Header Ads

Perempuan Berbisnis Menurut pandangan Islam

Perempuan Berbisnis Menurut pandangan Islam

( Oleh : Indah Sri Wahyuningsih )
Mahasiswi STEI SEBI

Perempuan Berbisnis Menurut pandangan Islam

Perkembangan semakin pesat, di zaman ini tidak lagi tertinggal oleh apapun semua yang dicari pasti ada terutama dalam membangun sebuah keinginan. 

Sebagai seorang perempuan yang berkarakter dan mempunyai skill serta keterampilan dalam dirinya pasti akan mendominasi tipe perempuan tersebut. Dengan kata lain perempuan yang percaya diri adalah mereka yang mampu mengawali karir dan kesuksesannya. 

Keinginan bisa mengaktualisasikan diri dan berperan dalam masyarakat dan bermotivasi besar bagi perempuan mau berkecimpung dalam dunia wirausaha. 

Dalam jurnal terkemuka bidang ekonomi dan bisnis, memberikan bukti bahwa dari 46 juta UMKM di Indonesia, 60% pemiliknya ialah perempuan. Meskipun sebagian besar dari perempuan yang berbisnis masih berada di tataran UMKM, namun fakta ini mengindikasikan bahwa perempuan sudah bergerak lebih proaktif daripada bayangan masyarakat.

Lalu, bagaimana menurut syari’ah islam bagi perempuan yang berbisnis dengan segala kiprahnya? Bagaimana baiknya kodrat seorang perempuan dalam berbisnis. 

Perempuan bekerja dan berbisnis itu diperkenankan menurut syariah. Bahkan dalam kondisi tertentu itu dianjurkan, atau diwajibkan, dengan rambu-rambu syariah yang harus diperhatikan. Menjaga adab-adab sebagai seorang muslimah. Memastikan bahwa jenis profesi dan pekerjaannya tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai istri dan ibu, serta mendapatkan izin dari suami.


Ada beberapa yang harus diperhatikan sebagai seorang muslimah : 


Pertama, menjaga adab-adab sebagai seorang muslimah, diantaranya menghindari tabarruj dan khalwat yang menyebabkan fitnah, dan memastikan usahanya halal, seperti industri keuangan dan bisnis syariah. 

Kedua, (khusus untuk istri dan ibu rumah tangga) memastikan bahwa jenis profesi dan pekerjaannya tidak meninggalkan tugas utamanya sebagai istri dan ibu, karena tugas utama seorang istri adalah melayani suami agar keluarganya sakinah, dan apabila ingin berbisnis harus mendapatkan izin dari suami, agar suami bisa bijak dan proporsional dengan mempertimbangkan kondisi antara idealita dan realita. 

Karena pada dasarnya, tanggung jawab nafkah ada pada suami sehingga visi bekerjanya adalah untuk melengkapi kiprah suami dalam memenuhi kebutuhan finansial keluarga, seperti pendidikan, kesehatan, dan investasi jangka panjang.

Oleh karena itu, memilih jenis bisnis atau pekerjaan yang menguntungkan, tetapi juga menunaikan adab-adab pebisnis muslimah dan tanggung jawab seorang istri atau ibu menjadi keniscayaan. Berdasarkan Al-qur’an, al-hadis dan maslahat berikut

“ Sesungguhnya aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain”. (Qs. Ali-imran : 195) 

“ Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya.” (Qs. Al-mulk : 20)

“ Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian keluar dari rumah untuk memenuhi hajat dan kebutuhan kalian “. ( HR. Bukhari dan Muslim )

Oleh karena itu, profesi sebagai seorang pengusaha (pelaku bisnis) itu bagian dari memenuhi kebutuhan di luar rumah. Sirah, diantara contohnya adalah Ummu Qailah pernah datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk mengenai pengelolaan jual beli. 

Asy-syifa, yang ditugaskan oleh khalifah Umar bin Khattab sebagai petugas yang mengatur manajemen perdagangan kota Madinah. Siti khadijah adalah pebisnis yang sukses dan dijuluki at-thahirah (bersih suci). Ia memberikan seluruh hartanya untuk islam. walaupun kekayaannya melimpah, ia tetap hidup sederhana dan taat kepada suami dan tidak melalaikan kewajiban sebagai seorang ibu.

Saat ini, kaum hawa telah berkiprah dengan sangat baik di dunia ekonomi syariah, baik di dunia ekonomi syariah, baik di industri keuangan, bisnis, atau filantropi. Seperti di bank syariah asuransi syariah, pembiayaan syariah, manajer syariah, lembaga zakat dan wakaf, dan lain-lain. 

Bahkan kiprah dan kontribusi kaum hawa menjadi bagian dari perjalanan ekonomi syariah khususnya di Indonesia. 

***

Referensi : 
Buku “ Fikih Muamalah Kontemporer “ Membahas Ekonomi Kekinian Oleh : Ust. Dr. Oni Syahroni, MA

Penulis:  Indah Sri Wahyuningsih, Mahasiswi STEI SEBI
Editor Bisotisme

Tidak ada komentar