Header Ads

Curhatan Sopir Ambulan Bekasi

Kota Bekasi  ----- Wajahbekasi. Com.  MENJADI sopir ambulans tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis maupun kecakapan saat mengendarai mobil. Tapi juga harus siap mengambil risiko, mulai dari penghasilan yang minim, dikejar-kejar waktu saat membawa orang yang sedang sekarat, sengketa keluarga, hingga ada yang merasa diikuti oleh roh orang yang sudah meninggal.

Di bekasi , ada ratusan orang yang berprofesi sebagai sopir ambulans. Bahkan di beberapa daerah, anggota dewan juga ikut menjadi sopir dadakan untuk ambulans yang dimilikinya.

Di sisi lain, siapa pun pemilik ambulansnya, pasti membutuhkan sopir, yang siap mengantar penumpang ke rumah sakit ataupun ke pemakaman . Perjalanan sang sopir mengantar ke tujuan tersebut punya banyak suka duka dan beragam cerita misteri yang melingkupinya.

Kang Sesep (35), sudah belasan tahun menjadi sopir mobil ambulans jenazah di Yakesma Bekasi . Dia sudah pernah mengantar jenazah ke sejumlah pelosok Bekasi dan luar daerah bekasi.

Selain Masalah armada ambulance yang terbatas sehingga kami kadang blm bisa memenuhi permintaan  warga karena Yakesma memberikan pelayanan Gratis sedang ambulance yg lain harus membayar  ,tak hanya itu Luasnya wilayah Bekasi dari kotamadya sampai kabupaten dan minimnya infrastruktur juga berdampak bagi sopir ambulans saat mengantar jenazah ke wilayah terpencil.

Kang Sesep nama panggilan mengatakan, saat ini untuk mengantarkan jenazah ke lokasi pemakaman dan rumah sakit sopir ambulans membutuhkan waktu hingga satu hari untuk pulang-pergi kadang kalau ke daerah kami bisa 3 hari baru pulang. Kondisi jalan yang ditempuh pun tak mudah.

“Pernah dialami oleh sopir ambulans YAKESMA saat akan masuk Jalan Toll dia lupa membeli isi ulang E-Toll , sehingga  terpaksalah meminta tolong ke pengendara lain untuk membayarkan ,” ujarnya.

Lain lagi cerita vikry alvis atau bang pitak biasa di panggil (31 ), yang juga sopir ambulans di Yakesma Bekasi . Dia menceritakan, pada suatu waktu ia mengendarai ambulans untuk mengantar jenazah ke Bojong Mangu perbatasan bekasi dan bogor , menembus jalan berliku di Perbukitan dalam kegelapan malam. Malang tak dapat dihindari, ban mobil yang ia kendarai pecah. Karena waktu sudah memasuki malam hari, ia tak berharap bantuan datang. Akhirnya ia harus memakai solusi gila, dengan memasukkan rumput ke dalam ban mobil. “Pokoknya, mobil harus bisa jalan sampai menemukan bengkel,” kenangnya.

Dalam perjalanan mengantar jenazah, biasanya omelan keluarga merupakan santapan rutin sipit . Namun ia berprinsip mencapai tujuan secepat mungkin, sehingga tak menghiraukan omelan keluarga yang biasa ikut naik dalam ambulans. “Kadang kita dibuat bingung, sangat mobil melaju kencang keluarga di belakang minta pelan karena ada jenazah, saat kita bawa pelan diminta berjalan cepat karena jenazah harus segera dikebumikan,” begitu lika-liku kisah Bang Pitak .(mul)