Header Ads

Zakat Online, Bolehkah?

Zakat Online, Bolehkah?

Oleh : Dzakia Mutawadi’a (Mahasiswi STEI SEBI)

Zakat Online, Bolehkah?

Saat ini teknologi mulai berkembang pesat. Segala kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi membuat berbagai aspek kehidupan kita banyak bergantung pada teknologi. Dalam sisi ekonomi kita juga sudah mulai memadukan teknologi dan internet. Maka tidak heran, kini mulai banyak bermunculan lapak jual beli dengan basis online, atau biasa disebut online shop. 

Selain bisnis jual beli barang, aktivitas jasa pun juga sudah memadukan konsep teknologi ini, seperti dengan adanya ojek online, jasa pembelian makanan, bahkan jasa untuk membersihkan rumah pun juga tersedia dengan konsep online ini. 

Alasan yang sering diungkapkan oleh konsumen dalam melakukan transaksi secara online adalah dengan adanya kemudahan. Tanpa keluar rumah pun konsumen sudah bisa melakukan transaksi tersebut. 

Melihat peluang tersebut para amil zakat (pengelola zakat) berusaha untuk memanfaatkan peluang teknologi untuk mengumpulkan zakat dari masyarakat. Ditambah pula potensi zakat di Indonesia yang cukup besar, menurut BAZNAS potensi zakat di Indonesia mencapai Rp 252 triliun, namun yang diterima baru sekitar 8 triliunan saja. Itu artinya masih banyak zakat yang belum diterima. 

Banyak faktor yang mempengaruhi belum tercapainya seluruh potensi zakat tersebut. Diantaranya belum ada kesadaran dari masyarakat untuk membayar zakat selain zakat fitrah, ketidaktahuan mengenai pembayaran zakat seperti jenis zakat yang harus dikeluarkan, cara menghitung zakat yang harus dikeluarkan, dan bahkan faktor kepercayaan terhadap amil juga bisa mempengaruhi ketidaktercapaian potensi tersebut.

Perkembangan teknologi di bidang ekonomi dan keuangan tentu sebuah penyegaran yang sangat menguntungkan. Praktis dan efisien itulah yang hal yang ditawarkan. Kesempatan inipun dimanfaatkan oleh badan amil zakat, mereka mulai menyediakan sarana membayar zakat dengan online. Berkat system ini amil dan muzakki tidak perlu bertemu untuk melakukan serah terima zakat. 

Namun sebenarnya apakah islam membolehkan zakat dengan cara ini? 
Lalu bagaimana dengan akad zakatnya? 
Apakah sah dihukum islam?

Sebelum membahas pandangan syariat mengenai zakat online, perlu kita pahami terlebih dahulu mengenai mekanisme zakat online ini. 

Dalam memudahkan pembayaran zakat secara online ini biasanya LAZ/BAZ bekerjasama dengan pihak pengelola situs online seperti yang dilakukan oleh BAZNAS yang bekerjasama dengan Mataharimall.com. Dengan kerjasama tersebut calon muzakki ketika hendak membayar zakat secara online harus mengakses situs tersebut, lalu mereka akan diarahkan ke laman yang berisi tata cara pembayaran zakat, bahkan dengan situs tersebut juga tersedia kalkulator zakat, yang mana memudahkan muzakki untuk menghitung zakat yang harus dibayarkan. 

Lalu setelah pengisian data dan penghitungan zakat muzakki bisa membayarkan nominal zakatnya melalui mentransferkan melalui ATM maupun mobile banking. Bahkan kini juga mulai banyak LAZ dan BAZ yang sudah memiliki situs maupun aplikasi untuk pembayaran zakat online ini.

Lalu setelah mengetahui mekanismenya, mari kita bahas bagaimana hukumnya dari zakat online tersebut? 

Apakah sah sesuai dengan syariat? 

Menurut Ustadz Oni Sahroni seorang Ahli Fikih Muamalah dalam bukunya yang berjudul Fikih Muamalah Kontemporer bahwa zakat online itu diperbolehkan. Hal itu didasarkan atas dua alas an, yaitu:

  1. Dalam zakat tidak disyaratkan adanya qabul atau pernyataan penerimaan zakat melainkan yang disyaratkan adalah adanya pernyataan menyerahkan sebagai zakat. Maka pernyataan ini dalam zakat online ini tercermin dari pengiriman atau persetujuan untuk membayar zakat.
  2. Dalam serah terimanya baik transaksi sosial maupun komersial diperbolehkan dalam bentuk fisik maupun non fisik, karena dalam Standar Syariah AAOIFI no. 18 dan para Ahli Fikih menegaskan bahwa islam hanya mensyaratkan serah terima sebagai bukti kepemilikan namun dalam islam tidak diatur mengenai mekanisme sera terima tersebut. Oleh karena itu mengenai teknis serah terima yang menjadi rujukan adalah tradisi di tempat tersebut. Dan di masyarakat kita serah terima non fisik seperti transfer telah dianggap lazim maka hal ini sah sah saja.
Ibnu Taimiyah mengatakan, “Setiap ketentuan yang tidak ada batasannya, baik dalam bahasa maupun syara, maka yang menjadi rujukan adalah tradisi setempat, seperti qabdh yang disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW, "Barangsiapa yang membeli makanan, maka jangan menjualnya sebelum ada serah terima" (HR Bukhari dan Muslim.

Maka dari kesimpulan di atas, zakat online diperbolehkan, karena zakat online tidak melanggarkan ketentuan syariat baik dari segi ijab (penyerahan) maupun serah terima yang berbentuk non fisik, dengan rujukan tradisi masyarakat yang menganggap serah terima non fisik seperti transfer adalah hal yang sah. Maka yuk jangan ragu lagi untuk berzakat.


Sumber :
https://www.google.com/amp/s/amp/tirto.id/cara-bayar-bayar-zakat-online-melalui-situs-web-baznas-dtLd
https://www.google.com/amp/s/m.republika.co.id/amp/oqtk3v327
Fikih Muamalah Kontemporer karya Ust. Dr Oni Sahroni, MA (Republika:2019)