Header Ads

Dakwah Ekonomi Syariah di Era Milenial

Ekonomi adalah salah satu variabel dalam pembangunan. Maka dalam pembangunan sebuah negara kita bisa dengan memulainya dari gerakan-gerakan ekonomi, begitupun dengan Islam. 

Ibnu Kholdun memiliki sebuah teori yang bisa disebut dengan teori Circle of Equity. Di dalam teori ini Ibnu kholdun menghubungkan beberapa vaiabel yang saling mempengaruhi maju atau mundurnya sebuah peradaban. 

Variabel ini dilambangkan dengan G yang artinya pemerintah, S yang artinya syariat, N yang artinya masyarakat, W yang artinya kemakmuran, J yang artinya keadilan dan D artinya pembangunan. 

Maka dalam pembangunan suatu negara semua unsur tersebut haruslah dipenuhi, karena jika ada satu saja unsur yang tidak dipenuhi maka pembangunan itu tak akan tercapai

Gambar Circle of Equity


Dari gambar di atas dapat dilihat setiap komponen saling terhubung, maka artinya kita bisa melakukan pembangunan melalui variabel ekonomi syariah atau variabel S. variabel ekonomi adalah variabel yang paling dekat serta penting dalam kehidupan sehari hari. Karena sejatinya setiap manusia pasti memiliki kebutuhan yang harus dipenuhinya oleh karena itu variabel syariah dapat lebih mudah disebarkan melalui ekonomi. 

Dalam suatu negara yang mungkin penduduknya belum memahami betul tentang ekonomi syariah tentu sangat diperlukan sosialisasi yang menyeluruh mengenai ekonomi syariah ini. Tak hanya sekedar teori teori ekonomi syariah saja namun perlu juga sosialisasi mengenai praktik ekonomi syariah. 

Sosialisasi ini haruslah menyentuh seluruh lapisan masyarakat, tak hanya sekedar pedagang saja atau sekedar anak mudanya saja. Namun semua lapisan masyarakat harus mendapat sosialisasi ini agar kehidupan ekonomi masyarakat dapat tercapai. Ketika seluruh lapisan sudah sapat memahami teori ekonomi syariah dan dapat mempraktekkannya maka kehidupan ekonomi syariah masyarakat (N) akan dengan sendirinya tercapai. 

Ketika seluruh masyarakat sudah sadar akan ekonomi syariah maka kemakmuran dan keadilan ekonomi (J) masyarakat dapat dicapai. Karena sejatinya seluruh alam semesta dan isinya adalah ciptaan Tuhan, maka sudah pasti Allahlah yang Maha Mengetahui seluruh rahasia alam ini, termasuk sistem terbaik yang harusnya dilakukan maka sistem terbaik untuk mencapai kesejahteraan adalah sitem ekonomi syariah yang sesuai dengan ajaran Al Qur’an dan Sunnah. 

Dengan terciptanya masyarakat yang makmur sudah pasti zakat, infaq, wakaf dan shadaqah akan terwujud. Sehingga dan investasi sosial ini dapat digunakan untuk pembangunan (D), seperti pembangunan infrastruktur, subsidi pendidikan, bahkan dapat juga digunakan untuk menunjang sektor produksi sehingga penawaran dan permintaan bisa seimbang maka kondisi ekonomipun menjadi stabil. Ketika ekonomi suatu negara kuat maka kondisi negara/politik dapat dikuasai (G). Karena variabel-variabel tersebut saling berhubungan atau tidak dapat dicapai apabila ada satu variabel yang tidak dipenuhi maka sudah pasti akan sulit untuk mencapai variabel berikutnya, oleh karena itu diagramnya berbentuk lingkaran.

Indonesia saat ini sedang menuju tahap pembangunan ekonomi demi mencapai kemakmuran serta kesejahteraan rakyat. Untuk itu ekonomi syariahpun turut hadir untuk memberikan solusi, hingga saat ini aktivis ekonomi syariah berusaha menggencarkan sosialisasi serta kajian kajian terbarunya mengenai isu ekonomi nasional. 

