Header Ads

Curhatan Sopir Ambulance Yakesma Bekasi

Keranji , Wajahbekasi.com , Sopir ambulans bukan pekerjaan sepele. Meski tinggal duduk di belakang kemudi, pekerjaan itu membutuhkan nyali besar. Beberapa kejadian di sepanjang jalan bisa menjadi ajang uji nyali bagi pengemudi.

Di depan markas  YAKESMA keranji Kota Bekasi sopir ambulans tersebut, deretan kendaraan pengangkut pasien berjejer stand by. Para sopir itu bekerja 24 jam.

Mereka harus siap setiap saat mengantar pasien dengan ambulans. Satu ambulans biasanya diisi dua sopir, yakni satu sopir utama dan satu lagi sopir cadangan. Itu biasanya berlaku untuk rute pengantaran hingga luar kota. Dengan pertimbangan jarak dan waktu, dua sopir itu bisa saling bergantian.

Di ruangan itu, suka duka sopir ambulans tergambar. Saat sepi order mengantar pasien, praktis mereka hanya menunggu di pos. Sehari pun kadang bisa kosong. Namun, saat padat, seluruh kru dipastikan dikerahkan untuk mengantar pasien. Bahkan, sopir yang sudah pulang kerja terpaksa dipanggil untuk menjalankan tugas tambahan.

Ari sugianto atau sehari hari di panggil Bang Alay menuturkan , Itu pun belum cukup. Menyetir ambulans tidak bisa disamakan dengan mengendarai mobil pada umumnya. Kondisi mobil ambulans yang memiliki pemisah antara pasien dan kabin menjadi salah satu masalah. Saat jarak jauh, kondisi fisik dan kenyamanan menjadi taruhan. Sebab, posisi duduk tidak bisa disandarkan ke belakang. Otomatis, posisi tubuh nyaris tegak 90 derajat.

Bisa dibayangkan bila rutenya adalah Bekasi ke lampung dengan jarak puluhan km yang membutuhkan waktu enam jam lebih . Selama enam jam menyetir itu, posisi sopir harus duduk tegak. Punggung terasa kaku meski menyempatkan diri untuk beristirahat di sela perjalanan. ’’Punggung bisa pegal karena jok tidak bisa disandarkan ke belakang,’’ ungkap Hadi, salah seorang sopir ambulans.

Belum lagi suasana ambulans saat mengantar pasien. Bila pasien yang diantar masih sehat atau hidup, suasana bisa santai. Berbeda bila pasien yang diantar sudah meninggal. Bagi orang awam, tentu mereka menilai suasana ambulans akan hening dan sedikit menyeramkan.

Bang Alay mengungkapkan pengalamannya. Saat mengantar jenazah, karena lelah selama perjalanan, dia memutuskan untuk berganti posisi dengan sopir cadangan. Dengan posisi kendaraan berjalan, dia berusaha merebahkan diri. Kursi depan yang posisinya sama dengan kursi sopir yang tidak disandarkan membuat dirinya tidak bisa tidur dengan posisi duduk.

Dia lantas memilih untuk tidur di bagian belakang mobil. Tidak adanya kursi yang memadai di bagian belakang membuatnya memilih nekat. Hadi tidur dengan berbaring meski bersebelahan dengan posisi jenazah. ’’Sudah sangat mengantuk dan capek. Tidur bersebelahan dengan mayat sudah tidak masalah,’’ katanya.

Bukan itu saja. Mengantar pasien dalam perjalanan jauh pun tidak bisa sembarangan. Misalnya, saat kru ambulans hendak beristirahat dan sekadar mengisi perut. Mereka tidak bisa memarkir kendaraan persis di depan halaman rumah makan. Mereka biasanya berjalan kaki dengan meninggalkan kendaraan minimal 100–200 meter dari rumah makan.

Selain itu, menjadi sopir ambulans tidak bisa sembarangan. Mereka telah mendapat pembekalan dan keterampilan dalam penanganan pasien. Termasuk tata cara penggunaan ambulans berikut lampu rorator yang menjadi ciri khas kendaraan tersebut. ’’Nyetir ambulans ada aturannya,’’ tegasnya.

Batas kecepatan ambulans adalah 60 km per jam. Rorator yang dihidupkan pun harus memenuhi kriteria, yakni khusus untuk pasien yang belum mendapat penanganan medis. Bila lampu rotator dihidupkan saat pasien sudah mendapat perawatan medis, psikis pasien bisa terdampak.

’’Ada pasien yang mengeluh kondisinya gawat dan hampir meninggal. Makanya, sopirnya ngebut dan pakai lampu (rotator),’’ tandasnya.

Tidak heran, sesama pengemudi ambulans pun, mereka memiliki gaya dan karakter sendiri dalam mengemudi. Masing-masing memiliki julukan untuk sekadar mengisi waktu saat di kendaraan maupun di pos. Julukan yang melekat pada sopir ambulans itu tidak jauh dari pembalap grand prix seperti Valentino Rossi hingga nama pembalap lainnya. (fadil)