Header Ads

Terobosan Genjot Literasi Perbankan Syariah

Terobosan Genjot Literasi Perbankan Syariah

0leh: Arif lukman hakim Mahasiswa STEI SEBI Jurusan Akuntansi Syariah

Terobosan Genjot Literasi Perbankan Syariah

Salah satu komponen terpenting dalam pembahasan ekonomi rabbani di abad modern adalah perbankan syariah. Terbukti atas dukungan pemerintah melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan mendirikan bank syariah pertama di Indonesia pada tahun 1991 yang dikenal dengan Bank Muamalat.

Dalam website Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kepala Eksklusif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen, tercatat kontribusi aset industri keuangan syariah terus mengalami peningkatan dan tembus mencapai 8,71% dari total aset industri keuangan nasional per juli 2019. Dari total aset industri keuangan syariah tersebut, sebesar 36,3% merupakan kontribusi dari perbankan syariah.

Berdasarkan data tersebut, perbankan syariah memiliki kontribusi yang berpengaruh dalam meningkatkan industri keuangan syariah di indonesia.

Di lain sisi, terdapat kendala di lapangan mengenai pengetahuan dan informasi (Literasi)  masyarakat yang masih kurang. Hal ini menyebabkan perkembangan perbankan di indonesia tidak pesat dan kurang maksimal. Ini akan menjadi perhatian penting bagi praktisi maupun akademisi ekonomi syariah dalam meningkatkan Literasi dan Inklusi perbankan syariah di Indonesia khususnya.

”Hasil survei tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat indonesia, masih bisa dikatakan cukup rendah. Indeks literasi keuangan pada tahun 2013 sebesar 21,8%, tahun 2014 sebesar 29,7%, dan tahun 2019 sebesar 38,03%. Sedangkan indeks inklusi keuangan pada tahun 2013 sebesar 59,7%, tahun 2016 sebesar 67,8%, dan tahun 2019 sebesar 76,19%.”, ujar Hendro Wibowo, dalam sebuah Grand Study: Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Bersama Pegadaian Syariah yang diadakan di Kampus STEI SEBI, Depok, Sabtu 14 Maret 2020.

Tingkat literasi tersebut tidak sebanding melihat masyarakat Indonesia dengan mayoritas penduduknya pemeluk agama islam sebesar 87,2%. Upaya untuk mengurangi kendala tersebut perlu di lakukan dengan adanya terobosan dan inovasi sebagai solusi. 

Hasil  survei  Asosiasi  Penyelenggara  Jasa  Internet  Indonesia  (APJII)  bekerja sama dengan Lembaga Survey Polling Indonesia pada tahun 2018 melaporkan bahwa terdapat 264,16  juta  penduduk  Indonesia  adalah  pengguna  internet,  yakni  64,8  persen  dari 171,17 juta jiwa total penduduk Indonesia.

Artinya  internet  dan  sarana  digital  di  Indonesia  memiliki  peluang  yang sangat besar   untuk   dijadikan   sebagai   sarana   untuk   mendorong   minat   baca   dan mendongkrak literasi masyarakat mengenai perbankan syariah.

Pendekatan yang cukup efektif dilakukan dengan model AISAS (Attentiont, Interest, Search, Action and Share). Media sosial menjadi sarana yang tepat untuk menerapkan pendekatan model AISAS. Kaitanya dengan tingginya intensitas masyarakat dalam menjangkau internet, lembaga  perbankan  syariah  di Indonesia  musti  memaksimalkan  teknik digital marketing dalam penggunaan sosial media. 

Dalam perkembangan zaman saat ini, media sosial instagram, youtube, facebook, tweeter menjadi media sosial yang strategis untuk memberikan edukasi dalam meningkatkan pengetahuan dan informasi (Literasi) masyarakat tentang keuangan syariah. 

Jika di simulasikan, ketika  melihat  konten  yang diposting oleh akun dalam media sosial bank syariah, membuat para followers merasa tertarik kemudian menimbulkan dorongan untuk membaca dan mencari informasi tersebut. Dengan demikian, upaya untuk meningkatkan literasi dan inklusi masyarakat indonesia mengenai perbankan syariah bisa tercapai dengan maksimal. 

Tingginya literasi masyarakat menjadi tumpuan dalam membangun lingkungan masyarakat yang sejahtera dalam pengelolaan keuangan, kemampuan mengembangkan aset, serta ketahanan keuangan yang sesuai dengan syariat islam. Hal ini akan mendorong tingkat persentase perkembangan perbankan syariah di Indonesia.