Header Ads

Perbedaan Antara Jual Beli dan Riba

Perbedaan Antara Jual Beli dan Riba

Penulis: Fajri Nurul Izzati mahasiswa STEI SEBI


Perbedaan Antara Jual Beli dan Riba

Transaksi jual beli dengan akad yang benar diperbolehkan dalam Islam, contohnya seperti untuk memenuhi keinginan dalam memiliki barang dan jasa serta untuk memenuhi hajat penjual dalam mendapatkan keuntungan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 275.

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya : “Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Ayat ini menjelaskan bahwa perbedaan antara penjual dan pembeli terletak pada kondisi pembeli dan peminjam,dikarenakan peminjam membutuhkan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya. Sedangkan pembeli melakukan transaksi jual beli karena mempunyai uang. Hal ini menunjukkan bahwa pembeli adalah orang yang berkecukupan, sedangkan peminjam adalah orang fakir. Oleh karena itu, Allah mengharamkan riba karena dapat mengeksploitasi hajat orang fakir dan sebaliknya Allah membantu orang yang membutuhkan dengan menghalalkan jual beli.

Riba merupakan transaksi yang diharamkan dalam Islam karena adanya pihak yang mengambil keuntungan berlipat ganda dari pihak lain dengan memaksakan kehendaknya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 130.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap aktivitas yang mengandung unsur riba diharamkan dalam Islam. Larangan riba dalam ayat ini bertujuan untuk mengajak manusia agar tidak mengambil hak milik orang lain dengan semena-mena dan menjauh dari praktik riba. Beberapa riba yang diharamkan dalam Islam adalah sebagai berikut :

1. Riba Qardh

Riba qardh merupakan riba yang terjadi pada transaksi utang piutang yang didalamnya terdapat keuntungan bagi orang yang memberikan utang. Pada dasarnya utang piutang merupakan bentuk tolong menolong sesama manusia namun apabila terdapat tambahan atau keuntungan ketika mengembalikan utang, maka hal tersebut termasuk riba. Keuntungan yang didapatkan bisa berupa harta atau jasa. 

2. Riba Buyu’

Riba buyu’ merupakan riba yang terjadi akibat adanya pertukaran barang sejenis dengan kualitas, kuantitas dan waktu penyerahan yang berbeda. Transaksi seperti ini dilarang dalam Islam karena mengandung gharar dan menyebabkan ketidakadilan sehingga dapat merugikan salah satu pihak. Apabila hal ini dilakukan maka dapat menimbulkan tindakan yang zalim dan terjadi perselisihan.


Penulis: Fajri Nurul Izzati mahasiswa STEI SEBI