Header Ads

KURNIA WALUYA " Jangan Sampai Hilang Sejarah Kampung "


Bojong Menteng - Wajah Bekasi , Kurnia Waluya  (45) Adalah sorang Aktivis Budaya Pemerhati Peradaban  masyarakat Desa di bekasi mengatakan " Terkait dengan Sejarah Kampung, muncullah pertanyaan ‘pentingkah Sejarah Kampung digali dan dituliskan, serta berfaedahkah untuk dipelajarkan kepada siswa maupun publik ’. Dalam ‘Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)’ kampung disinonimkan dengan dusun, desa, dukuh. Namun, menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 6 Tahun 2004 tentang ‘Desa’ Pasal 8 ayat (4) dikemukakan “dalam wilayah Desa dibentuk dusun atau yang disebut dengan nama lain yang disesuaikan dengan asal-usul, adat istiadat, dan nilai sosial budaya masyarakat desa”.

 Dengan demikian, dusun atau sebutan lain, yaitu kampung dan dukuh, berada dalam wilayah desa. Berarti dusun lebih kecil daripada desa. Hal ini sejalan dengan pengartian yang menyatakan bahwa dusun menunjuk pada bagian wilayah desa yang merupakan lingkungan pelaksanaan pemerintah desa. Kampung adalah nama alternatif untuk dusun/banjar/rukun kampung (RK)/anak kampung, yang semua itu merupakan bagian dari sebuah desa/kelurahan. Kampung sebagai sinomim dari dusun digunakan di Jawa, Nusa Tenggara Barat dan tempat-tempat tertentu.


Dalam wilayah eks dusun/kampung itu dibentuk beberapa Rukun Warga (RW) dan RT, sehingga orang-orang tak lagi menyebut nama kampung/dusun, melainkan ‘RW dan RT berapa’. Dampaknya bukan hanya terhadap hilangnya wilayah pemerintahan tingat dusun atau kampung dan jabatan Kelapa Dusun/Kampung, namun waktu demi waktu lenyap pula memori warga setempat terhadap dusun atau kampungnya. Generasi setengah baya ke atas telah lupa-lupa ingat perihal seluk-beluk kampungnya. Terlebih lagi generasi muda dan para pendatang. Mereka sama sekali tak memaham jatidiri kampungnya. Bahkan, nama-nama eks kampung di kelurahannya tidak lagi diketahuinya. Yang mereka lupakan itu, termasuk Sejarah Kampungnya. Padahal, dalam Pasal 8 ayat (4) UU RI No. 6 Tahun 2004 dinyatakan bahwa pembentukan desa dan kampung-kampung di dalamnya terkait dengan asal-usul, adat istiadat dan nilai sosial budaya masyarakat di desa bersangkutan, yang proses terbentukannya sama panjang dengan perjalanan sejarahnya. Suatu kampung dalam keberadaannya sekarang tidak terbentuk secara serta-merta, melainkan sebagai buah sosio-budaya dari perjalanan panjang sejarahnya dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Sejarah Kampung dengan demikian menjadi ‘misteri’, merupakan ‘ruang gelap’, justru pada diri warga kampung itu sendiri.

 Yang dimaksud dengan tipe Edukatif-Inspiratif adalah sejarah Lokal yang disusun dalam rangka pengembangan kecintaan sejarah, utamanya sejarah di lingkungan sekitar, yang dijadikan sebagai pangkal timbulnya kesadaran sejarah. Tercermin aspek edukatif dan inspiratif, sebagai salah sebuah aspek penting pembelajaran sejarah. Fungsi edukatif sejarah adalah menyadari makna dalam sejarah, sebagai gambaran peristiwa masa lalu yang penuh arti. Kata ‘inspiratif’ mengandung makna yang hampir sama dengan edukatifr, namun dengan tekanan pada “daya gugah” yang ditimbulkan oleh usaha mempelajari sejarah. Kedua kata itu berkenaan dengan spirit yang diharapkan dapat dikembangkan dalam pembeajaran Sejarah Lokal. Lembaga pendidikan atau badan pemerintah daerah menjadikan Sejarah Lokal tipe ini sebagai bagian dari upaya pembangunan, khususnya pembangunan mental masyarakat dan pembangunan sekror fisik.