Keberadaan ekonomi syariah di Indonesia mulai eksis ketika krisis moneter pada tahun 1998. Saat itu banyak bank yang mengalami gulung tikar. Hal itu disebabkan oleh naiknya suku bunga, yang mengakibatkan melambungnya harga barang barang. Saat itu tingkat inflasi mencapai 70%. 

Selain itu nilai tukar rupiahpun melemah, sehingga menyebabkan utang valas perbankan membengkak dan akhirnya banyak bank berjatuhan. Namun saat itu Bank-Bank Syariah tetap bertahan. Hal ini disebabkan karena setiap transaksi dalam keuangan syariah dilandaskan pada underlying asset, bukan berdasarkan spekulasi. Maka dari saat itulah mulai berkembang perusahaan perusahaan yang menerapkan prinsip prinsip syariah. 

Dengan adanya perusahaan perusahaan yang berbasis syariah maka perlu juga regulasi yang mengaturnya sehingga selain didirikannya Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) pada tahun 1997 yang memantau jalannya perusahaan serta lembaga keuangan berbasis syariah, IAI juga mendirikan Dewan Standar Akuntansi Syariah (DSAK) pada tahun 1998, mereka bertugas untuk menyelaraskan standarisasi penyusunan laporan keuangan syariah. Dan saat ini perkembangan ekonomi syariah di Indonesia sudah banyak mengalami perkembangan. 

Namun saat ini pertumbuhan keuangan syariah belum dapat mengimbangi pertumbuhan konvensional ini dapat dilihat dari market share keuangan syariah yang secara keseluruhan masih dibawah 5%. Maka banyak hal yang harus diperbaiki untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia. Termasuk salah satunya adalah sosialisasi ke seluruh masyarakat.

Untuk sosialisasi kepada semua lapisan masyarakat tentu ini bukan hal yang mudah. Namun sebelum mulai untuk sosialisasi perlu bagi kita untuk mengenali objek yang akan kita sosialisasi, termasuk dalam sosialisasi untuk menyebarkan ekonomi syariah ini. Kondisi saat ini sudah masuk ke era milenial dimana penggunaan internet sangat mudah diakses. Sekarang sudah banyak perkembangan inovasi-inovasi berbasis dengan internet dan teknologi, maka kitapun juga harus bisa mengiringi perkembangan zaman ini, karena sejatinya islam itu tidak kaku dan sesuai dengan zaman apapun. 

Ditambah lagi dengan peta demografis penduduk Indonesia yang saat ini di dominasi dengan penduduk usia produktif (15-64 tahun) yang mencapai 68,7% dari populasi seluruh penduduk Indonesia. Dimana usia produktif kini kehidupannya erat dengan internet dan teknologi. Maka hal ini bisa menjadi peluang serta tantangan bagi aktivis pegiat ekonomi syariah. Menurut Abbas As Sisiy dalam buku “Bagaimana Menyentuh Hati” penting bagi aktivis da’wah untuk memiliki inovasi dalam memikat objek da’wah. Karena dengan seiring berkembangnya zaman maka budaya dan karakter masyarakat akan berubah. Seperti saat ini, di era digital sarana da’wah visual lebih banyak diminati. Dan ini akan menjadi tantangan baru bagi aktivis da’wah. 

Para aktivis da’wah ekonomi syariah mau tak mau harus memiliki softskill baik itu untuk membuat poster digital maupun video, sehingga ekonomi syariah akan lebih mudah disebarkan dan lebih menarik bagi generasi milenial. Selain itu, dengan munculnya sosial media akan menjadi lebih mudah untuk disebar luaskan. 

