Header Ads

Hutang Luar Negeri Indonesia dalam Pandangan Islam

Hutang Luar Negeri Indonesia dalam Pandangan Islam

Hajar Karimah (Mahasiswa STEI SEBI)


وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Al-A’raf:96)

Indonesia adalah salah satu negara berkembang di dunia yang sedang banyak melakukan pertumbuhan untuk menunjang kemajuan perekonomiannya.Tidak hanya dari dalam negeri,Indonesia juga mendatangkan sumberdaya ekonomi dari negara-negara lain untuk memberikan dukungan yang cukup bagi pelaksanaan program pembangunan ekonomi nasionalnya.Sumberdaya modal adalah sumberdaya yang paling sering didatangkan oleh pemerintah untuk mendukung pembangunan nasional adalah penanaman modal asing (direct invesment), berbagai bentuk investasi portofolio (portfolio invesment) dan pinjaman luar negeri.Tentunya akan ada kesepakatan dan konsekuensi dari kerjasama tersebut baik yang merugikan maupun menguntungkan Indonesia sendiri.

Hutang luar negeri sendiri akan mempengaruhi pertumbuhan yang dilakukan Indonesia menjadi meningkat dalam batas tertentu,namun jika sudah melewati batas Debt Service Ratio (DSR) maka akan menghambat perekonomian. DSR akan berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. semakin tinggi DSR, maka semakin besar sumber daya yang dialokasikan untuk membayar pokok dan bunga utang dan semakin rendah pula dana yang dialokasikan untuk mengembangkan perekonomian.Artinya, pertumbuhan ekonomi pun semakin menurun.

Salah satu hal yang disoroti oleh ekonomi islam dari kerjasama Indonesia dengan luar negeri adalah bunga yang dihasilkan dari hutang-hutang tersebut.Tentunya telah diketahui bersama bahwa islam telah menghapus penggunaan riba dalam transaksi jual beli dan hutang piutang.Penghapusan sistem riba dalam ekonomi sejatinya adalah penghapusan ketidakadilan dan penegakan keadilan.Kita bisa melihat ke belakang dimana saat terjadi krisis moneter 1997.saat itu banyak bank konvensional yang tidak bisa menghadapi krisis moneter di tahun tersebut karena suku bunga yang tinggi dan akhirnya mengalami negatif spread.Berbeda dengan bank syariah yang tidak terpengaruh oleh krisis moneter dan terbebas dari negatif spread karena tidak menggunakan sistem riba.

Bunga atau riba telah diharamkan oleh islam karena mengandung unsur eksploitasi yang dapat merugikan orang lain.Selain tidak bermoral,riba juga akan menghambat aktivitas masyarakat sehingga yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin.

Di dalam Al Quran,banyak ayat yang membahas tentang diharamkannya riba ini,salah satunya adalah di surat Al Baqarah ayat 275 yang artinya “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila.Yang demikian itu karena mereka berkata bahwa jual belu sama dengan riba.Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya,lalu dia berhenti,maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah.Barangsiapa mengulangi,maka mereka itu penghuni neraka,mereka kekal di dalamnya”.

Dengan ini,sistem riba yang digunakan oleh pemerintah Indonesia ketika melakukan hutang luar negeri akan berdampak buruk pada berbagai sektor karena yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntunan dalam islam yang telah jelas mengharamkan riba.Dimana telah diketahui bersama bahwa sebagai umat islam harus selalu menjauhi apa yang telah dilarang oleh Allah dan selalu menjalankan perintah-Nya agar negeri ini selalu mendapatkan keberkahan.

Telah disebutkan bahwa hutang luar negeri Indonesia akan mendorong pertumbuhan ekonomi namun bisa berdampak buruk juga karena tidak seimbang dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang semakin meningkat setiap tahunnya.kemiskinan disebabkan oleh tingkat pendidikan di Indonesia yang cenderung rendah dibandingkan dengan negara-negara lain.Dalam pandangan islam,menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim dan juga menuntut ilmu sampai jauh sangatlah dianjurkan.Tingkat pengangguran yang tinggi disebabkan oleh sedikitnya lapangan pekerjaan yang tersedia sehingga daya serap angkatan kerja masih sangat rendah.Tingkat pengangguran dapat ditekan apabila pola pikir orang-orang Indonesia diubah dari yang tadinya bagaimana menjadi karyawan menjadi bagaimana membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.Cara ini juga sesuai dengan ajaran islam yaitu bagaimana seseorang bisa bermanfaat bagi orang lain.

Quran surat Al-A’raf ayat 96 menjelaskan bagaimana sebuah negeri yang ketika seluruh penduduknya beriman dan bertakwa maka Allah memberikan keberkahan kepada negeri tersebut.Jika di Indonesia masih banyak yang melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah seperti sistem bunga pada hutang luar negeri pemerintah,maka keberkahan tidak akan datang pada setiap sektor dan yang akan terjadi adalah Azab Allah yang akan datang kapan saja.Edukasi kepada masyarakat juga sangat penting agar lebih banyak yang mengerti mengenai sistem yang seharusnya diterapkan pada negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia.


*tulisan merupakan kiriman dari penulis ke email redaksi. Anda dapat berpatisipasi dengan mengirimkan tulisan berupa berita / artikel / opini ke Website WajahBekasi.com. Caranya mudah yaitu dengan cara mengirimnya ke email: redaksiwajahbekasi@ gmail.com 

Tulisan yang sesuai dengan kriteria Website WajahBekasi.com dan visi misi WajahBekasi.com akan diterbitkan.
Cantumkan identitas dan nomor telepon Anda untuk memudahkan WajahBekasi.com mengkonfirmasi berita yang Anda kirimkan.