Header Ads

Menilai Kinerja Lembaga Asuransi Syariah

Menilai Kinerja Lembaga Asuransi Syariah

Oleh : Desy Rachmawati (Mahasiswi STEI SEBI)

Menilai Kinerja Lembaga Asuransi Syariah

Lembaga Keuangan Syariah (LKS) menurut Dewan Syariah Nasional (DSN) adalah lembaga keuangan yang mengeluarkan produk keuangan syariah dan yang mendapat izin operasional sebagai lembaga keuangan syariah. Pada beberapa tahun terakhir ini Lembaga Keuangan Syariah tengah mengalami perkembangan yang pesat. Pesatnya lembaga keuangan syariah ini selain karena dijadikan alternatif atas memburuknya perekonomian masyarakat yang didominasi oleh kegiatan-kegiatan ekonomi konvensional. Semakin meningkatnya tingkat religiusitas masyarakat juga menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pesatnya perkembangan dari lembaga keuangan syariah.

Salah satu industri lembaga keuangan syariah yang mengalami perkembangan adalah lembaga asuransi syariah, yang pada tahun 2020 ini memiliki proyeksi akan mencapai angka 10% pada kontribusi premi secara tahunan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Ahmad Sya’roni pada wawancara dengan sebuah media online (5/1/2020).

Beliau juga memaparkan bahwa perkembangan ini dipengaruhi tiga factor utama. Pertama adalh pertumbuhan ekonomi pasca politik yang kondusif, hal tersebut dapat mendukung berkembangnya industri. Kedua, dukungan pemerintah dalam menggerakan ekonomi syariah dan yang ketiga adalah kesadaran masyarakat dan pelaku usaha terkait kebutuhan serta ketersediaan asuransi syariah.

Perkembangan asuransi syariah ini sejalan dengan meningkatnya persaingan dalam industri tersebut. Dengan kondisi seperti ini menuntut lembaga asuransi syariah untuk selalu memperbaiki dan menyempurnakan usahanya agar tetap bisa bersaing dan bertahan dalam industri. Salah satu yang perlu ditingkatkan oleh lembaga asuransi syariah adalah kinerja keuangan dari lembaga itu sendiri.  Kinerja keuangan sangat berperan penting dalam sebuah usaha untuk melihat seberapa besar kekayaan yang dimiliki serta jumlah hutang-hutang yang dimiliki  dan melihat apakah sebuah lembaga asuransi syariah mampu membayar hutangnya dengan aktiva yang dimiliki dan kinerja keuangan dapat dianalisis dengan menggunakan analisis rasio keuangan.

Analisis rasio keuangan merupakan suatu alat analisis yang digunakan oleh suatu perusahaan yang digunakan untuk menilai kinerja keuangan suatu perusahaan melalui data perbandingan yang ada di laporan keuangan seperti laporan laba/rugi, laporan posisi keuangan, dan arus kas perusahaan pada periode akuntansi atau periode tertentu. Berikut penjelasan mengenai rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan rasio profitabilitas.

1. Rasio Likuiditas

Rasio ini digunakan untuk mengukur suatu perusahaan dalam memenuhi finansialnya dalam jangka pendek. Bentuk rasio likuiditas yang digunakan ada 2 yaitu Current Ratio, rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban lancarnya menggunakan aktiva lancarnya. Dan Cash Ratio, rasio yang digunakan untuk mengukur suatu perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya dengan menggunakan kas yang ada dan menggunakan surat berharga atau  efek yang dimiliki perusahaan.

2. Rasio Solvabilitas

Rasio Solvabilitas adalah rasio yang menunjukkan berapa besar jumlah aktiva perusahaan yang dibiayai dengan hutangnya atau didanai pihak luar. Atau dengan arti lain berapa jumlah hutang yang ditanggung suatu perusahaan dibandingkan dengan jumlah aktiva. Macam-macam rasio solvabilitas yang biasa digunakan yaitu : Debt to Asset Ratio, rasio yang menunjukkan berapa besar perusahaan didanai oleh hutang dibandingkan dengan aktiva yang dimiliki perusahaan tersebut. Dan Long Term Debt to Equity Ratio, rasio yang harus mengimbangkan antara jumlah hutangnya dengan jumlah modal yang dimiliki perusahaan. Semakin tinggi angka rasio ini maka semakin sedikit jumlah modal yang dimiliki, yang baik untuk perusahaan sebaiknya jumlah hutangnya tidak boleh melebihi jumlah modal yang ada.

3. Rasio Profitabilitas

Rasio Profitabilitas adalah  rasio yang digunakan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba (profit), dari kegiatan penjualan atau dalam kegiatan pelayanan simpan pinjam. Macam-macam bentuk rasio profitabilitas yang biasanya digunakan yaitu sebagai berikut : Return on Assets Ratio (ROA), rasio yang digunakan untuk melihat suatu perusahaan dalam memperoleh laba dari sumber daya atau aktiva secara efisiensi suatu perusahaan dalam mengelola asetnya dapat dilihat dari persentase rasio ini. Return on Equity Ratio (ROE), rasio ini digunakan untuk melihat atau mengukur kemampuan perusahaan dalam mengelola modalnya, sehingga profit diperoleh dari investasi pemegang saham di perusahaan tersebut.