Header Ads

SUKA DUKA SOPIR AMBULANS SOHIB TAMU BEKASI

Keranji - Wajah Bekasi , Rabu ( 27/7)  sopir ambulans tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis maupun kecakapan saat mengendarai mobil. Tapi juga harus siap mengambil risiko, mulai dari penghasilan yang minim, dikejar-kejar waktu saat membawa orang yang sedang sekarat, sengketa keluarga, hingga ada yang merasa diikuti oleh roh orang yang sudah meninggal.
Di Yayasan SOHIB TAMU Bekasi , ada 10 orang yang berprofesi sebagai sopir ambulans. Bahkan di beberapa daerah Di Bekasi , anggota dewan juga ikut menjadi sopir dadakan untuk ambulans yang dimilikinya. Lazimnya, menjelang pemilu, program populer semacam ini banyak dilakukan anggota dewan. Ada hubungan timbal-balik di dalamnya. Bagi anggota dewan, menjadi salah satu cara mempopulerkan diri, sedangkan bagi masyarakat punya keuntungan mendapatkan pelayanan gratis.
Di sisi lain, siapa pun pemilik ambulansnya, pasti membutuhkan sopir, yang siap mengantar penumpang ke rumah sakit ataupun ke liang lahat. Perjalanan sang sopir mengantar ke tujuan tersebut punya banyak suka duka dan beragam cerita misteri yang melingkupinya. Wajah Bekasi  merangkum sebagian cerita tersebut dalam laporan berikut ini.

Vickry Aulia (31), sudah beberapa tahun menjadi sopir mobil ambulans jenazah di Yayasan Sosial SOHIB TAMU BEKASI. Dia sudah pernah mengantar jenazah ke sejumlah pelosok Bekasi hingga luar daerah bahkan antar propinsi. Pria penghobi futsal dan Jamaah Ta'lim kp dua keranji.
Beragam kejadian pun sudah pernah dialami saat mengantar jenazah. Pada tahun 2014 ia pernah mengantarkan jenazah seorang pria ke kawasan karawang. Namun di tengah jalan mobil ambulans yang dia kemudikan dihadang orang yang mengaku keluarga jenazah. Mereka meminta jenazah diantar ke kampung yang mereka tunjuk. Karena ia menolak, jenazah sempat diminta untuk diturunkan.
Kejadian itu membingungkan Vickry . Sebab, dari Bekasi  vickry diminta mengantar jenazah bukan ke tempat seperti yang dimaksud sekelompok orang yang menghadang.
Menghadapi kondisi tersebut, dia dituntut tetap profesional dan amanah. Jenazah harus diantar sesuai pemberi amanah, dengan cara-cara yang bisa diterima oleh pihak keluarga. “Saya bingung saat itu, sebab di Bekasi  keluarga yang mengurus pengantaran jenazah lain orangnya, namun tiba-tiba di tengah jalan dihentikan oleh orang lain lagi yang mengaku keluarga korban dan meminta dibawa ke kampung yang berbeda dari tujuan awal,” ujar vickry Aulia , mengenang kejadian itu.
Lebih Lanjut vickry Aulia  mengatakan " saya sangat bangga dan merasa sangat bermanfaat dengan propesi sebagai sopir ambulan ini , apalagi di yayasan sosial SOHIB TAMU BEKASI ini saya dengan kawan-kawan semua kompak dalam tugas baik siang ataupun malam terlebih lagi dengan panggilan dadakan yang tak mengenal waktu walaupun harus mengorbankan bertemu dengan keluarga , alhamdulillah keluarga saya bisa menerima yang menjadi resiko sebagai sopir pengantar jenazah . ( red)