Header Ads

Batasan Praktis Manajemen Risiko

Batasan Praktis Manajemen Risiko

Penulis: Sabrina Indah Larasati, Mahasiswi STEI SEBI

Batasan Praktis Manajamen Risiko

Manajemen risiko tidak akan menghasilkan keajaiban. Namun, hal itu dapat mepersiapkan kita untuk mengurangi jumlah  kejutan yang kita temui dalam upaya kerja kita dan mempersiapkan kita untuk untuk menangani peristiwa yang tidak diinginkan yang muncul.

Terdapat beberapa Langkah-langkah untuk memahami apa yang dapat dan tidak dapat di lakukan manajement resiko : 

Pertama, Rencanakan Risiko upaya membahas perencanaan. Seperti, siapakah yang akan bertanggung jawab.

Kedua, Mengidentifikasi Resiko, mengidentifikasi peristiwa secara sistematis. Dengan melakukan memeriksa daftar peristiwa risiko, melakukan brainstorming dalam kelompok, dan menggunakan berbagai alat analisis yang berfokus pada kerentanaan risiko. Dan dalam mengidentifikasi, tidak bisa terlalu spesifik seperti tanggal penetapan suatu resiko. 

Ketiga, Meneliti dampak risiko, baik kualitatif maupun kuantitatif. Memeriksa konsekuensi dari hal hal buruk yang terjadi. Contonya, dampak negative apa yang akan tejadi jika peristiwa risiko x berlangsung. Jika peristiwa x tersebut memiliki dampak yang tinggi, maka peristiwa x menjadi prioritas utama. 

Keempat, Mengembangkan strategi penanganan resiko, membuat persiapan untuk menangani dampak risiko yang buruk.

Dari penengertian di atas, mengartikan bahwa manajemen risiko memiliki Batasan dalam menganalisis. 

Contohnya adalah manajemen risiko tidak dapat menyimpulkan suatu kejadian risiko dengan spesifik. Seperti pada tanggal berapa tidak akan adanya kemacetan. Tetapi adanya manajemen risiko ini dapat berfungsi untuk minimalisirkan jumlah kejutaan yang tidak diinginkan

Bagaimana menjelaskan upaya manajemen risiko?


Dalam menjalankan manajemen risiko terdapapat beberapa faktor yang harus diperhatikan. yang pertama adalah berapa banyak informasi berkualitas baik yang tersedia. Informasi yang baik dan kaya akan memudahkan dalam menganalisis sebuah manajment risiko. dan informasi yang tidak baik atau informasi palsu tidak dapat dipercaya kebenarannya. Selain informasi, pengalaman juga termasuk kategori informasi yang dapat dirasakan langsung. Dan banyaknya pengalaman yang dirasakan akan menambahkan informasi yang baik.

Selain informasi yang baik, manajemen risiko juga membutuhkan sebuah data. Data terbagi menjadi 2 bagian yaitu data analisis kuantitatif dan data analisis kualitatif

Apakah analisi kuantitatif lebih baik dari analisis kualitatif?


Menurut kesimpulan lord Kelvin. Bahwa , jika anda dapat menunjukan bahwa peristiwa risiko tertentu memiliki peluang 75% untuk terjadi, anda membuat pernyataan yang lebih bermakna dari pada anda menyatakan “ Menurut saya peristiwa tersebut, kemungkinan besar terjadi”. 

Pernyataan naratif secara inheren tidak jelas dan tunduk kepada interpretasi. Seringkali mereka tidak dapat diuji, sehingga sulit menentukan apakah mereka benar. 

Kesimpulan tersebut menyatakan bahwa data analisis  kuantitatif lebih baik dari data analisi kualitatif. Walaupun ada beberapa golongan yang mendapatkan kendala dari data analisi kuantitatif.

Setelah informasi dan data lengkap baru manajemen risiko dapat membuat solusi agar suatu peristiwa atau acara dapat berjalan lancar dengan meminilaisir jumlah kejutan yang tidak diinginkan.