Header Ads

Nasib Petani Bekasi Yang Semakin Tersingkirkan

Nasib Petani Bekasi Yang Semakin Tersingkirkan
Petani Terong Di Sukawangi Bekasi - Foto Tria Haris Ramdani
Semalam saya menghadiri acara ulang tahun wajah bekasi yang ke 3 tahun di Rumah Pelangi Bekasi. Acara ini banyak dihadiri oleh para jurnalis dari berbagai macam media di Bekasi. Bagi saya acara ini keren banget, selain mendatangkan para ahli di bidang seni budaya juga sejarah, melihat wajah Bekasi lebih dekat yang mengenalkan pada kita semua bahwa Bekasi memiliki potensi yang harus kita jaga dan lestarikan. Salah satunya terkait dengan sejarah Bekasi dan nasib para petani di Bekasi yang hari ini semakin terkikis keberadaannya.

Kalau tidak ada petani, apa yang bisa kita makan?. Makanan pokok kita masih beras dan sayur mayur. Mau makan apa kita kalau kita tidak mau bertani? Makan plastik? Itu tidak mungkin. Zaman memang semakin canggih dan modern namun tetap saja manusia harus kembali pada cara lama. Tidak bisa lepas dari makanan pokok sebagai bahan untuk dimakan. 

Saat saya mengamati para petani dan bertanya langsung ternyata menjadi seorang petani bukanlah hal yang mudah. Setiap hari mereka kepanasan karena teriknya matahari dan ketika musim penghujan tiba, para petani harus siap dengan kegagalan panen. Apa yang dialami oleh para petani sangat pahit.

Ketika saya bertanya dengan seorang bapak yang menjadi petani di Bekasi. Dia mengatakan justru lebih bahagia menjadi seorang petani daripada menjadi pegawai kantoran. Tapi Beliau yang enggan disebut namanya tidak mau memaksa anaknya menjadi petani seperti dirinya. Beliau hanya ingin anaknya sekolah setinggi mungkin dan menjadi orang yang pintar.

"Anak saya tidak boleh jadi seperti saya. Ngapain? Capek, lagi pula nasib petani sekarang sangat tidak menentu. Seolah-olah petani ini seperti biang penganggu yang harus disingkirkan" ungkapnya. 

Para penguasa dengan mudah mengambil sawah kami, seperti tidak ada harapan di depan sana untuk para petani. Anak-anak muda juga tidak mau bertani, mungkin menurutnya bertani itu adalah suatu yang hina dan tidak menguntungkan, tambahnya

Memang benar saya mengamati dunia pertanian di zaman sekarang ini semakin tabu dan menjadi hal yang ditinggalkan di tengah masyarakat. Pata petani justru dianggap tidak memiliki masa depan yang pasti dan dianggap kalah bersaing tidak mampu mensejahterakan keluarga dan lain-lain.

Indonesia memiliki banyak para sarjana pertanian, namun seiring berkembangnya perubahan zaman, mereka berubah haluan menjadi pegawai kantor, bank dll. Banyak yang enggan untuk turun ke sawah dan melanjutkan perjuangan orang tuanya sebagai petani. 

Indonesia adalah negara agraris dan maritim. Hebatnya Indonesia beras impor, garam impor, daging impor buah-buahan impor, obat-obatan impor. di mana Ketahanan pangan Indonesia? di mana ketahanan kesehatan? di mana Ketahanan energi, di mana Bangsa indonesia?

Bekasi sangat berperan penting dalam melakukan perlawanan terhadap para penjajah. Indonesia bisa merdeka dengan perjuangan para laskar pahlawan dari elemen masyarakat yang tidak menerima bangsanya menjadi budak.

Nasib para petani semakin terkikis sebagai tuan negara. Para petani dipaksa melupakan ladangnya dan yang lebih gila lagi adalah ketika petani dipaksa menjual ladangnya dengan harga semurah mungkin hanya untuk sebuah pembangunan gedung-gedung mewah. Para petani tidak bisa memperjuangkan nasibnya sebagai tuan negara, terkikis seiring berjalannya pembangunan.

Dunia pertanian semakin menyedihkan saja. Para petani kesulitan untuk membeli benih, berhutang pupuk dan seringnya mereka ribut dengan petani lain hanya karena pasokan air. Kalau pun panen, pikiran mereka masih terus dihantui dengan turun naiknya harga hasil tani yang dimainkan oleh para calo yang tinggal menikmati keuntungan dari hasil jerih payah para petani. Jadi wajar saja jika hal itu menyebabkan kekhawatiran bahkan menimbulkan wacana bahwa saat ini, Bekasi akan kehilangan para petani.

Melihat permasalahan itu, terobosan di dunia tani harus dilakukan terutama untuk tujuan kesejahteraan para petani di Bekasi. Para petani harus punya penghasilan yang jelas. Terlebih dengan adanya kucuran dana desa, maka seharusnya pemerintah memberikan kebijakan bahwa daerah-daerah agraris memiliki hak untuk mengambil alokasi dana lebih besar untuk sektor pertanian. 

Akan tetapi kebijakan ini harus adil dilakukan, misalnya tidak memberikan dana itu kepada petani yang sudah sejahtera. Sehingga para petani yang mendapatkan dana bantuan itu merasa diperhatikan dan dimudahkan oleh pemerintah. Selain itu, terkait pelaksanaan sektor alokasi dana desa menjadi lebih mudah untuk dikontrol karena uang itu langsung dikelola para petani dengan diawasi oleh perangkat desa yang amanah dan tidak menjadi bias, karena akhir-akhir ini begitu rentan terhadap penyelewengan dana desa.

Kebijakan seperti ini tentunya akan menuai pro dan kontra dari berbagai macam elemen, tapi itu sangat penting untuk dilakukan untuk menjaga kelestarian petani di manapun khususnya di Bekasi.

Menjaga dan melindungi tuan negara adalah harga mati. Apa jadinya jika sebuah wilayah yang dikaruniai sumber daya alam melimpah tidak memiliki petani? Haruskah wilayah yang diberikan tanah subur ini selalu mengandalkan impor untuk kebutuhan pokok?

Saya berharap Bekasi mampu menjaga kelestarian petani, jangan sampai kita kehilangan petani. (Suryani)

Tidak ada komentar