Header Ads

HIMIKOM Unisma Bekasi Gelar Seminar Citizen Journalism

Bekasi Timur - Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (HIMIKOM), Universitas Islam '45' (Unisma) Bekasi, menggelar Seminar Citizen Journalism berajuk "The Power Of Citizen Journalism" di Gedung I Pascasarjana, Selasa, (23/5).

Dalam sambutannya, Ketua pelaksana, Firli Zikrillah,  menyampaikan harapan agar apa yang disampaikan pemateri nantinya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

"Citizen ataupun masyarakat terlihat sangat gaduh. Semoga ketika nanti seminar berlangsung kita bisa cermati bagaimana kita mampu beretika dalam sosial media," ungkap Firli.

Malik Abdul Zaber, Ketua Himikom pada kesempatan yang sama juga berharap agar mahasiswa lebih mampu dalam mengimplementasikannya, "Besar harapan setelah seminar ini teman-teman tidak hanya dalam tahap mendengar saja. Teman-teman lebih dalam tahapan mendengar tapi juga implementasi," ujar Malik.

Sementara, Wakil Dekan Fakultas Komunikasi Sastra dan Bahasa, Aep Saepudin, yang juga sekaligus telah membuka acara seminar mengatakan, di era modern sekarang ini kekuatan citizen journalism sangat berpengaruh. Suara publik saat ini lebih memberikan kekuatan melebihi jurnalistik konvensional.

HIMIKOM Unisma Bekasi Gelar Seminar Citizen Journalism

"Ada kecenderungan ketika melihat informasi. Saat ini suara publik memberikan suara kekuatan melebihi kekuatan media konvesional. Bagaimana kekuatan citizen journalism dan akan menentukan sisi positif," terangnya.

Salah satu pembicara, Asisten Kordinator Liputan TVOne, Indri Astuti menyampaikan, media sosial saat ini bisa dibilang gaduh.
"Bagaimanapun, materi yang kita unggah sangat berpengaruh terhadap publik. Kita harus menyebarkan informasi yang bermanfaat untuk masyarakat, bukan informasi yang mengandung unsur SARA," jelasnya.

Lebih lanjut, dikatakan Indri, Masyarakat saat ini harus lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Dalam penggunaanya, jelas Indri, masyarakat harus tetap mengedepankan etika jurnalistik dalam menyampaikan informasi ke publik.

"Bagaimana kita harus sadar etika jurnalistik. Dalam penyampaian informasinya tidak menyebarkan berita bohong (hoax0, tidak mencemarkan nama baik, tidak memicu konflik Suku Agama Ras dan Budaya (SARA)," jelas Indri.

Sementara, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Ahmad Nurhasim menyampaikan, media sosial saat ini dapat diartikan sebagai kebebasan berekspresi dan juga bisa menjadi sebuah ancaman hukum.

Penetrasi kasus terbesar, disampaikan Ahmad, 90 persen adalah pencemaran nama baik. Dalam hal ini, dikatakan Ahmad semua orang berpotensi dilaporkan ketika melakukan pencemaran nama baik.

"Total ada 225 kasus laporan berkaitan UU ITE namun hanya 117 kasus yang terverifikasi. Dari 117 laporan UU ITE sebanyak 144 kasus atau 81,5 persen menjerat laki-laki dan 65 orang atau 18,4 persen perempuan." papar Ahmad.

Seminar ini juga diikuti oleh berbagai Mahasiswa Komunikasi dari berbagai kampus di wilayah Bekasi, diantaranya Universitas Tribuana, Universitas Satya Negara Indonesia, Universitas Bhayangkara, dan Universitas Bani Saleh. [Sabekasi]