Header Ads

WASPADA POTENSI CEDERA KETIKA BEROLAHRAGA

WASPADA POTENSI CEDERA KETIKA BEROLAHRAGA

Jakarta, 21 Agustus 2021 – wajahbekasi.com 
, Walaupun sedang berada di tengah pandemi, namun kita tidak boleh melupakan aktivitas berolahraga. Olahraga menjadi aktivitas penting yang dapat meningkatan imunitas dan kesehatan tubuh masyarakat, khususnya di tengah pandemi. Namun, banyak orang yang belum memahami potensi cedera yang dapat dialami ketika berolahraga serta bagaimana cara melakukan olahraga yang baik dan benar.

dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, Konsultan Sport Injury & Arthroscopy Primaya Hospital Bekasi Timur mengatakan bahwa banyak penyebab-penyebab cedera yang dapat terjadi namun seringkali tidak disadari oleh masyarakat diantaranya yaitu:
Pemanasan yang masih kurang atau tidak melakukan pemanasan.Penggunaan alat olahraga yang tidak sesuai.Gerakan berulang yang terlalu banyak, terlalu cepat, dan dalam waktu yang lama (overuse).
Otot yang lemah. 

WASPADA POTENSI CEDERA KETIKA BEROLAHRAGA
Lingkungan yang tidak tepat atau kurang baik dalam melakukan olahraga. 
Pengobatan yang tidak tuntas setelah injuri.Pelaksanaan fisioterapi pasca injuri yang tidak sesuai. 

“Kita perlu mewaspadai ciri-ciri awal cedera yang berpotensi diabaikan oleh seseorang seperti timbul nyeri, rasa tidak nyaman, atau mengalami bengkak yang hilang timbul. Ciri-ciri awal tersebut jika diabaikan dapat berdampak buruk pada proses penyembuhannya,” ujar dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, Konsultan Sport Injury & Arthroscopy Primaya Hospital Bekasi Timur.

Lebih jauh lagi, dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS menambahkan bahwa terdapat ciri-ciri cedera olahraga dengan gejala yang lebih berat yaitu timbulnya luka, kelainan bentuk pada anggota tubuh / deformitas (patah tulang), bengkak, atau bahkan hingga tidak bisa berjalan / beraktivitas saat olahraga berlangsung.

Jika seseorang mengalami ciri-ciri cedera yang telah dijelaskan sebelumnya, dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS, menganjurkan untuk melakukan penanganan dini cedera dengan langkah-langkah RICE sebagai berikut:
Rest (istirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera) Ice (berikan es untuk mengurangi bengkak)Compression (lakukan kompres dingin pada jaringan yang mengalami cedera) Elevation (meninggikan bagian yang cedera melebihi ketinggian jantung) Ketika berolahraga, terdapat bagian-bagian tubuh yang dapat berpotensi mengalami cedera diantaranya yaitu bagian tulang seperti patah tulang dan tulang yang retak  biasanya disebabkan oleh overuse pada pelari atau penari ballet). Selain tulang, cedera juga dapat terjadi pada bagian otot dimana terdapat risiko putusnya otot dan memar pada otot. 

WASPADA POTENSI CEDERA KETIKA BEROLAHRAGA

dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, Konsultan Sport Injury & Arthroscopy Primaya Hospital Bekasi Timur menambahkan bahwa cedera juga dapat terjadi pada bagian Ligament (jaringan yang menghubungkan satu tulang dengan tulang lainnya) dan pada bagian  Tendon (jaringan tebal yang
berfungsimenempelkan otot ke tulang). 

Kemudian, cedera apa saja yang harus diperiksakan langsung di rumah sakit bersama dokter? 
dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS  mengatakan bahwa semua jenis cedera harus diperiksakan ke dokter karena banyak jenis cedera yang dianggap biasa saja namun di kemudian hari akan menimbulkan masalah yang serius untuk anggota tubuh kita.

Seseorang yang mengalami cedera ketika berolahraga dapat mengunjungi Primaya Sport Clinic and Orthopedic Center. “Penanganan cedera ketika berolahraga di Primaya Hospital memiliki prinsip teamwork antara dokter, perawat, sports fisioterapi, dan pasien itu sendiri untuk mencapai kesembuhan yang optimal. Artinya, pasien tidak hanya sekedar sembuh, tapi pasien juga dapat kembali berolahraga,” ujar dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS. 