 Diyakini bila pembangunan mental berhasil memicu kebangunan dan harga diri kolektif, maka bakal memudahkan pemerintah setempat untuk memotifasi warga masyarakat untuk berpartisifasi dalam pembangunan fisik. Biasanya, penulisan Sejarah Lokal tipe ini dilakukan oleh sejarawam non-profrsional, seperti guru-guru dan khususnya guru Sejarah. Namun tidak jarang pula sejarawan profesional turut serta terlibat, terutama yang merupakan putera daerah bersangkutan. Pengkajian Sejarah Lokal adalah kegiatan untuk menperoleh pencapaian pengetahuan mengetahui peristiwa sejarah yang dijadikan sebagai sasaran studi dalam pengetahuan sejarah dari lokalitas tertentu. Pengajaran Sejarah Lokal memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelebihan darinya adalah kemampuannya dalam membawa siswa terhadap situasi riil di lingkungannya. Selain itu memudahkan untuk membawa siswa memproyeksi pengalaman masa lampau dengan situasi masa kini. Sejarah lokal juga amat mendukung pengembangan kurikulum muatan lokal di sekolah.


Kelemahannya adalah menghadapkan murid maupun guru kepada kenyataan yang berhubungan dengan sumber sejarah, Kesulitan lainya adalah memadukan tuntutan pengajaran Sejarah Lokal dengan tuntutan penyelesaian target materi yang telah tertulis dalam kurikulum. Menurut Douch apa yang dilakukan oleh guru hanya dimaksudkan untuk memberikan ilustrasi yang lebih hidup dari uraian Sejarah Nasional/Sejarah Dunia yang tengah diajarkan. Pengorganisasian pembelajaran Sejarah Lokal berkenaan dengan persiapan pembelajaran yang bersifat komplementer. Pembelajaran Sejarah Lokal sangat menekankan kepada mengambilan banyak waktu, peran dan kreativitas guru-siswa. Oleh karena pembelajaran Sejarah Lokal ini dlakukan dalam kerangka Pembelajaran Sejarah dengan ‘muatan lokal (mulok)’,


maka prinsip-pinsip didatik menjadi hal penting. . Penelitian Sejarah Lokal acap bukan merupakan penelitian pada sebuah ilmu (single disciplin) melainkan lintas disiplin ilmu (multy-disciplin), setidak-tidaknya melibatkan dua disiplin, yaitu Ilmu Sejarah dan Arkeologi (Historical-Archaeology), dan bahkan acap libatkan pula disiplin ekologi –khususnya Paleo-ekologi, Antropologi, Sosiologi dan Teologi. Oleh karena itu, idealnya para periset Sejarah Lokal yang walau berlatar ilmu utama Sejarah atau Arkeologi, namun sedikit-banyak perlu memahami disiplin ilmu lain, terlebih bila peneliannya tentang hal tertentu. Misalnya, penelitian Sejarah Lokal mengenai Arkeo-Musikologi di suatu daerah tentu membutuhkan penguasaan pengetahuan Musikologi oleh perisetnya. Hal demikian merupakan suatu keniscayaan dalam Penelitian Sejarah, sebab peristiwa masa lampau menyangkut banyak aspek kehidupan manusia dan lingkungannya.

dari uraian tadi di atas lebih lanjut Kurnia Waluya menambahkan bahwa sudah semstinya dan seceptnya pemda dan pemkot bekasi khususnya  agar lebih setrius menginfntarisir benda cagar budaya, seni khas asli dan penamaan kampung agar tak hilang di makan jaman.(red/SL/kdc)