Header Ads

Menjadi bagian Dari Umat Terbaik


Menjadi Bagian Dari Ummat Terbaik
Penulis: Rafly Pirmansyah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman dalam Q.S. At-Tiin (95):4. 
Artinnya: “Sungguh kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Al-Hafidz Al-Qurthubi rahimahullah berkata:”Abu Bakar bin Thahir berkata:”(manusia) dihiasi dengan akal, sanggup melaksanakan perintah, mendapatkan petunjuk untuk bisa membedakan sesuatu, tegak perawakannya, dan mengambil makanannya dengan tangan.” (Tafsir Al-Qurthubi)
Telah kita ketahui dari ayat dan tafsiran ayat di atas, bahwa manusialah makhluk ciptaan Allah yang sempurna. Kenapa bukan malaikat yang menjadi makhluk Allah yang sempurna? Padahal malaikat adalah makhluk yang pasti tunduk kepada setiap perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Jawabannya sederhana, Allah menciptakan manusia dengan dibekali akal dan nafsu. Sedangkan malaikat hanya dibekali akal, begitu juga hewan hanya dibekali nafsu. Jadi, malaikat tidak akan bermaksiat kepada Allah karena tidak adanya godaan nafsu, dan hewan tidak dibebankan ibadah kepada Allah karena tidak dibekali akal. Berbeda dengan manusia, ketika manusia taat kepada Allah dan bisa menahan nafsunya untuk tidak maksiat kepada Allah, maka derajat manusia lebih mulia dibandingkan malaikat. Dan sebaliknya ketika manusia tidak taat dan berbuat maksiat kepada Allah, maka derajat manusia lebih rendah dari pada hewan.
Selain itu, diperinci lagi, bahwa kita sebagai umat muslim merupakan umat terbaik dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala, berfirman dalam Q.S. Ali-Imran:110.
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Yang dimaksud ummat terbaik disini adalah ummatnya Nabi Muhammad SAW., yaitu manusia akhir zaman yang dimana tidak akan ada lagi nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Yang dimana ummat Nabi Muhammad akan tetap menjadi yang terbaik karena sebab-sebab berikut:
1. Menyuruh Kepada Yang Baik (Makruf)
Makruf disini yaitu segala hal baik menurut syara’ maupun menurut kebiasaan manusia, selagi kebiasaan tersebut tidak bertentangan dengan syara’. Begitu pula norma-norma yang sudah berlaku di maksyarakat dan tidak bertentangan dengan syara’ itu juga disebut makruf dan ummat Nabi Muhammad SAW., diwajibkan untuk menegakkannya.

Akan tetapi menyuruh kepada yang baik, merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Hal ini karena seorang yang menyuruh haruslah mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat. Sehingga hal hal ini menganjurkan pula kepada ummat Nabi Muhammad SAW., untuk menjadi pemimpin. Karena ketika menjadi pemimpin, dia bisa mengambil kebijakan, dan dia mempunyai kekuasaan. Ataupun setidaknya, ketika kita tidak sanggup menjadi pemimpin, maka kita sudah seharusnya menjadi pendukung bagi pemimpin dari golongan ummat islam yang benar-benar memperjuangkan kepentingan ummat islam.

2. Mencegah dari Hal-hal yang Mungkar
Mungkar yaitu segala sesuatu yang tidak dikenal sebagai kebaikan, baik oleh syara’ ataupun oleh masyarakat selagi tidak bertentangan dengan syara’. Oleh karena itu budaya yang ada di masyarakat tidak boleh dilanggar, selama budaya tersebut tidak bertentangan dengan syara’. Karena bila kita melanggar budaya tersebut, sama saja kita melakukan kemungkaran, walaupun hal tersebut tidak melanggar syara’.

