Header Ads

Kenali Risiko Pada Bisnis Anda Dengan Analisis

 Mengenali Risiko Pada Bisnis Anda 

 Sabrina Indah Larasati Mahasiswi STEI SEBI


Kenali Risiko Pada Bisnis Anda Dengan Analisis


Pertumbuhan UMKM semakin meningkat, hal tersebut merupakan dampak yang positif bagi perekomomi Indonesia. Di mana menurut data kementrian tahun 2018, daya serap tenaga kerja UMKM adalah mencapai 117 juta pekerja atau 97% dari daya serap tenaga kerja dunia usaha. Maka dari itu kita sebagai warga negara Indonesia harus mendukung UMKM maupun UKM agar terus berkembang. 

Tetapi, banyak kita dapati beberapa UMKM maupun UKM hanya memiliki waktu yang singkat dalam bisnisnya atau hanya bertahan tanpa ada perkembangan yang pesat. Mengapa hal tersebut dapat terjadi, apakah ada yang salah dengan binis UMKM tersebut? 

Salah satu jawabanya adalah masih banyaknya UMKM dan UKM yang tidak memperhatikan atau tidak mengetahui risiko apa yang ada di dalam bisnisnya. Apakah semua binis memiliki risiko? ya, karena bisnis merupakan awal mulanya seseorang membuat risiko. Di mana risiko bisnis memiliki dampak yang positif seperti berupa hasil pendapatan. Tetapi risiko dalam bisnis tidak sepenuhnya positif ada juga yang berbuah negative dan dapat mengakibatkan kerugian dalam bisnis. 


Apa sajakah komponen risiko pada bisnis, yaitu :

Pertama, Market Risk merupakan risiko yang berasal dari konsumen. Contohnya, Ketika produsen membuat suatu produk baru, maka akan munculnya risiko yaitu, bagaimana cara memarketingkan produk baru tersebut, agar dapat di terima oleh calon konsumen. 

Dan bagaimanakah dengan produk lama, apakah produk tersebut tidak memiliki risiko ?. Ya, produk lama pasti juga memiliki sebuh risiko, dimana risiko yang dihadapi adalah munculnya produk yang lebih inovatif, murah, multifungsi dan lain sebagainya. 

Kedua, Financial Risk memiliki hubungan dengan dua hal yaitu pengeluaran dan pendapatan dimana pendapatan harus lebih besar dari pada pengeluaran. Pengendalian terhadap keuangan dan arus kas. Risiko yang sering terjadi dalam keuangan bisnis ini adalah kesalahan dalam menghitung. Dampak dari hal ini akan membuat ketidak seimbangan terhadap bisnis yang dijalankan dan bisa juga menyebabkan kerugian pada bisnis.   

Ketiga, Operasional Risk. Operasional dalam suatu bisnis merupakan sebuah proses dalam bisnis yang memiliki hubungan dengan konsekuensi. Contohnya saat proses produksi, penggunaan alat alat produksi harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak merusak alat-alat tersebut dan tidak menimbulkan kecelakaan yang serius. Kemudian contoh lain yaitu system proses perekrutan karyawan, dalam merekrut karyawan risiko yang terjadi adalah kesalahan dalam memilih karyawan. Dan masih ada beberapa banyak contoh lain dalam operasional yang terdapat risiko. 

Keempat, Proyek Risk. Proyek menurut Project Management Institute (2000) setiap proyek bersifat unik, artinya pengalaman di masa lalu tidak dapat menjadi pedoman dimasa datang. Meskipun di ulang beberapa kali maka akan ada yang berbeda. 


Risiko yang ada di dalam sebuah proyek harus ditelaah dengan baik. Membuat perencanaan yang matang dengan melihat segala aspek risiko, informasi yang di dapatkan bisa dari pengalam risiko negative sebelumnya dan juga mengamati informasi terkini. Karena sudah di jelaskan bahwa proyek terdahulu tidak bisa di jadikan sebagai pedoman. Akan tetapi dapat digunakan sebagai pembelajaran dari kesalahan yang pernah dilakukan, agar proyek baru yang sedang dijalankan tidak mengulang kesalahan yang sama. 

