Header Ads

Efektivitas Audit Syariah di Bank Syariah: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

 Efektivitas Audit Syariah di Bank Syariah: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Desy Rachmawati – Mahasiswi STEI SEBI


Efektivitas Audit Syariah di Bank Syariah: Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi

Sektor perbankan syariah sedang menjadi elemen utama dalam industri keuangan syariah, hal ini disebutkan dalam Laporan Global Keuangan Islam 2018. Grup Bank Dunia dan IRTI tahun 2018 juga menyebutkan bahwa industri perbankan syariah ini tengah meningkat tajam, ditandai dengan tercatatnya nilai aset yang mendekati angka US $ 1,72 triliun, aset tersebut dikelola lebih dari 505 lembaga keuangan islam yang tersebar di lebih dari 50 negara di seluruh dunia, baik negara-negara muslim maupun negara nonmuslim.

Meskipun telah disebutkan bahwa aset sebaran perbankan syariah terdapat pula pada negara-negara nonmuslim, namun ketika lembaga keuangan tersebut membawa label “bank islam” maka lembaga keuangan tersebut telah menjadi bagian dari ekonomi islam dan menerapkan putusan syariat (hukum islam) dalam semua transaksi keuangan dan investasi menjadi sebuah keharusan.

Audit syariah internal, harus diterapkan di bank syariah untuk mencapai beberapa tujuan, yaitu : 1. Untuk memenuhi maqashid syariah (tujuan hukum islam); 2. Untuk menghindari risiko ketidakpatuhan syariah; 3. Untuk mendapatkan kepercayaan para pemangku kepentingan. Hal ini disebutkan oleh Chapra dan Habib, 2002 dalam penelitiannya.

Efektivitas sendiri di definisikan oleh Dittenhofer, 2001 sebagai sejauh mana tujuan yang ditetapkan terpenuhi dan tercapai. Kerangka Praktik Profesional Internasional dari Institute of Internal Auditor (IIA) memperluas area dimana efektivitas audit internal dapat diukur untuk mencakup kinerja auditor, peningkatan proses audit, efektivtas rapat kebutuhan pemangku kepentingan, efektivitas pertemuan tujuan, peningkatan majanemen risiko dan proses tata kelola.

AAOIFI, 1999 mendefinisikan efektivitas audit syariah internal seperti kemampuan merencanakan, melaksanakan, mendokumentasikan informasi dan temuan audit syariah, kemampuan membuat rekomendasi, angka laporan berulang, tindak lanjut dan evaluasi sejauh mana kepatuhan syariah dengan aturan islam dan prinsip syariah, fatwa, pedoman dan instruksi oleh DPS IFI. Terdapat beberapa faktor yang memiliki peran penting dalam pelaksanaan suatu audit syariah internal yang efektif, yaitu :

1. Faktor Eksternal

a. Lembaga Audit Syariah

Adanya regulasi nasional dan internasional bagi bank syariah merupakan indikasi perkembangan yang terjadi di sektor ini. Seperti yang telah dilakukan oleh AAOIFI dan IFSB menetapkan kerangka peraturan dan sistem pengawasan. AAOIFI didirikan di Bahrain pada tahun 1991 dan dianggap sebagai badan hukum nirlaba. Sedangkan IFSB adalah contoh lain dari lembaga regulasi internasional untuk perbankan islam, didirikan pada tahun 2002 di Malaysia.

b. Hukum dan Pedoman Perbankan Syariah

Hukum islam menjadi acuan utama bagi masyarakat sektor perbankan syariah. Namun, karena prinsip perbankan syariah berasal dari syariat maka aturannya sangat berbeda dengan aturan yang mengatur bank tradisional. Hal ini disampaikan oleh Alkhwaildi, 2010. Abubakr, 2013 juga menyatakan bahwa meskipun pengawasan syariah sangat penting tidak akan cukup efektif kecuali ada undang-undang yang mengatur dan mewajibkan semua bank syariah memiliki DPS dan memperluas semua peraturan yang diperlukan agar audit syariah dapat berjalan efektif.

c. Auditor Syariah Eksternal

Standar AAOIFI mengharuskan IFI menggunakan eksternal auditor untuk memberikan jaminan kepatuhan syariah. Auditor internal syariah menilai kepatuhan syariah dengan menilai tata kelola, kontrol dan pemantauan bank syariah. Sedangkan auditor eksternal bertugas memberikan pendapat independen tentang transaksi bank, hal ini disampaikan oleh Chapra, 2014.

d. Auditor Eksternal

Berbeda dengan audit syariah eksternal, menurut Haron, 2004 audit eksternal sendiri adalah serangkaian pemerikasaan yang dilakukan pada laporan keuangan organisasi untuk memastikan tidak adanya kesalahan atau penipuan, yang mana dapat menyebabkan salah saji material.

2. Faktor Internal

a. Dewan Pengawas Syariah

DPS adalah pilar utama dalam bank syariah dan memainkan peran penting dalam memberikan jaminan untuk para pemangku kepentingan bahwa semua transaksi dan operasi sesuai dengan prinsip syariah dengan cara memberikan bimbingan, arahan dan pengawasan bisni. Hal ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Grais dan Pellegrini, 2006.

b. Dewan Direksi

Menurut Chapra dan Habib, 2002 dalam bank syariah, tanggung jawab utama perusahaan dan tata kelola syariah berada pada direksi. Efektivitas kinerja bank syariah terkait dengan sistem kontrol yang kuat.

c. Manajemen

SGF BNM, 2010 mencatat bahwa dukungan manajemen dapat diungkapkan dengan menyediakan sumber daya yang memadai, mengalokasikan tenaga ahli yang profesional dan menyediakan pelatihan yang dibutuhkan sehingga dapat mendorong audit syariah yang efisien dan efektif.