Selain tantangan softskills kita juga punya tantangan, bagaimana agar banyak anak muda tertarik untuk mempelajari ilmu ini. Karena sebagai seorang aktivis ekonomi syariah tentu perlu menguasai ilmu tersebut. Karena salah satu syarat sebagai seorang da’i tentu kita perlu menguasai berbagai bidang ilmu. Tidak mungkin  kan, kita ingin memberi pemahaman kepada seseorang tentang suatu ilmu namun kita tidak menguasai ilmu tersebut? Maka kita harus menguasai ilmu ekonomi syariah ini dengan menyeluruh.

Dengan munculnya berbagai inovasi di bidang teknologi berbasis internet tentu saja kini tak asing dengan fasilitas di bidang hiburan, seperti youtube, game online dan lain sebagainya. Maka kita sebagai pegiat ilmu pengetahuan juga perlu bersaing agar banyak yang tertarik dengan ilmu pengetahuan ini, termasuk ekonomi syariah. Tak bisa dipungkiri saat ini masih banyak masyarakat yang mengakses internet untuk bermain game online. 

Dilansir oleh media online PikiranRakyat.com pemain game online di Indonesia saat ini sebanyak 34 juta orang. Tentu saja ini menjadi salah satu tantangan bagi kita, agar mereka juga tertarik untuk menggunakan internet guna mencari ilmu pengetahuan. 

Namun disisi lain kita juga bisa menjadikan Youtube sebagai peluang da’wah, karena menurut CNNIndonesia.Com 53% dari seluruh masyarakat Indonesia juga terbiasa menonton Youtube. Tentu saja ketika kita memberikan informasi melalui sosial media seperti Youtube dan Instagram tentu kita harus menyesuaikan dengan objek yang ingin kita tuju. Seperti, menggunakan bahasa yang mudah dimengerti, dan membuat konten yang menarik, maka dengan ini kita akan mudah menarik perhatian masyarakat terutama kaum milenial. 

Selain itu juga penting bagi pegiat ekonomi syariah juga melakukan kajian kajian mengenai isu ekonomi syariah terbaru. Karena di era teknologi kini ekonomi juga ikut terpengaruh, seperti dengan adanya Financial Technology. Jangan sampai masyarakat awam yang belum sepenuhnya mengenali teori ini menjadi salah kaprah, sehingga mudah mengharamkan seuatu tanpa adanya kajian khusus terlebih dahulu. Karena ekonomi syariahpun dapat berkembang sesuai dengan zaman. 

Selain Fintech hal yang perlu diwaspadai adalah lembaga keuangan yang menggunakan prinsip riba. Kini masih banyak masyarakat yang terjebak dengan konsep riba, maka perlu bagi kita untuk memahamkan dasar-dasar penting riba. Karena tentu saja pegiat riba pun tak ingin kalah, mereka bisa jadi membuat yang haram menjadi tampak halal.

Oleh karena itu di era milenial ini perlu bagi kita untuk menggali ilmu sebanyak banyaknya. Karena kita wajib untuk memahami sebelum menyebarkan. Selain itu agar kita tak terjebak dalam kondisi abu-abu.

Penulis: Dzakia Mutawadi’a
Angkatan : 2017 STEI SEBI Depok
Judul  : Da’wah Ekonomi Syariah di Era Milenial


Sumber:
Assisi, Abbas; Bagaimana menyentuh Hati; Surakarta : Era Intermedia
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20180509180435-185-297003/penonton-youtube-saingi-jumlah-netizen-yang-tonton-televisi
https://www.pikiran-rakyat.com/ekonomi/2018/08/06/gamer-indonesia-diprediksi-capai-34-juta-orang-428379
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/09/26/suku-bunga-sempat-melonjak-hingga-70-saat-krisis-moneter-1998
https://lipsus.kontan.co.id/v2/perbankan/read/320/perbankan-dalam-pusaran-krisis-moneter
https://www.akuntansionline.id/standar-akuntansi-keuangan-syariah/
https://www.ojk.go.id/id/kanal/syariah/berita-dan-kegiatan/publikasi/Pages/Roadmap-Pengembangan-Keuangan-Syariah-Indonesia-2017-2019.aspx


Tidak ada komentar