Header Ads

Terampil dalam menjalin Persaudaraan Ala Rasulullah SAW

Terampil dalam menjalin  Persaudaraan Ala Rasulullah SAW

Oleh: Anisa Nur Azizah

Terampil dalam menjalin  Persaudaraan Ala Rasulullah SAW

‘’Jagalah  persaudaraan kalian, karena itu merupakan penolong di dunia sekaligus di akhirat. Tidakkah kalian dengar ucapan penghuni neraka; Maka kami tidak mempunyai pemberi syafaat seorangpun dan tidak pula seorang teman yang akrab’’. –Ali. Ra
Dalam sebuah hadist, Nabi SAW Bersabda, ‘’ Sedekah paling utama adalah menjalin hubungan baik dengan sesama’’. 

Percintaan dan persaudaraan karena Allah SWT adalah salah satu bentuk pendekatan diri kepada-Nya dan ketaatan terlembut dalam aliran kehidupan. Ia selalu dibaluti oleh kasih sayang. Kasih sayang merupakan buah akhlak mulia. 

Akal sehat merupakan modal utama dan pondasi dalam membangun persahabatan. Yang dimaksud dengan akal sehat ialah dapat memahami sesuatu sebagaimana adanya, baik dengan sendiri maupun penjelasan dari orang lain. 

Pada hakikatnya, yang diinginkan dari persahabatan adalah manfaat agama dan manfaat duniawi. Manfaat agama, seperti manfaat ilmu, manfaat kedudukan demi menjaga diri, dan lainnya. Manfaat duniawi, seperti pinjam meminjam uang, jaringan bisnis, dan lain sebagainya. 

Bagaimana agar terampil menjalin persaudaraan?


Ikatan persaudaraan dan persahabatan karena Allah SWT adalah hubungan antara dua orang atau lebih yang saling meridhoi. Untuk menjalin hubungan yang harmonis, ikatan ini  membutuhkan hak dan kewajiban bagi setiap pelakunya, seperti halnya sebuah ikatan pernikahan. Berikut adalah delapan kewajiban dan keterampilan dalam menjalin sebuah persaudaraan, diantaranya:

Pertama, adalah bantuan materi. Rasulullah SAW bersabda, “Dua orang yang bersaudara ibarat sepasang tangan, yang satu membasuh yang lainnya”. Maksudnya adalah persaudaraan akan tersa utuh ketika mereka berada dalam satu tujuan. Hal ini menuntut kebersamaan baik dalam keadaan suka maupun duka serta menundukkan nafsu untuk berkuasa dan mementingkan diri sendiri.

Kedua, adalah memberikan pertolongan dalam memenuhi kebutuhan tanpa harus diminta lebih dahulu dan memprioritaskan kebutuhan saudara di atas kebutuhan sendiri. Hendaknya seseorang memperhatikan atas keperluan saudara nya sama halnya ia memperhatikan keperluan nya sendiri, atau bahkan lebih penting keperluan saudaranya. 

Ketiga, menyangkut lidah, yang pada saat tertentu harus diam dan pada saat lain harus berbicara. Hendaknya kita tidak menyebutkan sesuatu keburukan maupun kesalahan saudara kita baik didepan maupun di belakang nya. Serta wajib berdiam diri terhadap setiap pembicaraan yang tidak menyenangkan saudara kita. 

Keempat, adalah menggunakan lidah untuk berbicara yang lugas. Umar Ra berkata, “ ada tiga jalan untuk menunjukkan cinta persaudaraan yang tulus yaitu berilah sambutan yang hangat sewaktu bertemu dengannya, buatlah ia merasa senang akan perkataan m, dan panggilah dia dengan nama kesayangannya”.

Kelima, memaafkan kesalahan dan kekurangannya. Manusia adalah tempatnya khilaf dan salah. Maka itu ketika saudara kita melakukan suatu kesalahan, hendaklah menasehati nya dengan cara yang baik dan membenarkan kembali ke jalan yang lurus. Janganlah kita membenci dan menjauhi hubungan dengan saudaramu dan janganlah jauhi dia karena dosa yang diperbuatnya, sebab boleh jadi ia begitu hari ini tetapi tidak besok.

Keenam, mendoakan saudara baik ketika ia masih hidup maupun setelah ia meninggal. Hendaklah seseorang berdoa untuk saudaranya sebagaimana ia berdoa untuk diri nya sendiri, tanpa sama sekali membedakan antara kita dan dia. Doa kita baginya pada hakikatnya adalah doa bagi diri kita sendiri.

Ketujuh, adalah kesetiaan dan ketulusan. Kesetiaan adalah keteguhan sampai mati dalam cinta kasih dengan saudara kita, serta dengan anak dan sahabatnya setelah ia meninggal. Nabi SAW bersabda, “Di antara tujuh orang yang Allah tempatkan dalam naungan Nya adalah dua orang yang saling bercinta kasih karena Allah SWT dan tetap demikian ketika bertemu maupun berpisah”. 

Kedelapan, menghilangkan ketidaknyaman dan kecanggungan. Seorang bijak ditanya, “Siapakah yang patut kita jadikan kawan?”, sang bijak pun menjawab “Orang yang tidak memberatkanmu dengan perasaan canggung dan tidak merepotkanmu dengan segala formalitas”.

Demikian kewajiban-kewajiban seseorang terhadap saudaranya. Hal tersebut akan terwujud sempurna kecuali jika kewajiban itu dibebankan atas diri kita untuk kepentingan saudara kita, bukan dibebankan atas diri mereka untuk kepentingan kita. 

Jika kita menginginkan kehidupan sosial yang baik, maka bersikaplah baik kepada kawan maupun lawan. Pergauli mereka dengan akhlak mulia kita, dengan harga diri yang terbebas dari tinggi hati dan kesederhanaan yang bebas dari rendah diri. Dalam semua urusan ambillah jalah tengah nya. Semoga. 

Referensi:
-Al ghazali, Imam. 2009. Terampil Bersahabat Dengan Siapa Saja: Kisah Sukses Rasulullah dan Ulama Salaf Menjalin Persaudaraan, Persahabatan, dan Pergaulan. Jakarta: Zaman. 

Penulis: Anisa Nur Azizah Mahasiswa STEI SEBI Depok
Editor: Bisotisme 

Tidak ada komentar