Header Ads

Islamic Invesment Fund, Alternatif Mudah dan Halal Berinvestasi

Islamic Invesment Fund , Alternatif Mudah dan Halal Berinvestasi

Oleh: Anisa Nur Azizah - Akuntansi Syariah STEI SEBI 

Islamic Invesment Fund, Alternatif Mudah dan Halal Berinvestasi
Yuk nabung saham!, kalimat yang sudah tidak asing lagi di dengar. Slogan ini pernah menjadi  perbincangan pada waktu tempo yang lalu. Akan tetapi, masih banyak masyarakat awam acuh tak acuh terhadap hal ini. 

Perspektif masyarakat bahwa investasi pasar modal identik dengan spekulasi, bahkan ada yang beranggapan saham itu judi. Padahal dalam islam Allah memerintahkan agar asset yang dimiliki seseorang terdistibusi, sehingga kekayaan tersebut benar-benar dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, tidak untuk ditimbun begitu saja.  

Hal ini menjadikan tingkat literatur keuangan pasar modal syariah dalam negeri sangat rendah. Maka dari itu, perlu adanya model baru untuk mengantisipasi pertumbahan pasar modal atau saham dalam negeri (Indonesia). 

Pada era globalisasi ini, perkembangan produk lembaga non bank semakin pesat. Salah satunya adalah instrumen islamic invesment fund (reksadana syariah). Raksadana syariah memiliki andil yang besar dalam perekonomiaan nasional. Karena reksadana syariah dapat memobilisasi perumbuhaan ekonomi dan perkembangan perusahaan- perusahaan baik BUMN maupun swasta. 

Bedasarkan data statistik dari Badan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan bahwa reksadana syariah di inesia mengami pertumbuhan yang cukup signifikan. Pada Agustus 2017 pertumbuhan Nilai Aktiva Bersih (NAB) mencapai 38,25 persen dan terdapat 160 produk reksadana syariah per Agustus 2017. Melihat hal ini, masyarakat sebagai pelaku ekonomi menjadikannya peluang untuk berinvestasi dan memeroleh laba dari investasinya. 

Pada akhir tahun 2017 lalu, instrumen reksadana sudah berkontribusi terhadap industri keuangan non bank, yaitu menembus 6,19%. Dan akan diprediksi pada tahun ini akan terus meningkat. Pada 2017 lalu, bedasarkan Badan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan, total aktiva bersih dari dana keleloaan reksadana syariah menembus angka Rp 28,31 triliun atau sebesar 6,19%. Jumlah ini dikategorikan cukup besar dibandingkan total dana kelolaan pada penghujung 2016 yang hanya mencapai 4,40%. 

Menurut saya, melihat perkembangan reksadana yang cukup signifakan, dapat menjadi peluang bagi investor pemula atau pemodal lokal, produk ini menjadi jalan keluar bagi mereka yang tidak dapat berinvestasi di pasar modal saham atau bursa efek. Instrumen reksadana syariah menawarkan produk yang mudah dengan modal yang relatif kecil, biasanya hanya dengan uang sebesar Rp 100.000 saja pemodal sudah dapat berinvestasi di reksadana syariah.

Apalagi mayoritas penduduk indonesia adalah beragama islam, mereka membutuhkan wadah yang tepat dan amanah untuk dapat mengalokasikan dana yang mereka miliki. Selain itu, asset harus bersih dari riba dan terhindar dari maysir. Sehingga terciptanya pendapatan yang halal. 

Pada prinsipnya bermuamalah itu diperbolehkan selama hal itu tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah syariat islam. Dalam buku fiqh islami dan Madzhab Hambali serta fuqaha lainnya menyebutkan,
“Prinsip dasar dalam transaksi dan syarat-syarat yang berkenan dengannya boleh diadakan, selama itu tidak benrtentangan dan dilarang nash syariat”.

Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang beriman, penuhilah akad-akad itu”. (QS. Al Maidah : 1).

Apa itu reksadana syariah?

Reksadana merupakan wadah penghimpun dana bersama milik investor maupun masyarakat yang dioperasikan oleh perusahaan investasi dan menginvestasikannya ke dalam bentuk suatu portofolio. Reksadana Syariah beroprasi hampir sama dengan reksadana konvensional, hanya saja prinsip yang diterapkan reksadana syariah harus bedasarkan prinsip nilai-nilai keislamanan dan tidak melanggar syariat islam. 

Terdapat dua akad yang digunakan dalam produk reksdana yaitu mudharabah dan wakalah. Mudharabah adalah akad dimana shahibul maal (pemilik harta) memberikan hartanya kepada mudhrib nya untuk dikelola dengan ketentuan bahwa laba yang diperoleh akan dibagi sesuai dengan kesepakatan bersaama.Wakalah adalah pelimpahaan kekuasaan oleh suatu pihak dengan pihak lainnya. Pemodal adalah sebagai shahibul maal (pemilik harta) dan manajer investasi sebagai wakil shahibul maal. Akad mudharabah dilakukan oleh pihak fund manajer dengan perusahaan, sedangkan akad wakalah dilakukan oleh pihak investor dengan fund manajemen

Mengapa harus reksadana syariah?

Sebagai seorang investor perlu paham akan dimana ia akan mengalokasikan asetnya, jangan sampai seorang investor salah tempat, sehingga menyebabkan kerugian dikemudian hari. Maka itu, alangkah baiknya seorang investor mempertimbangkan financial nya, yaitu mempertimbangkan return (keuntungan) yang diperoleh dan risk (resiko) dari investasi nya. 