Penanganan cedera olahraga pada Primaya Sport Clinic and Orthopedic Center dilakukan secara holistik; mulai dari pemeriksaan Dokter Ortopedi Sub Spesialis Cedera Olahraga atau Dokter Spesialis Cedera Olahraga hingga pelaksanaan fisioterapi oleh sports physiotherapist yang menggunakan alat-alat fisioterapi terkini dan perlengkapan lengkap gym untuk membantu pemulihan bagian yang cedera  dengan tolak ukur strength, endurance, agility, proprioseptif, dan performance.  

Dalam proses penyembuhan, biasanya para dokter akan melakukan tindakan anamnesa (menggali dan mendengarkan mekanisme cedera pada pasien), melakukan pemeriksaan fisik, melakukan pemeriksaan tambahan (MRI, Rontgen, atau USG Musculoskeletal), serta melakukan assessment lainnya yang dibutuhkan. 

Jika kasus cedera yang terjadi tidak memerlukan operasi, maka dokter akan membuatkan program fisioterapi dan program olahraga (stretching dan strengthening) yang tepat untuk jenis cedera tersebut. 

Namun, jika diperlukan operasi, pasien dapat ditindaklanjuti dengan tindakan operasi yang didukung oleh peralatan terkini seperti Arthroscopy yang merupakan alat untuk melakukan tindakan pembedahan minimal invasif ke seluruh sendi. Pembedahan minimal invasif adalah tindakan operasi dengan luka sayatan yang sangat minimal (biasanya kurang dari 1 cm) yang memiliki banyak kelebihan seperti nyeri dan komplikasi yang minimal serta pasien dapat cepat kembali bergerak setelah operasi. 

“Cedera olahraga dapat dikatakan sembuh tergantung pada bagian tubuh yang mengalami cedera. Jika terjadi cedera pada tulang, maka pemulihan dapat dilakukan dalam waktu 6 bulan hingga 1 tahun.  Jika cedera terjadi pada otot atau Ligament, maka pemulihan dapat terjadi kurang lebih 6 minggu,” ujar dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, Konsultan Sport Injury & Arthroscopy Primaya Hospital Bekasi Timur.

Pada dasarnya, olahraga-olahraga yang dapat berpotensi besar menghasilkan cedera adalah olahraga yang membutuhkan pergerakan besar seperti basket, sepak bola, soccer, ice hookey, baseball, softball, atau voli. “Anda dapat memiliih olahraga yang low impact terhadap cedera seperti jalan kaki, berenang, yoga, atau e-sport,” ujar dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS.

Kemudian, bagaimana cara memilih olahraga yang tepat? dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS menjelaskan bahwa olahraga yang tepat adalah olahraga yang sesuai dengan kondisi tubuh kita. “Oleh karena itu, Primaya Sport Clinic and Orthopedic Center memiliki alat ukur tubuh manusia (Human Measurement Technology). Orang sehat yang hendak memulai atau melakuakan check up anatomi tubuhnya dapat dilakukan dengan alat ukur tersebut. Dengan kita mengukur anatomi tubuh, maka kita akan memperoleh jenis olahraga apa yang cocok sehingga dapat menimalisir terjadinya cedera,” ujar dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS. 

Untuk mencegah terjadinya cedera ketika berolahraga, dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS menghimbau agar masyarakat dapat melakukan istirahat dan pemanasan yang cukup sebelum berolahraga, menggunakan alat olahraga yang sesuai, ukur kemampuan tubuh ketika berolahraga karena anantomi tubuh kita berbeda denngan orang lain, serta pilih lingkungan yang tepat dan baik pada saat berolahraga. 

“Lakukan pola olahraga yang konstan tidak berubah-ubah misalnya cardio exercise seminggu 2 kali, strength exercise 2 kali seminggu, dan pola olahraga tersebut dilakukan rutin sampai bertahun-tahun,” ujar dr. Evan, M.Kes, Sp.OT(K), FICS, Dokter Spesialis Ortopedi dan Traumatologi, Konsultan Sport Injury & Arthroscopy Primaya Hospital Bekasi Timur. ( Are)