Header Ads

Implementasi Good Money Habit Melalui Reksadana Syariah Sebagai Perencanaan Keuangan Inklusif

Implementasi Good Money Habit Melalui Reksadana Syariah Sebagai Perencanaan Keuangan Inklusif

Penulis: Alvi Aulia Shofyani

Implementasi Good Money Habit Melalui Reksadana Syariah Sebagai Perencanaan Keuangan Inklusif

Investasi menjadi trend yang digandrumi saat ini. Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), diketahui bahwa jumlah investor di Indonesia pada Mei 2021 sebesar 5,37 juta orang. Hal ini mengalami peningkatan 38,43% dibandingkan tahun 2020 yang hanya mencapai 3,88 juta orang. 

Berdasarkan sumber yang sama, reksadana menjadi instrumen penyumbang terbesar dalam investasi. Pada Mei 2021 mencapai 4,69 juta orang dibandingkan tahun 2020 yang hanya sebesar 3,17 juta orang. Reksadana menjadi salah satu instrumen perencanaan keuangan yang berpotensi besar dalam pergerakan pasar modal Indonesia 

Namun, kemajuan reksadana konvensional tidak diiringi dengan kemajuan reksadana syariah.   

Apa itu reksadana syariah? 


Reksadana Syariah berasal dari kata “Reksa” yang artinya kelola atau pelihara, dan “Dana” yang berarti uang. Sedangkan “Syariah” adalah aturan-aturan yang sesuai dengan ajaran islam. 

Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) Nomor 20/DSN-MUI/IX/2000, reksadana syariah adalah reksadana yang beroperasi menurut ketentuan dan prinsip islam, baik dalam bentuk akad antara pemodal sebagai pemilik harta (sahib al-mal/rabb al-mal) dengan manajer investasi sebagai wakil sahib al-mal, maupun antara manajer investasi sebagai wakil dengan pengguna investasi. 

Dengan kata lain, reksadana syariah ialah reksadana yang pengelolaannya berdasarkan prinsip-prinsip syariah dan tidak berinvestasi pada perusahaan yang bertentangan dengan ajaran islam.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, diketahui pada Mei 2021, tercatat produk reksadana syariah sebanyak 291, sedangkan untuk reksadana konvensional mencapai 1915 produk. Artinya baru sekitar 13,19% produk reksadana syariah yang terdaftar dari total reksadana saat ini.

Implementasi Good Money Habit Melalui Reksadana Syariah Sebagai Perencanaan Keuangan Inklusif

Beberapa faktor yang meghambat perkembangan reksadana syariah. 


Pertama, reksadana syariah hanya dikenal oleh kalangan tertentu yang memiliki kepentingan dalam berinvestasi reksadana syariah. 

Kedua, reksadana konvensional lebih unggul daripada reksadana syariah, karena reksadana konvensional lebih berpengalaman, sehingga peluang dan keuntungan yang diberikan cukup besar. Hal ini menjadikan para pemodal lebih memilih reksadana konvensional. 

Ketiga, kurang optimalnya bantuan dari pemerintah, lembaga dan swasta untuk memperkenalkan reksadana syariah.

Namun sisi baiknya, reksadana syariah menunjukkan geliat tumbuh positif dari tahun ke tahun. Indonesia yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia seharusnya menjadikan perencanaan keuangan berjalan secara syariah, termasuk dalam hal pasar modal.
 

Prospek yang sangat besar apabila hal ini mampu diwujudkan. Investasi reksadana syariah menjadi suatu perencanaan keuangan yang baik. Reksadana syariah sangat mementingkan kemashlahatan para investor. Selain menerapkan prinsip syariah, adanya cleansing atau pembersihan dari kekayaan non-halal yang dilakukan oleh manajer investasi. 

Hal ini bertujuan untuk menyesuaikan portofolio apabila daftar produk baru telah berlaku. Apabila dalam portofolio tersebut terdapat unsur yang diharamkan syariah, maka produk tersebut harus dihapus dari portofolio reksadana syariah.

Kinerja reksadana syariah tidak menjamin menghasilkan kinerja yang baik, namun menjamin kinerja sesuai dengan prinsip syariah. Kinerja reksadana syariah bergantung pada bagaimana kinerja manajer investasi dalam mengelola efek dan menjaga kredibilitasnya. Sehingga baik buruknya kinerja reksadana akan mempengaruhi pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB)

Apabila kinerjanya baik, maka NAB akan meningkat. Sebaliknya, apabila kineranya buruk, maka NAB akan menurun.

Adapun prinsip reksadana syariah menggunakan prinsip mudharabah dan qardh, artinya seseorang memberikan hartanya kepada orang lain dengan ketentuan bahwa keuntungan yang didapat antar kedua belah pihak dibagi sesuai dengan kesepakatan yang telah ditentukan, yakni antara pemodal/investor dengan manajer investasi. 

Sedangkan untuk mekanisme operasional antara investor dengan manajer investasi menggunakan sistem wakalah bil ujrah. 

Pada akad tersebut, pemodal memberikan mandat kepada manajer investasi untuk mengelola modal sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam prospectus. Investasi hanya dapat dilakukan sesuai dengan syariat islam. 

