Header Ads

Prinsip Syariah dan 5 C: Penilaian Kelayakan Pembiayaan Syariah

Prinsip Syariah dan 5 C : Penilaian Kelayakan Dalam Pemberian Pembiayaan Syariah

Oleh : Anisa Nur Azizah, Mahasiswi STEI SEBI

Prinsip Syariah dan 5 C : Penilaian Kelayakan Dalam Pemberian Pembiayaan Syariah

Saat ini dunia usaha semakin berkembang. Dan hal tersebut tidak dapat terlepas dari adanya kebutuhan akan penambahan dana modal dan investasi agar suatu usaha tetap berjalan, baik yang diperoleh dari perseorangan, usahawan ataupun bergabung dengan suatu badan. Dalam perkembangannya, kebutuhan akan dana terpenuhi salah satunya dengan kehadiran perbankan berbasis Syariah.

Ekspansi perbankan syariah mulai membuahkan hasil. Hal ini terbukti dari pangsa bank syariah terhadap industri perbankan yang sudah menembus 6,01% per Oktober 2019 menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) atau mencapai Rp 513 triliun. Bila dirinci, pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah dan meningkat dari awal tahun 2019 hingga September 2019 yang sebesar 5,94%.

Muhammad dalam bukunya “Manajemen Bank Syariah” mendefinisikan Bank Syariah adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa jasa lainnya dalam lalu lintas pembayaran serta peredaran uang yang operasionalnya disesuaikan dengan prinsip syariat islam. 

Islam merumuskan suatu sistem ekonomi yang sama sekali berbeda dari sistem-sistem lainnya. Hal ini karena ekonomi islam merupakan akar dari syariah yang menjadi sumber dan panduan bagi setiap muslim dalam melaksanakan aktivitasnya. Imam Al Ghazali dalam mustasfa mengemukakan bahwa tujuan syariah adalah meningkatkan kesejahteraan manusia yang terletak pada pemeliharaan iman, hidup, akal, keturunan dan harta. Demikian pembiayaan syariah dilaksanakan untuk tercapainya tujuan tujuan syariah.

Mengapa Prinsip Syariah dan 5 C sebagai kelayakan pembiayaan Syariah?


Analisis pembiayaan dilakukan dengan tujuan pembiayaan yang diberikan mencapai sasaran dan aman. Artinya, pembiayaan tersebut harus diterima pengembaliaanya secara tertib, teratur dan tepat waktu sesuai dengan perjanjian antara bank dan debiturnya. Hal ini ditunjukkan seperti dalam Al qur’an surat Ali Imran ayat 75.

“Di antara ahli kitab ada orang yang jika engkau percayakan kepadanya harta yang banyak, niscaya dia mengembalikannya kepadamu. Tetapi ada pula di antara mereka yang engkau percayakan kepadanya satu dinar, tidak mengembalikannya kepadamu, kecuali jika kamu selalu menagihnya. Demikian itu disebabkan mereka berkata : ‘Tidak ada dosa bagi ami terhadap orang orang buta huruf.’ Mereka mengatakan hal yang dusta terhadap Allah, padahal mereka mengetahui.” [QS. Ali Imran:75]

Selain itu, bank menerapkan prinsip Syariah dan 5C dalam menganalisis pembiayaannya bertujuan untuk melindungi kreditur dalam hal ini adalah bank, serta sebagai cara untuk meminimalisir terjadinya risiko kredit atau kredit macet. Dengan demikian, prinsip ini dilaksanakan Bank Syariah dapat menilai kelayakan baik individu maupun usaha debiturnya, apakah calon debitur tersebut layak diberikan kredit atau tidak.   

Apa itu prinsip 5 C?

Sebelum bank Syariah memberikan pembiayaan kepada nasabahnya, Bank harus menganalisis terlebih dahulu calon nasabah, seperti bagaimana latar belakangnya, prospek usahanya, serta faktor faktor penting lainnya. Tujuan analisa penilaian ini adalah untuk meyakinkan bahwa calon nasabah benar benar dipercaya serta mengurangi adanya risiko yang akan timbul dikemudian hari. 

Perwujudan prinsip kelayakan pemberian pembiayaan tercermin dalam “The Five C’s Principle of Credit Analysis”. Adapun penjelasan tentang analisis 5 C adalah sebagai berikut:

a. Character (Kepribadian)

Salah satu unsur yang harus perlu diperhatikan oleh bank syariah sebelum memberikan pembiayaan adalah penilaian atas kepribadian dari calon krediturnya. Bank akan meninjau apakah misalnya calon kreditur berkelakuan baik, tidak terlibat tindakan tindakan kriminal, bukan merupakan penjudi, atau tindakan tindakan tidak terpuji lainnya.

b. Capacity (Kemampuan)

Calon debitur pula perlu diketahui bagaimana kemampuan bisnisnya untuk melunasi hutangnya dan kinerja usaha tersebut dalam kondisi yang baik. Demikian hal ini untuk mengurangi risiko kredit macet.

c. Capital (Permodalan)

Permodalan dan kemampuan keuangan debitur memiliki korelasi dengan tingkat kemampuan dalam membayar kembali kreditnya, seperti masalah likuiditas dan solvabilitas.

d. Collateral (Agunan)

Agunan merupakan prinsip penting dalam setiap pemberian pembiayaan. Karena agunan adalah hak tagihan yang terbit dari proyek atau jaminan dari debitur yang dibiayai oleh pembiayaan yang bersangkutan. Apabila suatu pembiayaan benar benar dalam kondisi macet, maka akan direalisasi. 

e. Condition of Economy (Kondisi Ekonomi)

Kondisi perekonomian baik mikro maupun makro pula perlu dianalisis oleh bank syariah sebelum memberikan kreditnya, terutama hal yang berhubungan langsung dengan bisnis debitur.


Referensi:
Lailiyah, A. Urgensi Analisis 5C Pada Pemberian Kredit Perbankan Untuk Meminimalisir Risiko. Jurnal Yuridika. Vol. 29 No 2, Mei-Agustus 2014
Artiningsih, Yuli. Peranan Penilaian Prinsip 5C Dalam Pemberian Pembiayaan Di BTN Syariah Cab Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Manajemen Syariah UIN Sunan Kalijaga. 2016
https://www.google.com/amp/amp.kontan.co.id/news/alhamdulillah-usai-28-tahun-akhirnya-pangsa-pasar-perbankan-syariah-tembus-6