Keempat, Regulator Risk merupakan risiko yang terjadi dikarenakan terdapatnya sebuah peraturan. Dan peraturan tersebut dibuat untuk mengatur lingkungan bisnis agar dapat berjalan secara sehat. Risiko dalam peraturan adalah jika peraturan tersebut akan di ubah. Peraturan memiliki sifat mengikat, dimana hal tersebut akan ada yang melanggar peraturan kemudian menyebabkan suatu risiko yang baru. 

Mungkin banyak di kalangan pembisnis UMKM atau UKM yang hanya mengetahui bahwa risiko berada pada komponen Marketing saja. Tetapi sejatinya dalam setiap komponen bisnis memiliki risiko yang berbeda-beda. Setelah mengetahui hal ini, mungkin para pembisnis akan berfikir lagi untuk memperhatikan risiko dan menanggulangi risiko yang terjadi dalam bisnis. Biasanya dalam sebuah perusahaa yang memiliki risko besar akan membuat divisi manajemet risiko, mereka bertugas untuk mengamati dan mengantisipasi risiko yang terjadi.

Tetapi banyak dari UMKM dan UKM yang berfikir untuk membuat divisi manajement risiko akan menambah biaya yang tidak sediki, maka mereka tidak menerapkannya. Akan tetapi dalam menerapkan manajemnet risiko tidak harus membuat divisi khusus, cukup dengan anggota yang sudah ada. Karena divisi manajement risiko biasanya terdapat pada perusahaan yang memiliki risiko tinggi. Sedangkan bagi pembisnis UMKM dan UKM risiko yang di hadapi tidak terlalu besar, biasanya risiko yang sering terjadi didalam bisnis. Dan risiko ini dapat dipecahkan Bersama sama pada divisi masing masing. 

Contohnya, dalam divisi keuangan dapat lebih memperhatikan risiko yang terjadi, biasanya lebih  berhati hati pada menghitung bagian yang pernah terdapat kesalahan sebelumnya, agar tidak terulang Kembali. Selain itu bagian marketing, dapat mengamati apa saja trend yang sedang viral dikalangan masyarakat, bagaimana cara tim marketing memasarkan produk baru tersebut. Begitupun juga dengan divisi lainnya. 

Untuk menyelesaikan risiko hal penting yang harus dilakukan adalah menganalisis situasi yang terjadi. Analisis yang dilakukan juga harus sesuai dengan informasi yang tepat, banyak nya suatu informasi akan lebih membantu mengurangi dampak risiko negative yang terjadi.  Dalam analisis terdapat dua sifat yaitu analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. 

Analisis kuanlitatif, merupakan analisis yang bersifat logis dan sederhana, karena data yang digunakan dalam mengananlisis adalah data yang terbatas. Metode yang digunakan dalam analisis yaitu Scenario Building, Likelihood-impact Matrix, Attribute Analysis & Delphi Method. 

Berbeda halnya dengan Analisis kuantitatif, analisis ini harus memiliki data yang lengkap dan memadai. Umumnya data analisis bersifat perhitungan, dengan menggunakan konsep probabilitas dan statistika. Maka dari itu dalam mengananlisis di perlukan sedikit skill matematika. Metode yang digunakan adalah metode Spreadsheet, PERT/CPM, Expected value analysis dan Sunk cost approach. 

Para pembisnis UMKM dan UKM dapat mulai mencoba untuk menerapkan system manajement risiko dengan menggunakan analisis kualitatif yang lebih sederhana. Agar binsis yang dijalankan dapat berkembang. Terlebih lagi pada masa pandemic ini, dimana terdapat risiko besar dan cukup membuat para pembisnsis kualahan. Sehingga ada yang sampai menutup bisnisnya. Jika sebelumnya mereka telah menetapkan manajement risiko, mungkin dampak dari risiko ini akan berkurang. Setidaknya dapat bertahan hingga pandemic ini selesai. Tetapi tidak ada salahnya jika mencoba menerapkan manajement risiko dari sekarang.