Header Ads

Memperbaiki Diri untuk Menyerukan Kebaikan Kepada Orang Lain

Memperbaiki Diri untuk Menyerukan Kebaikan Kepada Orang Lain

Oleh: Hajar Karimah (Mahasiswa STEI SEBI)

Memperbaiki diri adalah hal terpenting ketika hendak menyerukan kebaikan kepada orang lain karena pastinya ketika diingatkan mengenai suatu hal seseorang melihat siapa orang yang mengingatkan tersebut, apakah sudah benar ibadahnya? Apakah sudah kuat akhlaknya? Sehingga bisakah dia dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari?

Memperbaiki Diri untuk Menyerukan Kebaikan Kepada Orang Lain

Islam mengajarkan kita untuk menjauhi diri dari segala aqidah yang akan mengotori hati sehingga bisa melakukan berbagai penyimpangan.
Berikut adalah beberapa sifat yang harus dimilki oleh seorang muslim dalam rangka perbaikan diri:

1. Ibadah yang benar

Ibadah di sini bukan hanya sebatas sholat, puasa, zakat, haji saja, tapi setiap apa yang kita lakukan harus bernilai ibadah kepada Allah SWT.
Firman Allah:
“Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”. (Adz-Dzariyat: 56)

Setiap apa yang dilakukan seorang manusia haruslah bernilai ibadah. Di rumah, sekolah, universitas, toko, kebun, kendaraan dijadikan tempat bersujud. Selanjutnya setiap apa yang dilakukan haruslah memenuhi syariat dari Allah SWT dan menjauhi apa yang diharamkan oleh Allah SWT, menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Suatu hal yang harus diperhatikan dengan serius dalah keikhlasan kita ketika melaksanakan ibadah kepada Allah SWT. Jangan sampai ada penyakit hati yang menghampiri seperti riya’ karena itu akan mempengaruhi amal ibadah kita akan diterima atau tidak oleh Allah SWT dan juga ke orang lain.

2. Akhlak yang kuat

Akhlak dalah menerapkan segala sesuatu yang telah dituangkan dalam Al-Quran dan As-Sunah ke dalam diri masing-masing. Akhlak dan moral Islam memainkan peran penting dalam kehidupan individu sebab ia berkaitan erat dengan segala aktivitas hidupnya, interaksi terhadap teman, orang tua, kerabat, tetangga. Suatu hal yang harus ada pada diri seorang manusia yaitu menyeru kepada orang lain untuk kepada jalan Allah, dan ia harus melaksanakan seluruh akhlak Islam yang murni, supaya dapat menjadi qudwah atau panutan bagi orang lain yang diserunya dan dapat merealisasikan Islam dalam perbuatannya bukan hanya dari teori saja. Keteladanan ini jauh lebih penting bagi kehidupan manusia dibandingkan dengan teori dan dapat diterima oleh semua orang.

Contoh keteladanan yang paling nyata dan bisa kita rasakan sampai sekarang adalah keteladanan dari Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”. (HR. Ahmad).

“Sesuatu yang paling berat timbangannya di Hari Kiamat nanti ialah taqwa kepada Allah dan akhlak yang baik”.

“Sungguh,telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dang yang banyak mengingat Allah” (Al-Ahzab:21)

Menghiasi diri dengan akhlakul karimah berarti Umat Islam harus menjauhkan diri dari segala akhlak yang hina baik dalam pandangan Allah SWT maupun di mata manusia. Akhlak tidak bisa berubah sesuai dengan kondisi ataupun mengikuti pasang surut pergerakan. Betapa kuatnya orang-orang yang akhlaknya menerapkan berdasarkan apa yang telah tertulis di dalam kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW, senantiasa mengevaluasi dan menginstrospeksi diri sejauh mana seseorang menjalani sifat-sifat tersebut.

3. Wawasan Berfikir

Untuk memperbaiki diri seorang kader dakwah yang bergerak dalam gerakan dakwah Islam harus memiliki wawasan berfikir atau tsaqafatul fikri  

Tsaqafatul Fikr ini mencakup 3 aspek dasar:
  1. Memahami Islam dengan sepenuhnya dan menyeluruh agar dia mampu melaksanakan Islam yang benar dalam dirinya dan juga dapat menyampaikan Islam yang baik kepada orang lain.
  2. Harus mengetahui kondisi umat Islam dulu dan sekarang dan memahami betul musuh-musuh Islam serta cara menghadapinya, mengetahui berita aktual yang sedang terjadi yang mempengaruhi kaum muslimin.
  3. Memantapkan dan menyampaikan spesialisasi ilmu yang dipunya. Bagi kader dakwah, ia harus selalu berusaha memperbaiki ilmu yang dipunya secara profesional agar ia mendapat tempat di masyarakat.

4. Kesehatan Jasmani

Hal lain yang harus dipunyai oleh kader dakwah dalam memperbaiki diri adalah kesehatan jasmani. Seorang aktivis dakwah harus mempunyai jasmani yang kuat agar kelak ia dapat memikul beban dakwah yang berat. Banyak hadist Rasulullah SAW yang mengharuskan seorang muslim memiliki jasmani yang kuat.

Seorang kader dakwah dianjurkan untuk mengecek kondisi kesehatan minimal 6 bulan sekali. Menjauhi minuman yang banyak rasanya seperti kopi, teh dan sebaiknya banyak meminum air putih, menjaga kebersihan lingkungan sekitar,tidak merokok,tidak mengkonsumsi minuman keras dan hal apapun yang akan mengakibatkan tubuh lemah.

Referensi : 
Masyhur Musthafa,Fiqh Dakwah 1,Jakarta:Al-I’tishom Cahaya Umat,Cet 10,Desember 2010.