Header Ads

Penggunaan Metode CAMEL Pada Kesehatan Keuangan Perbankan Syariah

Penggunaan Metode CAMEL Pada Kesehatan Keuangan Perbankan Syariah Di Indonesia

Oleh Asep Supriatna

Penggunaan Metode CAMEL Pada Kesehatan Keuangan Perbankan Syariah

Kesehatan bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara normal dan maupun untuk memenuhi semua kewajibannya dengan baik sesuai dengan peraturan yang berlaku. Tingkat kesehatan sangat bank erat kaitannya dengan pengelolaan dana, investasi dan upaya mengantisipasi timbulnya resiko yang mungkin terjadi (Suhardiyah, 2012),.

Peraturan Bank Indonesia Nomor 9/1/PBI/2007 tanggal 24 Januari 2007 tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4699), perlu diatur ketentuan pelaksanaan dalam suatu Surat Edaran Bank Indonesia dengan pokok ketentuan sebagai berikut: dengan meningkatnya jenis produk dan jasa perbankan syariah memberikan pengaruh terhadap kompleksitas usaha dan profil risiko bank berdasarkan prinsip syariah. 

Peraturan Bank Indonesia Nomor:13/1/PBI/2011 tentang penilaian tingkat kesehatan bank umum pasal 2 Ayat 1 kesehatan bank harus dipelihara dan ditingkatkan agar kepercayaan masyarakat terhadap bank dapat tetap terjaga. Surat Edaran No.9/24/DPbS Jakarta, 30 Oktober 2007 Berdasarkan hasil penilaian peringkat masing-masing faktor ditetapkan Peringkat Komposit (composite rating).

Tinandri (2015), Penelitian yang dilakukan di PT. Bank Muamalat, Bank Syariah Mandiri di Indonesia menurut perhitungan rasio CAR kinerja keuangan perbankan dari tahun 2009-2013 mengalami penurunan menunjukkan bahwa CAR kategori kurang sehat, rasio KAP PT.Bank Muamalat dari tahun 2009 yaitu 4,29 dan 2013 1,07 menunjukkan mengalami penurunan dari tahun ketahun. 

Cahyani dan Saepudin (2015), rasio rata-rata dari bank BNI syariah, bank Mandiri syariah, bank Muamalat dan bank Mega syariah diatas 12% maka hal ini mengindikasikan bahwa keempat bank syariah tersebut mencerminkan risiko sangat rendah, dan penerapan manajemen risiko pasar efektif dan konsisten. Terlihat dalam rasio tersebut keempat bank syariah tersebut mampu mengatasi risiko serta dengan kenaikan rasio tiap tahunnya pada Bank Muamalat dan Bank Mega Syariah mencerminkan perbaikan kinerja setiap tahunnya.

Brigham dan Houston (2001) isyarat atau signal adalah suatu tindakan yang diambil perusahaan untuk memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Kasmir (2009) Bank syariah adalah bank yang sistem perbankannya menganut prinsip-prinsip dalam islam. Bank syariah merupakan bank yang diimpikan oleh para umat islam.

Menurut Kristianingsih (2008) kesehatan suatu bank dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bank untuk melakukan kegiatan operasional perbankan secara  normal dan mampu memenuhi semua kewajiban dengan baik dengan cara peraturan pemerintah yang berlaku. Aspek-aspek yang harus dipenuhi dalam penilaian kesehatan bank meliputi Capital (modal), Asset (aktiva), Management (manajemen), Earning (rentabilitas) dan Liquidity (likuiditas) yang diangkat menjadi CAMELS. Untuk itu, kesehatan suatu bank dapat dilihat dari laporan keuangan yang meliputi aspek-aspek tersebut.

Dendawijaya (2005:121), menyatakan Capital Adequacy Ratio (CAR) adalah rasio kinerja bank untuk mengukur kecukupan modal yang dimiliki bank untuk menunjang aktiva yang mengandung atau menghasilkan risiko, misalnya kredit yang diberikan. CAR merupakan indikator terhadap kemampuan bank untuk menutupi penurunan aktivanya sebagai akibat dari kerugian-kerugian bank yang disebabkan oleh aktiva yang berisiko.

Aktiva produktif adalah penanaman dana bank baik dalam Rupiah maupun valuta asing dalam bantuan kredit, surat berharga, penempatan dana bank, penyertaan, termasuk komitmen dan kontijensi pada transaksi rekening administratif (PBI no 9/1/2007). Menurut PBI no 9/1/PBI/2007 kualitas kredit dinilai berdasarkan prospek usaha, kondisi keuangan dan kemampuan membayar. Dari penilaian tersebut kualitas kredit dapat digolongkan menjadi 5 golongan, yaitu lancar, dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet. Dalam penelitian ini penulis menggunakan rasio KAP ( Kualitas Aktiva), seluruh kegiatan manajemen suatu bank yang mencakup manajemen permodalan, manajemen kualitas aktiva, manajemen umum, manajemen rentabilitas, dan manajemen likuiditas pada akhirnya akan mempengaruhi dan bermuara pada perolehan laba.

Rasio rentabilitas adalah merupakan perbandingan laba setelah pajak dengan modal atau laba sebelum pajak dengan total asset yang dimiliki bank pada periode tertentu. Agar hasil perhitungan rasio mendekati dengan kondisi yang sebenarnya maka posisi modal dihitung secara rata – rata selama periode tersebut (Riyadi, 2006)

Return On Asset (ROA) digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba sebelum pajak) yang dihasilkan dari rata-rata total asset bank yang bersangkutan. Semakin besar ROA semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank sehingga kemungkinan suatu bank dalam kondisi tidak sehat semakin kecil.

Kesowo dan Suhardjono (2002) BOPO merupakan rasio beban operasional per pendapatan operasional, yang menjadi proxy efisiensi operasional seperti yang biasa digunakan oleh Bank. Bank yang dalam usahanya tidak efisien akan mengakibatkan ketidakmampuan bersaing dalam mengerahkan dana masyarakat maupun dalam menyalurkan dana tersebut kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai modal usaha.

Pandria (2012) menyatakan likuiditas adalah kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban jangka pendek. Suatu bank dianggap likuid apabila bank tersebut memiliki kesanggupan untuk membayar penarikan, giro, tabungan, deposito berjangka, pinjaman bank yang segera jatuh tempo, pemenuhan permintaan kredit tanpa adanya suatu penundaan.

Riyadi (2006) FDR adalah perbandingan antara total pendanaan yang diberikan dengan total Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dapat dihimpun oleh bank. Financing to Deposit Ratio (FDR) merupakan indikator kemampuan bank untuk mengimbangi kewajiban untuk segera memenuhi permintaan deposan yang ingin menarik kembali 31 uangnya yang telah digunakan oleh bank untuk memberikan kredit. Apabila dari banyak kredit yang diberikan tidak diimbangi dengan jumlah dana yang terkumpul menyebabkan likuiditas dari bank berkurang.