Header Ads

Analisis Keuangan Dalam Menilai Kinerja Bank

Analisis Keuangan Dalam Menilai Kinerja Bank

Analisis Keuangan Dalam Menilai Kinerja Bank

Pembangunan ekonomi adalah salah satu tujuan nasional dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dan bank sebagai pemegang fungsi intermediasi dengan menyalurkan dana dari masyarakat kepada pihak yang membutuhkan dana merupakan peran yang penting dalam pembangunan ekonomi.

Dalam menjalankan perannya tersebut perbankan melakukan pemungutan bunga dari aktivitas penyaluran pinjaman dan membayarkan bunga kepada pemilik dana. Selisih yang dihasilkan dari bunga tersebut berdampak pada nilai NIM (Net Interest Margin) yang merupakan perbandingan antara pendapatan bunga bersih (pendapatan bunga dikurangi beban pokok) dengan nilai aset dari perbankan yang produktif. Selain berasal dari aktivitas pinjaman, pendapatan bunga yang diperoleh oleh bank juga bisa dihasilkan dari simpanan kepada obligasi pemerintah dan sertifikat Bank Indonesia.

Di Indonesia sendiri NIM mengalami penurunan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per Agustus 2019 posisi NIM ada di level 4,9% menurun dari periode setahun sebelumnya 5,14% secara industri. Namun realisasi tersebut masih jauh lebih tinggi dibandingkan pencapaian negara Asean lain. Seperti Singapura yang mencatatkan NIM 1,6% per Desember 2018 dan Filipina pada periode kuartal II 2019 membukukan realisasi NIM 3,62%. Sumber : Statistik Perbankan Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (2019)

Untuk menilai kinerja bank, kita dapat menggunakan beberapa analisis keuangan dengan membandingkan  Net Interest Margin dengan analisis rasio.

1. CAR (Capital Adequacy Ratio), atau biasa disebut rasio kecukupan modal merupakan variabel yang berpengaruh terhadap keuntungan dari suatu bank. Modal adalah sejumlah dana yang tersedia untuk membiayai kegiatan bisnis bank sehari-hari dan dapat juga berperan sebagai penopang dalam situasi dimana bank sedang mengalami kesulitan. Menurut Dang (2011) kecukupan modal suatu bank diukur dari rasio kecukupan modal, Capital Adequacy Ratio dapat menunjukkan berapa besar kekuatan yang dimiliki oleh bank untuk menahan kerugian dalam suatu krisis. Rasio kecukupan modal dapat diukur dengan membagi total modal yang dimiliki oleh bank terhadap total aset yang mengandung resiko.

2. NPL (Non-Performing Loans), Risiko tertinggi yang dihadapi oleh bank adalah kerugian yang berasal dari pinjaman gagal bayar (Ongore, 2013). Oleh karena itu, kualitas aset di dalam penelitian ini diproksikan dengan menggunakan Non-Performing Loans (NPL). Manajemen bank yang buruk cenderung mengakibatkan pemberian kredit yang buruk kepada nasabah dan mengakibatkan Non-Performing Loans (NPL) (Colombini, 2018:49).

3. BOPO (Biaya Operasional Terhadap Pendapatan Operasional), disebut rasio efisiensi yang digunakan oleh bank untuk mengukur kemampuan dari manajemen suatu bank dalam upaya mengendalikan biaya pendapatan operasional (Ongore, 2013). Efisiensi manajemen adalah faktor internal yang digunakan untuk mengukur keuntungan bank. Efisiensi manajemen dapat diukur dengan berbagai macam rasio keuangan seperti menghitung rasio pertumbuhan total asset, rasio pertumbuhan tarif pinjaman, dan rasio pertumbuhan pendapatan.

4. LDR (Loans to Deposits Ratio), Rasio ini mengukur kredit yang disalurkan dibandingkan dengan dana pihak ketiga (giro, tabungan dan deposito). Semakin tinggi rasio ini, maka semakin bagus kinerja keuangan suatu bank. Menurut Kosmidou et al. (2005) semakin sedikit dana yang tersimpan di dalam bank, maka semakin buruk kinerja keuangan bank tersebut.

5. GDP (Gross Domestic Product), merupakan perhitungan jumlah produk/jasa yang dihasilkan suatu negara dalam periode tahunan. GDP merupakan variabel macroeconomics yang mempengaruhi kinerja keuangan bank.

6. Inflasi, merupakan perhitungan kenaikan harga barang/jasa di dalam negara dibandingkan tahun sebelumnya.


Penulis: Desy Rachmawati – Mahasiswi STEI SEBI


Referensi :

Hanafi, Marcellius Anggara & Imelda, Elsa (2020): Jurnal Multiparadigma Akuntansi Tarumanagara

Statistik Perbankan Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (2019)