Hadits Nabi, dari Abu Sa’id Al-Khudri r.a., ia berkata,” aku mendengar Rasulullah SAW., bersabda,”barang siapa diantara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaklah dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi, maka hendaklah dengan hatinya, sesunggguhnya itulah selemah-lemah iman.” (H.R. Muslim)

3. Beriman kepada Allah Dengan Kokoh
Telah nyata musuh kita adalah syaitan. Yang dimana syaitan/iblis telah berjanji dan bersumpah dihadapan Allah SWT., akan menggelincirkan iman yang ada dalam hati keturunan Nabi Adam a.s., sehingga manusia menjadi pengikutnya dan dapat menemaninya di dalam neraka yang kekal.

Maka mengkokohkan iman kita kepada Allah tidaklah mudah, karena selalu adanya gangguan syetan tersebut. Tetapi kita dapat mengusahakan iman kita kepada Allah supaya kokoh dengan cara:

a) Muhasabatunnafsi (Introsfeksi Diri)
Yaitu mengidentifikasi apa saja kekurangan dan kesalahan kita, yang kemudian kita bersungguh-sungguh untuk menyempurnakan dan memperbaikinya. Sehingga ketika melakukan muhasabatunnafsi iman kita akan kokoh, karena kita sadar bahwa Allah Maha Mengawasi, Maha Teliti, dan Maha Pemberi Balasan. Dalilnya Q.S. Al-Hasyr:18.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok(akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

b) Dzikrullah (Mengingat Allah)
Mengingat Allah membuat kita menjadi tentram menjalani kehidupan dan terjagalah segala perbuatan dan ucapan kita dari hal-hal yang dibenci Allah. Sehingga kita memiliki rasa muraqabatullah (merasa dekat/diawasi Allah). Maka dalam situasi muraqabatullah ini ketentraman akan timbul dan kita dapat merasakan manisnya iman.

“Hai orang-orang beriman, ingatlah kepada Allah dengan mengingat Nama-Nya sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Allah lah yang memberikan rahmat kepadamu dan para malaikat-Nya memohonkan ampunan untukmu agar Allah mengeluarkanmu dari kegelapan pada cahaya. Allah Maha Penyayang kepada orang-orang beriman.” (Q.S.Al-Ahzab:41-43)

c) Tadabbur Al-Qur’an
Yaitu dengan cara membaca, memahami, menghayati, menghafal, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah petunjuk kehidupan di dunia dan akhirat. Yang tiada keraguan di dalamnya.

“Inilah Al-Qur’an, tidak ada keraguan dalam kebenerannya. Sebagai petunjuk bagi orang-orang bertakwa.” (Q.S.Al-Baqarah:2)

Al-Qur’an adalah penerang hati bagi orng-orang yang merasa gelap hatinya, yang diliputi oleh ragu-ragu, bimbang dalam menghadapi kehidupan, sehingga jelaslah dihadapannya hal-hal yang benar dan yang batil.

“Tidakkah mereka menghayati Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (Q.S.Muhammad:24)

d) Riyadhoh Ruhiyah
Maksudnya yaitu melatih diri untuk senantiasa melakukan amalan-amalan sunnah yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Fungsi dari riyadhoh ruhiyah ini adalah agar menyuburkan ruhiyah, sehingga senantiasa merasakan kehadiran Allah dalam hidup.

e) Memperbanyak Do’a
Mohonlah segala sesuatu kepada Allah. Terutama mohonlah kepada Allah SWT., agar senantiasa diberikan nikmat iman dan islam. Senantiasa diberikan petunjuk dan pertolongan-Nya. Senantiasa mohon ampun atas segala dosa dan lain sebagainya. Allah sangat senang ketika hamba-Nya berdo’a kepada-Nya. Untuk itu ketika kita semakin banyak berdo’a kepada Allah, maka semakin senang pula Allah kepada kita.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka (jawablah), bahwasannya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S.Al-Baqarah:186)

“Dan Tuhanmu berfirman: berdoalah kepada-Ku, niscaya akan kuperkenankan bagimu.” (Q.S.Ghafir:60)