Header Ads

Pengaruh Keuangan Ekonomi dan Rasio Terhadap Zakat Bank Umum Syariah

Pengaruh Keuangan Ekonomi dan Rasio Terhadap Zakat Bank Umum Syariah

(Oleh : Indah Sri Wahyuningsih Mahasiswi STEI SEBI)

Pengaruh Keuangan Ekonomi dan Rasio Terhadap Zakat Bank Umum Syariah

Perbankan syariah sebagai lembaga keuangan yang bergerak di bidang jasa keuangan yang berbasis syariah sudah seharusnya mengeluarkan kewajiban sebagai muslim yang taat dengan menyalurkan sebagian dana dari penghasilan yaitu berupa zakat yang sesuai dengan aturan hukum islam dan aturan yang diberlakukan pada perundang-undangan, sehingga mampu memberikan nilai positif dan manfaat yang besar bagi keberlangsungan suatu perusahaan perbankan yang berbasis syariah. 

Menurut UU No. 17 tahun 2000, menyatakan bahwa zakat bukan suatu beban bagi perusahaan apalagi dianggap sebagai pembayaran pajak. Namun demikian, perbankan syariah sebagai lembaga bisnis keuangan tentunya akan mempertimbangkan suatu kondisi kinerja keuangannya dalam melakukan kebijakan yang terkait termasuk pada pengeluaran zakat. Adapun kondisi pengukuran kinerja keuangan atau profitabilitas pada bank dapat diukur dengan menggunakan Return On Asset (ROA) alasan menggunakan ROA dikarenakan Bank Indonesia (BI) merupakan sebagai pembina dan pengawas perbankan yang lebih mengutamakan dan mementingkan asset yang bersumber pada dana masyarakat. (Meythi 2005 dalam Firmansyah 2013) 

Bank dalam pasal 1 ayat (2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan menyatakan “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan nya dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lain dalam angka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Sedangkan bank dalam pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah menyatakan “ Perbankan syariah adalah segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya”.

Dalam hal ini zakat berperan penting dalam mewujudkan terciptanya keadilan dalam bidang ekonomi dimana seluruh anggota warga negara mempunyai sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dalam rangka menjalankan roda kehidupan dimuka bumi ini. Oleh karena itu diperlukan lapangan pekerjaan yang cukup sebagai sumber atau ladang pendapatan yang halal. 

Dengan zakat maka akan terkumpul dana baru (Fresh Capital)  yang bebas dari tekanan-tekanan apapun karena memang bersifat sukarela dan memang merupakan hak kaum miskin. Pada 27 February 2020, Riset The Islamic Research and Training Institute, Islamic Development Bank (IRTI-IDB) menyebutkan potensi zakat di Indonesia mencapai Rp. 217 Triliun. Namun yang baru berhasil dikumpulkan Badan Amil Zakat (BAZNAS) baru Rp. 9 Triliun. Dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa potensi zakat Indonesia yang berhasil dihimpun masih sangat kecil, meskipun di Indonesia mayoritas penduduknya adalah muslim dengan potensi zakat yang bisa mencapai angka triliun rupiah ternyata pada kenyataannya hanya sebagian kecil umat muslim yang mengumpulkan zakat.

Sebagaimana yang telah ditentukan dalam judul, dalam hal ini rasio yang digunakan adalah rasio profitabilitas, yaitu ROA (Return On Asset) yang akan berdampak pada keuntungan atau laba yang diperoleh perusahaan sehingga akan mempengaruhi besarnya zakat. Menurut Hanafi (2009, h. 159), ROA merupakan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan. Secara parsial, bahwa ROA berpengaruh terhadap zakat dengan t hitung sebesar -3.873 > dari t table sebesar 2.060 dan nilai signifikan 0.001> 0.05. apabila perusahaan dengan kinerja keuangan yang diukur dari ROA telah berjalan efektif maka pengelolaan total asset yang dimiliki telah optimal sehingga akan secara jelas dapat memberikan dampak terhadap penyaluran dana zakat tersebut. (Muammar, 2010)