Header Ads

DAMPAK COVID – 19 terhadap KETAHANAN EKONOMI KELUARGA

DAMPAK COVID – 19 terhadap KETAHANAN EKONOMI KELUARGA 

(Penulis: Savira Radanti, Mahasiswi STEI SEBI)

DAMPAK COVID – 19 terhadap KETAHANAN EKONOMI KELUARGA



Kasus virus covid-19 yang tak kunjung berakhir hingga saat ini membuat dunia harus siap tidak siap mulai mebiasakan pada kondisi new normal. Sehingga imbas dari pandemik ini sangat berdampak kepada seluruh lapisan masyarakat, sektor formal, informal, pejabat, maupun rakyat kecil. 

Pandemi ini juga menyebabkan timbul berbagai permasalahan pada negara di penjuru dunia salah satunya seperti resesi. Banyak berbagai kebijakan yang di lakukan oleh setiap negara untuk menurunkan lonjakan covid-19 ini. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan dalam upaya menurunkan kasus lonjakkan covid-19 ini. Mulai dari  physical distancing, social distancing, PSBB biasa maupun PSBB darurat berlevel, serta lockdown, namun belum membuahkan hasil yang nyata untuk mengatasi pandemik covid-19 ini.

Dampak dari berbagai kebijakan yang dilakukan tersebut berdampak kepada kebiasaan masyarakat salah satunya berdampak kepada kebiasaan perekonomian masyarakat. Dampak  kebijakan tersebut yang bertujuan untuk menghindari kerumunan dan berlakunya #dirumah aja tersebut membuat perekonomian masyarakat tersendat terutama dibidang rumah tangga, UMKM, dan lain-lain. 

Akibatnya Satu dari lima keluarga melakukan pengurangan porsi makan sebagai dampak dari pandemi. Hal ini salah satunya didasari oleh pendapatan ekonomi keluarga yang menurun. Hal ini adalah salah satu temuan dari survey yang dilakukan oleh Prof. Dr. Euis Sunarti, M.Si terhadap lebih dari 2000 orang. 

Kenyataan ini sangat memprihatinkan mengingat lemahnya ketahanan ekonomi keluarga dalam bertahan menghadapi wabah berpeluang akan menimbulkan banyak persoalan baru antara lain, kemiskinan, masalah kesehatan mental, kekerasan dalam rumah tangga,kriminalitas, gizi buruk dan lain-lain. Berbicara terkait ketahanan keluarga tidak bisa lepas dari persoalan individu-individu manusia dalam mempertahankan eksistensinya apalagi dimasa pandemic seperti ini sangat diperlukan. 

Aspek ekonomi dalam ketahanan ekonomi sangat berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi yang meliputi produksi, distribusi serta konsumsi barang dan jasa sehingga upaya meningkatkan taraf hidup masyarakat secara individu maupun kelompok tercapai. Ini dimulai dengan membangun ketahanan ekonomi keluarga.

Kualitas sebuah bangsa dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusianya. Keluarga merupakan institusi pertama tempat sumber daya manusia dilahirkan , diasuh dikembangkan dan didik untuk menjadi manusia Indonesia seutuhnya yang tidak hanya cerdas secara fisik (intelektual) tetapi juga cerdas secara emosi, rohani dan spiritual. Menurut KBBI Ketahanan keluarga adalah kekuatan ( hati,fisik): kesabaran. 

Aspek ekonomi dalam ketahanan ekonomi sangat berkaitan erat dengan pemenuhan kebutuhan konsumsi yang meliputi produksi, distribusi serta konsumsi barang dan jasa sehingga upaya meningkatkan taraf  hidup masyarakat secara individu maupun kelompok tercapai. Hal ini dimulai dengan membangun ketahanan ekonomi keluarga.  Menurut badan koordinasi keluarga berencana nasional (BKKBN), sejalan dengan peraturan pemerintah No.21 tahun 1994, fungsi keluarga meliputi:

  1. Fungsi keagamaan, yaitu dengan memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama.
  2. Fungsi sosial budaya, dilakukan dengan membina sosialisasi pada anak, membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
  3. Fungsi cinta kasih, diberikan dalam bentuk memberikan kasih saying dan rasa aman, serta memberikan perhatian di antara anggota keluarga.
  4. Fungsi melindungi, bertujuan untuk melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindungi dan merawat anggota keluarga.
  5. Fungsi reproduksi , merupakan fungsi yang bertujuan untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak, memelihara dan merawat anggota keluarga.
  6. Fungsi sosialisasi dan pendidikan , merupakan fungsi dalam keluarga yang dilakukan dengan cara mendidik anak sesuai dengan tingkat perkembangannya, dan menyekolakan anak. Sosialisasi dalam keluarga juga dilakukan untuk mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik.
  7. Fungsi ekonomi, adalah serangkaian dari fungsi lain yang tidak dapat dipisahkan dari sebuah keluarga. Fungsi ini dilakukan dengan cara mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa dating.
  8. Fungsi pembinaan lingkungan.

