Header Ads

Penulis Buku Belajar Banyak Dari Dangdut

Suryani,ketua pelasana Rungi Camp 2017
Suryani,ketua pelasana Rungi Camp 2017
Wajah Bekasi. Suryani, seorang penulis dari Kota Bekasi. Sudah banyak buku karyanya yang diterbitkan. Suyani adalah ketua pelaksana Rungi Camp 2017 yang dilaksanakan di Rumah Pelangi Bekasi dalam merayakan Harkitnas dan Hari Buku Nasional (20-21 Mei 2017). Saat ditanyakan tentang musik dangdut berikut penuturannya ketika dihubungi via telepon oleh jurnalis Wajah Bekasi.

Entah saya berasal dari mana, masih awam sekali dengan musik dangdut. Jujur saja saya memang kurang menyukai musik dangdut, bukan kurang lagi, tapi memang tidak suka. Karena ketidaktahuan inilah saya menjadi bodoh dan buta tentang musik dangdut.

Saya masih sering bertanya ke dalam diri sendiri, "iisshh apaan siih itu musik dangdut, yang kalo ada orang hajatan bikin pusing, gak bisa tidur". Hehee dan saya masih keheranan kenapa penyanyi dangdut berjoget laku disawer

Saya sempat tahu tentang musik dangdut semenjak ada kabar DA itupun gak nonton, karena malas untuk menonton TV. Kemarin di acara Rungi Camp ada hiburan musik dangdut,. Saya terheran-heran betapa banyaknya masyarakat mulai dari anak kecil hingga dewasa yang mencintai musik dangdut. Musik dangdut yang disuguhkan bagaikan hiburan di tengah masyarakat yang sedang carut marut. Mereka berjoget bersama, ada perasaan haru melihat wajah mereka tampak bahagia dan senang menikmati hiburan musik dangdut yang dimainkan oleh Forsa Grup.

Saya amati mereka, saya lihat wajah-wajah mereka dan tiba-tiba sahabat saya Vincent menarik tangan saya menuju kerumunan orang-orang yang berjoget itu, hehe dia sangat tahu saya kebingungan. 

Katanya kalo gak ngalamin gak akan tahu apa yang dirasakan oleh orang-orang yang berjoget itu.
Saya pun mencoba, aagh gerakan saya seperti robot kaku sekali dan saya kurang bisa menikmati musik yang disuguhkan itu, terlebih memang saya kurang menyukai musik-musik seperti itu. Berkali-kali Vincent dan Keluarga Pelangi membujuk saya untuk berjoget bersama mereka, tapi saat itu saya lebih senang mengamati mereka semua.

Lalu saya kabur, hingga suatu ketika saya mendengar anak Rumah Pelangi mungkin umurnya 10-12 tahun menyanyikan lagu tentang ibu yang bejudul "Keramat" ciptaan Rhoma Irama, hati saya terenyuh saya langsung kembali mengikuti suara itu. Benar saja seorang gadis kecil dari Rumah Pelangi maju tampil ke panggung tanpa disuruh. Ketika dia bernyanyi ibundanya dipanggil membuat suasana semakin haru. Anak itu bersuara merdu indah sekali, dia bernyanyi dengan sangat lantang, tubuhnyapun lentur saat bergoyang.

Luar biasa pengalaman seumur hidup, melihat langsung orang-orang yang bernyanyi dan berjoget itu. Saya jadi pingin tahu tentang sejarah dangdut yang asli, begitu buka tab ternyata bule pun menyukai musik dangdut. Saya ingin cari info lebih detail dan tak ternyata batre tab saya tidak cukup memadai untuk dapat melanjutkan pencarian.

Saya bertanya pada Bang Are tentang sejarah dangdut, lalu dikenalkan oleh ketua Grup Forsa pusat. Dan paradigma saya berubah. Mereka memperlihatkan semua lirik lagu Rhoma Irama yang mayoritas adalah pesan kehidupan. Saya disuruh membaca lirik tersebut dan menyanyikannya, karena saya gak tahu saya membacanya seperti puisi. Hehee dan sedari tadi sambil packing saya lihat-lihat lirik lagu dangdut yang banyak sekali menyimpan pesan kehidupan.

Hehee terus sesampainya di rumah, saat papa mama saya datang saya menceritakan segalanya kepada mereka dan papa bilang ya sudah nanti kapan ada waktu kita karokean menyanyikan full music dangdut, itu salah satu budaya asli Indonesia yang harus dilestarikan meskipun bermula dari India.

Saya jadi semakin bisa meningkatkan kesyukuran saya, menghargai dan mencintai keberagaman, karena keberagaman itu sesungguhnya indah jika tidak dilihat pada sebuah sisi. Saya juga bangga menjadi Orang Betawi yang selama ini gak pede karena kata-kata orang yang dari A-Z. Saya bangga menjadi Orang Betawi, mulai saat ini saya akan memperdalam mempelajari sejarah budaya saya dan semoga saya pun bisa ikut melestarikan budaya bangsa.

Ini pelajaran hidup termahal, bodo amat apa kata orang. Kalo kata Orang Betawi di Bekasi khususnya anak Rumah Pelangi Bekasi, "bagenin aja".

Qoute saya: 
"ketika anda melihat orang lain lucu, ternyata merekapun menganggap anda lucu, ketika anda melihat orang lain nampak aneh ternyata orang lainpun melihat anda sebagai orang yang aneh. Keberagaman bagaikan 2 sisi mata uang, keduanya sama-sama memiliki sudut pandang, oleh karena itu lihatlah kehidupan dari segala sisi, sehingga kita semua terlepas dari kebodohan sebuah paradigma" ( red) 

3 komentar: