masjid merupakan entitas pelaporan akuntansi yang menggunakan dana masyarakat sebagai sumber keuangannya, dalam bentuk sumbangan, sedekah atau bentuk bantuan sosial lainnya yang berasal dari masyarakat (publik). Karena itu, sebagai bagian dari entitas publik, masjid mempertanggungjawabkan semua aktivitasnya kepada publik. 


Referensi 

Republika. (2021). Berapa Jumlah Masjid dan Mushala di Indonesia? Ini Datanya. Retrieved from https://www.republika.co.id/berita/qqprju483/berapa-jumlah-masjid-dan-mushala-di-indonesia-ini-datanya 

Hentika, N. P. (2016). Menuju restorasi fungsi masjid: analisis terhadap handicap internal takmir dalam pengembangan manajemen masjid. Jurnal Manajemen Dakwah, 2(2), 161–177.

Sarwan, Pratiwi, D., & Alfian. (2020). Accountability and transparency of fund management of baiturrahman mosque in west sumatra. Journal of Critical Reviews, 7(13), 1070–1074. https://doi.org/10.31838/jcr.07.13.181