Header Ads

Risiko Bisnis Dalam Pandangan Islam

Wajahbekasi.com - Risiko Bisnis Dalam Pandangan Islam. Bisnis dalam pandangan islam dihalalkan, mengacu pada QS. Al-Baqarah:275 yang artinya “..Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..” berbicara tentang bisnis artinya membahas tentang hubungan antar manusia dengan manusia lain dalam bidang ekonomi atau biasa kita kenal dengan mu’amalah. 

Hukum asal mu’amalah pada kaidah ke-50 yang artinya “dalam muamalah adalah halal dan diperbolehkan kecuali ada dalil (yang melarangnya)” artinya semua boleh dilakukan dalam bermuamalah kecuali jika ada dalil yang mengharamkannya. 

Tentunya antara untung dan rugi selalu menjadi perbincangan bagi para pebisnis, Seolah untung dan rugi menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, hal ini dalam islam dikenal sebagai al-kharj bi al-dhaman yaitu hak mendapatkan hasil disebabkan oleh keharusan menanggung risiko. Contoh; pada penjual yang mengambil keuntungan, hal ini diperbolehkan  karena sesuai dengan hadist Rasulullah SAW  ”Manfaat (didapatkan oleh seseorang) disebabkan ia menanggung risiko.” (HR Tirmidzi). 

Jadi hak seseorang mendapat-kan keuntungan disebabkan adanya kerugian yang ditanggung.
Contoh lain, dari pihak si pembeli, apabila seseorang membeli suatu barang dan kemudian dalam masa pemakaian terjadi cacat yang bukan diakibatkan dari penggunaannya, maka pembeli berhak mengembalikan barang itu dan penjual mengembalikan uangnya seharga barang yang dibayarkan, si penjual tidak boleh meminta bayaran atas pemakaian barang yang dilakukan pembeli, karena pemakaian tersebut adalah hak sipembeli akibat menanggung risiko yang dialami, atau contoh relevan pada saat ini dikenal dengan garansi pada suatu barang. 

Sudah menjadi sunnatullah keadaan untung dan rugi pada usaha bisnis dengan adanya konsep ketidakpastian yang terjadi, membuat pebisnis melakukan cara untuk meminimalisir kerugian yang akan datang atau disebut manajemen risiko.

Manajemen risiko telah diperingati dalam QS.Al-Hasyr:18 yang artinya “…hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Mengetahui apa yang kamu kerjakan”, dapat disimpulkan bahwa, kita tidak pernah mengetahui segala sesuatu yang terjadi dikemudian hari. Dengan begitu pentinglah bagi seorang pebisnis dalam mengambil kebijakan sebagai acuan dalam perkembangan usahanya.
Islam memberi keluwesan dalam bermu’amalah, dalam memperoleh untung asalkan bukan dengan cara yang bathil, salah satu cara yang islam ajarkan dalam meminimalisir kerugin besar pada bisnis adalah dengan bagi hasil atau biasa dikenal profit and loss sharing, mengambil contoh pada usaha bisnis yang dijalankan oleh perbankan syariah hal ini menjadi salah satu konsep yang diterapkan dalam mengambil keuntungan atas bisnis usaha yang dijalani, dengan bagi hasil tidak perlu khawatir atas suku bunga yang tidak dapat dipastikan naik dan turunnya, dengan begitu bisnis tidak terlau besar dalam menanggung risiko dimasa yang akan datang.



Namun pada akad perbankan syariah yang lebih banyak digunakan adalah murabahah atau jual-beli, karena hal ini risiko yang ditanggung lebih sedikit.

Rasulullah saw beserta sahabatnya, juga mencontohkan cara memitigasi risiko, diantaranya diriwayatkan dalam sebuah atsar bahwa, apabila para sahabat memiliki tanah dan dihadapkan pada pilihan, menyewakan atau menyerahkan kepada pengelola dengan sistem bagi hasil, para sahabat memilih untuk disewakan. Karena dengan disewakan risiko lebih terkendali. Dapat kita simpulkan bahwa Rasulullah dan para sahabatnya memiliki keseriusan dalam meminimalisir risiko pada bisnis, agar tidak merugikan mitra usaha dan pasar pada umumnya. Dengan begitu memitigasi risiko dalam islam adalah diwajibkan. Wallahu a’lam. Oleh Tri widhiastuti
Mahasiswa STEI SEBI.