Header Ads

Curhatan Fitri Pelajar MA Alhidayah Sembilangan Tentang Objek Wisata Sunge Jingkem



Wajah Bekasi comSunge Jingkem menjadi tempat ekowisata yang menghampar indah dinaungi pepohonan bakau dan mangrove yang tinggi, tumbuh sepanjang sungai tersusun bagai tumpukan buku-buku yang rapi, dirawat hingga menghasilkan pemandangan yang asri dan menyegarkan mata. Lokasinya bertempat di Kampung Sembilangan Desa Samudrajaya Rt 001/009, Kecamatan Tarumajaya, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Sebelum menjadi tempat ekowisata yang bagus seperti saat ini,  lokasi yang kini menjadi surga para penikmat alam ini hanyalah sebuah kali yang sepi, rimbun, sejuk dan tentram, hingga pada akhirnya Sunge Jingkem menjadi salah satu destinasi ekowisata mangrove yang tak pernah sepi pengunjung. Jika sebelumnya tempat ini hanya ada pohon-pohon dengan air kalinya yang tenang, sekarang berubah menjadi tempat ekowisata pesisir yang menarik dan terkenal di Kabupaten Bekasi. Menarik untuk dikunjungi dan sering dipilih menjadi lokasi untuk mengabadikan moment berharga seperti prewedding atau sekadar penghias media sosial seperti instagram dan lain-lain.

Mendung belum tentu hujan, air yang pasang belum tentu banjir akan datang, daun yang jatuh bukan berarti pohonnya akan gugur. Sebuah luka hanya perlu obat yang dapat menyembuhkan, curahkan semua hal menyedihkan di atas gelombang air, berjalan di sepanjang titian bambu yang romantis, dikelilingi suasana tenang dan tempat-tempat nyaman untuk istirahat, rekreasi atau sekadar bersandar. Menemukan bahagia nyatanya tidak sesulit pemikiran sempit kebanyakan orang. Terkadang kesederhanaanlah yang akan membawa kita kepada bahagia yang tak terkira. Apalah artinya memuja yang begitu tinggi, tapi tak sadar akan keindahan-keindahan yang tersembunyi di rerimbunan hutan mangrove pesisir. Demikianlah, Sunge Jingkem yang dengan kesederhanaannya mampu menarik banyak wisatawan untuk menikmati suasana dan pemandangan.

Yang datang kami sambut, yang pergi kami persilakan dengan hormat. Ketertarikan hati membuat langkah-langkah kaki mereka menuju tempat ini, tak ada lain kami harap mereka mendapatkan keindahan yang memang mereka cari, dan meninggalkan tempat ini dengan menyadari satu hal, "Yang indah tak harus di kota, air yang sering terbuang-buang, daun-daun yang sering terhempas, jembatan bambu yang dianggap kotor, lukisan tangan yang tak dihiraukan, ternyata bisa menjelma dan berubah menjadi lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi".

Tak melupakan bagaimana perjuangan warga yang berhasil mencapai semua ini, tentunya membutuhkan proses dan kerja keras yang kuat. Namun tidak ada kalimat yang lebih baik daripada ucapan syukur, karena pada akhirnya, satu per satu mimpi Kampung Sembilangan kini terwujud. Rasa bangga, bercampur dengan haru menyaksikan dengan cepat semua itu hadir.

Sebagai manusia biasa, terkadang hanya bisa berharap untuk mendapatkan kekuatan lebih untuk bertahan hidup. Berusaha mengembangkan hal-hal yang menjadi mimpi bersama, jika lelah kita bisa beristirahat, tapi untuk putus asa adalah suatu ketidakmungkinan. Bersama kita bangun apa-apa yang belum sempat kita sudahi. Tak ada kata menyerah untuk mencapai cita-cita. Membunuh ketakutan akan kegagalan, meyakini diri bahwa dengan ini semua usaha kita tidak akan sia-sia.

Anak kembar memang begitu manis, dan hanya orang-orang beruntung yang bisa melahirkan titipan itu. Jika jalan pertama adalah jalan yang buntu, kita pasti punya jalan kedua. Ekowisata Sunge Jingkem, memiliki jembatan kembar yang menarik untuk disinggahi, begitu manis, indah, meniti jembatan bambu menyeberangi kali, dan menjadi pusat perhatian yang paling tinggi. Tapi masih banyak lagi kelebihan tempat wisata ini, yang tidak bisa saya jelaskan melalui tulisan ini. 

Penulis : Fitri IPHI pelajar MA Alhidayah Sembilangan