Selain itu BKKBN dan Kementerian PPPA (BPS & PPPA, 2016, hal. 79-100) menjelaskan dimensi dalam mengukur ketahanan ekonomi, antara lain:

  1. Tempat tinggal, diukur berdasarkan status kepemilikan rumah, yaitu: a)Milik sendiri, b) Mengontrak/sewa, c) Menumpang (bebas sewa), d)Rumah dinas.
  2. Pendapatan keluarga, diukur dengan indikator: a) Pendapatan perkapita  keluarga. Semakin tinggi pendapatan perkapita, maka ketahanan ekonomi keluarga menjadi lebih baik. b) Kecukupan pendapatan keluarga yang diukur berdasarkan persepsi subjektif kepala rumah tangga terkait kecukupan pendapatan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Persepsi subjektif ini menitikberatkan pada kepuasan rumah tangga atas pendapatan yang didapat. Asumsinya semakin tinggi penghasilan maka semakin puas rumah tangga tersebut akan kondisi ekonominya.
  3. Pembiayaan pendidikan anak yang diukur melalui dua indikator, yaitu: a) Kemampuan pembiayaan pendidikan anak usia 7-18 tahun; b) Keberlangsungan pendidikan anak berdasarkan persentase keluarga yang memiliki anggota keluarga yang putus sekolah pada rentang usia 7-18 tahun akibat tidak menyelesaikan pendidikan maupun yang tidak sekolah.
  4. Jaminan keuangan keluarga yang diukur melalui dua indikator, yaitu: a) Tabungan keluarga. b) Jaminan kesehatan keluarga berdasarkan kepemilikan asuransi kesehatan atau lainnya minimal satu anggota keluarga.

Dari berbagai definisi di atas tergambar bahwa cakupan dari konsep ketahanan keluarga sangat luas. Dimulai dari pemeliharaan  kebutuhan fisik, nilai-nilai prilaku, tata tertib, moral, motivasi, reproduksi dan sumber daya yang dimiliki seluruh anggota keluarga dan pembagian tugas bersama menjadi peran penting untuk mengukuhkan keluarga.

Saat ini dimasa pandemic covid-19 ini terdapat ancaman kebutuhan pokok keluarga. Ancaman ini menjadi salah satu indicator  kerentanan keluarga yang dapat berakibat pada krisis. Pandemic covid-19 saat ini menciptakan berbagai kecemasan dalam keluarga. Mulai dari cemas akan terpapar virus corona sebesar 77,7% dan kecemasan akan kondisi ekonomi sebesar 57,7%. Meski demikian, dalam surveynya Euis Sunarti menemukan bahwa sebagian besar keluarga yakin akan kemampuannya untuk bangkit dari segala disrupsi akibat Covid-19.

Dalam beberapa hal, pandemi Covid-19 memperluas kerentanan dan meningkatkan potensi krisis keluarga. Oleh karena itu lah perlu adanya antisipasi untuk menurunkan dan mencegah potensi krisis tersebut. Lalu bagaimana caranya? 

Menurut Euis Sunarti, diperlukan empat hal dalam melakukan ketahanan keluarga, yaitu “Ketahanan fisik ekonomi, ketahanan sosial, ketahanan psikologis, dan yang tak kalah penting adalah kelentingan keluarga”.

Masa pandemi menuntut keluarga berpikir ulang dalam mengelola keuangan keluarga sehingga ketahanan ekonomi tetap dapat terjaga menurut Prita H. Ghozie,  antara lain : 
  1. Mengevaluasi sumber pendapatan dengan cara membagi anggaran rumah tangga menjadi tiga pos, yaitu living, saving dan playing 
  2. Mengatur ulang budget rumah tangga dengan cara memprioritaskan kebutuhan utama; 
  3. Menyiapkan dana darurat; 
  4. Mempertimbangkan untuk menjual barang-barang yang bersifat tersier dan jarang digunakan serta pertimbangkan opsi gadai untuk keperluan dana darurat; 
  5. Mencari kegiatan yang bersifat minim modal, misalnya mengikuti kelas online pada media IG, atau Whatsapp secara gratis; dan 
  6. Menunda pembelian secara cicilan.