Header Ads

Masyarakat Gelar Diskusi Sejarah Bekasi Di Gedung Juang Tambun

Sabtu 8 April 2017, bertempat di Museum Gedung Juang Tambun para penggiat sejarah dan budaya di sekitar Bekasi mengadakan diskusi sejarah Bekasi berdasarkan kitab Wangsakerta. 

Masyarakat Gelar Diskusi Sejarah Bekasi Di Gedung Juang Tambun

Diskusi yang dihadiri sekitar 30 orang penggiat sejarah dan budaya ini menyampaikan pandangannya terkait jejak rekam kerajaan Tarumanagara dan juga hubungannya dengan kondisi terkini. 

Naskah Wangsakerta yang menjadi objek diskusi adalah naskah yang disusun oleh Pangeran Wangsakerta dan menjadi satu-satunya dokumen yang dianggap cukup komprehensif menuturkan Tarumanagara.

Romi Oktaviansyah, peminat sejarah, seni dan budaya Bekasi, mengatakan bahwa diskusi ini penting untuk meningkatkan pengetahuan dan memperkuat kesadaran mengenai potensi Bekasi. Di mana, peradaban, dalam hal ini sistem kerajaan, telah dimulai sejak awal masehi di tanah Tarumanagara (saat ini Bekasi).

Masyarakat Gelar Diskusi Sejarah Bekasi Di Gedung Juang Tambun

Sementara itu, Eban, peminat sejarah Bekasi lainnya menyoroti masalah pembagian wilayah Sukapura, Sundapura, dan Jayasingapura. Ia juga menuturkan pandangannya terkait sistem pajak atas panen yang berlaku kala itu.

Kajian mengenai infrastruktur air dikemukakan oleh Nur Azizah Zuhriyah. Ia mencoba membaca sungai Gomati dan Candrabhaga (Kali Bekasi) sebagai sistem kanalisasi jenius. Di mana, ia mengaitkan dengn berbagai sistem kanalisasi di berbagai kebudayaan seperti Yunani, Mesir, Persia, dan Viking.

Berbagai pandangan mengemuka dalam diskusi tersebut. Hal itu dikatakan Romi sebagai modal untuk menajamkan diskusi selanjutnya.

Apep Safiludin Sadeli, salah seorang peminat sejarah Bekasi dalam pertemuan tersebut menyampaikan perlunya dibentuk tim yang serius menelusuri sejarah Bekasi. Di mana, menurut Apep, format tim bisa dari semua lapisan masyarakat dari berbagai kalangan. 

"Selain para peminat budaya perlu juga dilibatkan beberapa pihak lain. Misalnya tokoh masyarakat, ulama, tokoh pemuda, dan pejabat," katanya. 

Pentingnya penelusuran sejarah ini juga dikatakan Hairani Tarigan, seorang dosen di salah satu perguruan tinggi. Secara tegas ia menyampaikan bahwa penelusuran sejarah Bekasi ini perlu dilakukan secara serius. 

"Terlepas didukung atau tidak oleh Pemerintah Kota (Pemkot) atau Pemerintah Kabupaten (Pemkab Bekasi), kita harus konsisten menelusuri sejarah Bekasi ini," tegasnya.

Diskusi tentang sejarah Bekasi tersebut berlangsung seru. Terbukti, diskusi baru berakhir pada pukul 3.00 dini hari. (Sabekasi)