Pada pasalnya, produk reksadana menawarkan produk investasi yang mudah dan halal dalam menanamkan modal nya. Karena banyak manfaat yang diperoleh dari produk tersebut. Diantaranya manfaat produk reksadana syariah, sebagai berikut:

1. Dana relatif kecil

Dalam investasi produk reksadana hanya perlu dana yang reatif kecil untuk menanamkan modal di pasar reksdana, dengan uang sejumlah Rp 100.000 saja sudah dapat berinvestasi di reksadana dibandingkan berinvestasi di pasar modal atau bursa efek yang membutuhkan dana besar. 

2. Likuiditas 

Investor yang membeli produk reksadana open-end (terbuka) dapat menjual kembali kepada penerbitnya setiap saat dan penerbit secara hukum wajib untuk membelinya sesuai harga pasar yang berlaku pada saat itu. Dengan demikian, reksdana lebih likuid dibandingkan saham atau obligasi di bursa efek. Karena ketika investor membutuhkan dana mendadak dapat menjual dan mencairkan modalnya di reksadana.

3. Diversifikasi

Investasi dalam rekasdana di back up dengan sekelompok instrumen di psar modal atau uang. Kelompok tersebut selalu berubah setiap saat untuk mencapai nilai maksimum dari portofolio yang bersangkutan. Untuk mengurangi resiko ini, maka portofolio didiversifikasikan ke tingkat yang paling optimal. Sehingga,  pemodal kecil dengan dana yang terbatas juga dapat merasakan manfaat diversifikasi yang diperoleh layaknya pemodal besar. 

4. Transparansi informasi

Dalam praktiknya lembaga reksadana wajib memberikan informasi terkait perkembangan portofolio investor, sehingga mereka dapat memantau perkembangan deviden maupun capital gain, biaya, dan tingkat resiko yang akan ditanggung oleh investornya. 

5. Manajemen profesioanal 

Pengelolaan porofolio reksadana syariah dilakukan oleh orang-orang yang memiliki keahlian khusus, yaitu manajer investasi yang sudah memiliki izin sebagai penasihat investasi dalam bidang pengelolaan dana yang didukung informasi dan akses informasi pasar modal yang lengkap. Karena pasalnya manajer investasi memiliki peranan penting dalam kegiataan transaksi pasar modal reksadana syariah. 

6. Pelayanan bagi pemegang saham

Rekasadana syariah adalah instumen yang menawarkan daya tarik kepada pemegang saham nya, misalnya dengan menjanjikan untuk re-investasi terhadap deviden dan capital gain secara otomatis yang sebenarnya diterima oleh nasabah. 

Berinvestasi pada reksadana tidaklah sulit, investor hanya perlu menghubungui manajer investasi reksadana, lalu calon nasabah  mengisi formulir penyertaan modal atau pembelian unit reksadana dan pemodal mentransfer dana atau asset nya ke pihak bank kustodian. Setelah itu, bukti penyertaan modal dari bank diberikan kepada pihak manajer investasi untuk dicatumkan resmi dalam prospektus reksadana. Prospektus reksadana merupakan buku keterangan bagi pemodal yang berkaitan dengan kegiatan transaksi modal rekasadana.

Akan tetapi, disisi lain dalam berinvestasi di reksadana tentu saja ada risk (resiko) yang mungkin akan dihadapi investor dalam kegiatan transaksi instumen reksadana. Namun, investasi reksadana syariah relatif mudah dibandingkan kegiatan transaksi dalam saham-saham di bursa efek yang memiliki permasalahaan kompleks. 

Pertama, resiko likuiditas. Resiko ini terkait dengan kesulitan yang dihadapi manajer investasi ketika pemegang modal melakukan redemption atau penjualaan kembali atas unit-unit yang sudah dimilikinya. Sehingga manajer kesulitan dalam memenuhi dana atas redemption tersebut. 

Kedua, resiko pasar. Hal ini terjadi karena nilai sekuritas efek bersifat fluktuasi sesuai dengan kondisi ekonomi secara umum. Terjadinya fluktuasi ini berpengaruh terhadap pada nilai bersih portofolio. 

Hal ini, dapat diminimalisir risikonya dengan investor menanamkan modal kecil tetapi dilakuakan secara berkala. Sehingga ketika terjadinya fluktuasi, kerugian investor terhadap Nilai Asset Bersih relatif kecil. 

Ketiga, resiko spesifik. Yaitu resiko yang terdapat dari setiap sekuritas yang dimiliki. Setiap portofolio sekuritas dapat turun nilainya jika kinerja suatu perusahaan juga menurun. Ataupun perusahaan yang mengalami default, tidak dapat membayar kewajibannya. []


*tulisan merupakan kiriman dari penulis ke email redaksi. Anda dapat berpatisipasi dengan mengirimkan tulisan berupa berita / artikel / opini ke Website WajahBekasi.com. Caranya mudah yaitu dengan cara mengirimnya ke email: redaksiwajahbekasi@ gmail.com 

Tulisan yang sesuai dengan kriteria Website WajahBekasi.com dan visi misi WajahBekasi.com akan diterbitkan.
Cantumkan identitas dan nomor telepon Anda untuk memudahkan WajahBekasi.com mengkonfirmasi berita yang Anda kirimkan.

Tidak ada komentar