Header Ads

Peluang Indonesia Dalam Meningkatkan Industri/Lembaga Keuangan Syariah

Peluang Indonesia Dalam Meningkatkan Industri/Lembaga Keuangan Syariah

Oleh Andi Muhammad Alqadri
Mahasiswa STEI SEBI

Peluang Indonesia Dalam Meningkatkan Industri/Lembaga Keuangan Syariah

Industri keuangan sudah tidak dapat lagi di elakkan dari system perekonomian dunia. Karena industri keuanganlah salah satu pemegang pengaruh penuh atas perputaran ekonomi yang ada di dunia.

Sudah banyak analisis yang dilakukan dalam industri keuangan ini, dan hasilnya banyak sekali kelemahan sehingga dapat menimbulkan ancaman berupa terjadinya krisis moneter  yang dapat menghancurkan roda perekonomian di suatu negara bila tidak adanya antisipasi.

Pada zaman ini jasa keuangan syariah mulai mengalami perkembangan di Indonesia, hal tersebut sudah tidak dapat dipungkiri lagi dan mestinya memang begitu karena Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki penduduk islam terbanyak yang ada di dunia. Meskipun dalam langkah perkembangan jasa keuangan syariah ini kita masih kalah jauh dibanding negara tetangga yaitu Malaysia dimana hanya memiliki jumlah penduduk 12% dari jumah penduduk yang ada di Indonesia.

Indonesia saat ini harusnya sudah bisa bersaing dan menjadi pusat keuangan syariah pada ruang lingkup internasional mengingat negara kita adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak bahkan memiliki urutan ke-4 di dunia. 

Industri keuangan syariah itu sendiri telah berdiri kurang lebih selama 28 tahun, mulai dari era orde baru hingga orde pemerintahan saat ini. Hal tersebut dibuktikan dengan berdirinya Bank Muamalat pada tahun 1992, lahirnya UU No. 7 tahun  1992 tentang perbankan dengan memperkenalkan sistem perbankan bagi hasil, UU No. 10 tahun 1998 tentang perbankan, terbitnya fatwa MUI tahun 2000 tentang bunga bank adalah riba dan haram, hingga UU No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah.

Namun hingga saat ini pertumbuhan market share perbankan syariah di Indonesia belum bisa bahkan sangat sulit tembus 10% dan sekarang baru 5% dari total seluruh market share yang ada di Indonesia. Dan berada pada posisi ke 6 sebagai pasar paling berpengaruh di industri jasa keuangan syariah. Masih tertinggal jauh dari Malaysia yang sudah mencapai market share sebesar 20%.

Saat ini juga memang pertumbuhan industri keuangan syariah berkembang sangat pesat yakni kisaran 20-30% per tahun akan tetapi pertumbuhan industri keuangan yang ada pada industri konvensional pun juga berkembang begitu pesat.

Lantas apa solusi yang dibutuhkan Negara kita saat ini dalam meningkatkan market share?

Berdasarkan data OJK bahwa kebutuhan dana oleh UKM yang belum digarap oleh perbankan nasional adalah sebesar  1700 triliun rupiah, hal ini dapat kita jadikan sebagai peluang ke depannya untuk meningkatkan market share bahkan asset dan juga laba.

Oleh karena itu, dalam menggarap hal tersebut dibutuhkan keseriusan pemerintah dalam hal pengembangan industri keuangan syariah yang ada di Indonesia, salah satunya yakni menghadirkan lembaga keuangan syariah yang komperatif baik di tingkat nasional maupun internasional dengan keuangan konvensional. 

Beberapa hal menurut Zul Hendra, salah satu banker syariah. Bahwa yang dapat dilakukan pemerintah dalam percepatan pengembangan industri keuangan syariah di Indonesia di antaranya :

Urgensi pembentukan lembaga keuangan syariah berbentuk BUMN. Dalam hal untuk menjawab pertanyaan terkait keseriusan pemerintah dalam pengembangan industri keuangan syariah di Indonesia, sehingga dapat menghilangkan kesan bahwa lembaga keuangan syariah hanya lembaga keuangan kelas kedua di negeri ini. 

Hal ini juga dapat membantu meningkatkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan syariah yang selama ini diragukan karena modalnya berasal dari BUMN konvensional. Beberapa manfaat bagi lembaga keuangan syariah yang berbentuk BUMN di mana permodalannya dari APBN sehingga,
  • Memudahkan ekspansi bisnis,
  • Memudahkan investasi bagi di bidang infrastruktur, IT dalam menghadapi era digitalisasi.

Dengan demikian lembaga lembaga keuangan syariah dapat bersaing dengan lembaga keuangan konvensional. Salah satu kesulitan lembaga keuangan syariah selama ini adalah adanya pembatasan ruang gerak baik di bidang ekspansi bisnis maupun investasi karena harus mendapat persetujuan pemilik modal yakni perusahaan induk secara orientasi utamanya adalah profit oriented semata.

Memasukkan materi ekonomi dan keuangan syariah dalam kurikulum pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Dimana selama ini pendidikan dasar hingga perguruan tinggi hanya mengenalkan terkait system ekonomi kapitalis dan sosialis. Sehingga pengenalan semenjak dini terkait ekonomi dan keuangan syariah dapat menunjang ketersediaan SDM yang kompeten dan profesional di lembaga keuangan syariah di masa yang akan datang serta meningkatkan kesadaran generasi penerus akan manfaat sistem ekonomi dan keuangan syariah.

Mengoptimalkan peran ulama, ustadz, tokoh masyarakat dan akademisi dalam mensosialisasikan terkait dampak dan manfaat ekonomi dan keuangan syariah terhadap perekonomian suatu negara sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat terutama umat muslim akan bahaya dan kerugian transaksi ribawi baik dunia maupun akhirat.

Apabila hal tersebut sudah terealisasi maka kebutuhan warga Negara akan teratasi terutama bagi warga negara yang menganut agama Islam agar tidak terhasut atau terjebak dalam sistem perekonomian kapitalis.