Header Ads

Lebaran, Seorang Nenek Sebatang Kara di Babelan Bekasi Terlantar

Babelan  -  Wajah Bekasi Idul Fitri (1 Syawal 1438 H) kali ini Siti Fatonah (64) hanya terbaring lunglai meratapi keadaannya, Fatonah hidup sebatang kara dengan keadaan fisik nyaris lumpuh, bahkan untuk berdiri pun sangat sulit.

Lebaran, Seorang Nenek Sebatang Kara di Babelan Bekasi Terlantar

Sesekali Siti Fatonah membasuh air mata untuk menyembunyikan kesedihannya saat para tetangga mendatanginya untuk berlebaran (berjabat tangan dengan mengucapakan minal aidzin Wal Faidzin).

Terlantar setelah 15 Tahun bercerai dengan suaminya, Siti Fatonah kini harus tinggal di emperan rumah warga di bawah empat batang bambu beratap plastik.

Siti Fatonah dikenal dengan nama Budeh oleh warga sekitar, menjalani hidup sebatang kara di perantauan di Kampung Babelan RT 015 RW 003, Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi. Fatonah menyambung hidup dengan bekerja sebagai pembantu kuli cuci. Namun kini ia tak mampu lagi untuk menafkahi dirinya, lantaran kesehatan semakin melemah.

Perempuan berusia senja ini mengaku kelahiran Desa Sisir Kecamatan Batu, Kota Batu, Jawa Timur.
Keadaan wanita tua ini semakin memprihatinkan, sering sakit sakitan, seluruh tubuh semakin menciut, terlebih tidak ada sanak saudara yang merawatnya.

"Saya anak pertama dari dua bersaudara, saya punya adik bernama Siti Aminah, saya punya empat orang anak yang tinggal di kampung, saya kangen sama anak-anak saya," ujar Fatonah kepada wajah bekasi sambil membasuh air matanya, Minggu (25/6/17).

Lanjut Fatonah, ke-empat orang anaknya ialah, Siti Kholipah, Puji Astuti, Muhamad Bajuri dan Muhamad Khoiridin.

Fatonah adalah anak dari pasangan Almarhummah Wasiah dan Almarhum Daun, Fatonah berharap dapat kembali hidup bersama anak-anaknya dikampung halamanya, namun jangankan untuk ongkos pulang kampung, untuk makan saja ia harus menunggu pemberian dari tetangga.

"Semoga ada yang rela ikhlas  nolong saya berobat, saya mau sehat lagi, saya kepengen pulang kampung," harap Fatonah dengan air mata bercucuran.
"Endo emak kangen Endo, maafin emak," tutupnya dengan isak tangis yang tak tertahan.

Pemilik rumah yang terasnya ditempati Fatonah menuturkan, saya kasihan dengan keadaannya, namun saya gak bisa berbuat banyak.

Warga yang bersebelahan dengan emperan tempat Fatonah tinggal mengatakan, Fatonah sulit sekali untuk berjalan, setiap ke kamar mandi harus ada yang bantu.

"Sudi kiranya Pemerintah membantu sepenuhnya biaya perobatannya. Sekaligus diantar pulang kampung, biar diurus sama anak-anaknya," kata Suhardi (red)