Kemudian untuk mengatur berjalannya reksadana, suatu reksadana syariah wajib memiliki Dewan Pengawas Syariah (DPS), fungsi DPS dalam hal ini sebagai penasehat terhadap investasi yang dilakukan sekaligus sebagai mediator antara reksadana dengan DSN.

Reksadana syariah mampu menumbuhkan good money habit (kebiasaan yang baik dalam pengelolaan keuangan) yang membawa seseorang sukses secara finansial. Good money habit menjadi pondasi dalam perencanaan keuangan inklusif. 

Teori ZAPFIN merupakan kependekan dari (1) zakat, (2) assurance, atau asuransi (3) present consumption atau konsumsi sekarang (bulanan), (4) future spending atau menabung, dan (5) investment atau investasi menjadi implementasi pada good money habit. 

Seseorang dikatakan memiliki good money habit apabila ia mampu membayar dirinya terlebih dahulu sebelum membayar keperluan lain (Masruroh, 2013). Artinya apabila kita memiliki penghasilan, penghasilan tersebut mampu dialokasikan untuk zakat, dan implementasi teori ZAPFIN lainnya.

Dengan berinvestasi reksadana syariah dapat menumbuhkan jiwa seorang investor berkualitas atas dasar iman dan taqwa karena semua pengelolaan portofolio dilakukan sesuai dengan ajaran islam tanpa adanya unsur riba, gharar, maysir dan hal yang diharamkan lainnya. 


Selain itu, dengan adanya cleansing (pembersihan kekayaan non-halal) mampu memperkuat citra reksadana syariah. Sehingga perencanaan keuangan yang dilakukan tidak hanya menuju pada pencapaian duniawi, namun juga pencapaian ukhrawi. 

Reksadana syariah sebagai intrumen pasar modal dapat dilirik oleh siapa saja, tidak hanya sebatas kalangan menengah atas. Melalui dana investasi reksadana pendapatan tetap, pemodal pemula ataupun pemodal kecil dapat menikmati hasil dari investasi mereka. 

Para pemodal juga dapat melihtat hasil portofolio efek yang telah terdiversifikasi dengan baik. Reksadana juga didapatkan dengan mudah, bisa melalui bank, manajer investasi, perusahaan efek penyedia sistem online trading syariah, dan marketplace yang bekerjasama dengan perusahaan efek. Selain itu, kedepannya akan diusahakan pembelian reksadana melalui minimarket, kantor pos dan pegadaian.

Penjualan reksadana melalui marketplace menjadi peluang besar dalam menyebarkan dan menjual reksadana syariah. Karena pesatnya perkembangan teknologi saat ini sudah tidak bisa dipungkiri memiliki magnet kuat dalam pergerakan muamalah. Selain itu, nominal yang diinvestasikan melalui marketplace lebih murah yaitu hanya Rp. 10.000,-. 

Dengan adanya penawaran tersebut, masyarakat baik kelas menengah atas hingga menengah bawah dapat mudah mendapatkan reksadana syariah, selain aksesnya mudah, biayanya pun relatif murah.

Selain itu, apabila minimarket, kantor pos dan pegadaian difasilitasi jual beli reksadana, maka akan semakin mudah masyarakat menjangkau sehingga tidak ada lagi kesulitan mendapat reksadana syariah. Dengan begitu, perencanaan keuangan inklusif sebagai implementasi good money habit dapat terwujud dan terkaselerasi. 

Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas agar masyarakat melek terhadap investasi berjenis reksadana syariah. Peran pemerintah, Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), dan pihak terkait lainnya memiliki posisi fundamental sebagai edukator kepada masyarakat terkait pentingnya berinvestasi reksadana syariah sehingga masyarakat mampu mengelola dan merencanakan keuangan dengan baik.

Reksadana syariah diharapkan mampu mewujudkan good money habit kelima, yakni investasi berdasarkan teori ZAPFIN. 

Investasi melalui reksadana syariah diharapkan juga memberikan sumbangsih suatu perencanaan keuangan yang inklusif lagi berkelanjutan. Dengan prinsip syariah yang terkandung, reksadana syariah selaku instrumen pasar modal memberikan sumbangan peningkatan trend perkembangan pasar modal di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA 

  • Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI Nomor 20/DSN-MUI/IX/2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Investasi untuk Reksadana Syariah 
  • Firmansyah, L. (2020). Penerapan dan Perkembangan Reksadana Syariah di Indonesia. Jurnal Ilmu Akuntansi Dan Bisnis Syariah, 2(1), 67–80.
  • Ghazie, P. H. (2010). Menjadi Cantik, Gaya & Tetap Kaya. Jakarta: Gramedia.
  • Kustodian Sentral Efek Indonesia. (2021). https://www.ksei.co.id/
  • Manan, A. (2012). Hukum Ekonomi Syariah dalam Prespektif Kewenangan Peradilan Agama. Kencana.
  • Masruroh, A. (2013). Mengelola Keuangan secara Syariah dalam Rangka Menumbuhkan Good Money Habit. Al-Iqtishad, 5(1), 79–96.
  • Muhayati, I. (2020). Prospek dan Tantangan Perkembangan Reksadana Syariah di Indonesia. Eksyda, 1(1), 1–26.
  
Penulis: Alvi Aulia Shofyani
Instansi: Mahasiswi STEI SEBI
Organisasi: KSEI IsEF