Header Ads

Rumba HOS Tjokro Bekasi mengadakan Malam Peringatan Zelfbestuur 1916

Dalam rangka menyongsong Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur (1916-2016), Rumah Baca (Rumba) H.O.S. Tjokroaminoto bekerja sama dengan Rumah Peneleh dan Syarikat Islam menggelar Malam Apresiasi Sastra dan Budaya yang digelar pada Sabtu malam 28 Mei 2016 di Rumba H.O.S. Tjokroaminoto Desa Setia Asih Kecamatan Tarumajaya Kabupaten Bekasi.
Rumah Baca HOS Tjokroaminoto Bekasi mengadakan Malam Apresiasi Sastra Budaya Peringatan Zelfbestuur 1916
Hamdan Zoelva dalam pidato kebudayaan peringatan zelfbestuur 100 tahun
Berikut Penggalan Pidato di Konggres Nasional I SI, Juni 1916 dimana kala itu H.O.S Tjokroaminoto menekankan pentingnya pemerintahan sendiri (Zelfbestuur)

"Bahwa tidak pantas lagi Hindia diperintah oleh negeri Belanda, bagaikan tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya. Tidak pada tempatnya menganggap Hindia sebagai seekor sapi perahan yang hanya diberi makan demi susunya; tidaklah pantas untuk menganggap negeri ini sebagai tempat kemana orang berdatangan hanya untuk memperoleh keuntungan, dan sekarang sudah tidak pada tempatnya lagi bahwa penduduknya terutama pada anak negerinya sendiri, tidak mempunyai hak untuk turut berbicara dalam soal pemerintahan, yang mengatur nasib mereka".*
(*Rambe, Safrizal. Sarekat Islam, Pelopor Bangkitnya Nasionalisme Indonesia 1905-1942. Jakarta. Yayasan Kebangkitan Insan Cendekia, 2008).

Jika melihat sejarah, mestinya peringatan 100 tahun Zelfbestuur 1916 akan seperti peringatan tonggak politik Bangsa Indonesia khususnya Syarikat Islam sebagai organisasi ataupun partai politik. Namun acara malam ini tidak membahas politik praktis, sebagaimana tajuk acara sebagai malam apresiasi seni dan budaya, acara ini lebih kental nuansa seni dan budayanya.
Rumah Baca HOS Tjokroaminoto Bekasi mengadakan Malam Apresiasi Sastra Budaya Peringatan Zelfbestuur 1916
Siswi SMAN 1 Tarumajaya membawakan Tari Topeng Blantek
Suasana yang sengaja dibuat minim pencahayaan menambah "khusuk" para hadirin dari berbagai kalangan menikmati tarian dan menghayati beberapa pembacaan puisi, monolog dan penampilan teater.

Pembaca puisi pertama, Bapak Syafinuddin Al-Mandari membacakan puisi karyanya berjudul "Sudah lama aku jadi tuhan", dilanjutkan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Wanita Syarikat Islam Ibu Valina Singka Subekti yang membacakan puisi Syair Orang Lapar karya Taufiq Ismail, kemudian Pak Aulia Tahkim (Cucu HOS Tjokroaminoto) membawakan puisi karyanya, lalu disusul pembacaan puisi oleh Bu Ella Jagad, disambung Haji Aty Cancer Zein membacakan puisi "Kepada Arwah H.O.S Tjokroaminoto" karya Almarhum Buya Hamka dan seterusnya. Adapun monolog dan teater adalah persembahan dari JALA PRT (Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga).

Puncak acara adalah pidato kebudayaan oleh Hamdan Zoelva selaku Ketua Umum Lajnah Tanfidziyah Syarikat Islam (SI). Dalam pidatonya beliau kembali mengingatkan mengenai sejarah munculnya ide pencetusan Zelfbestuur, kondisi-kondisi yang menyebabkan dan relevansinya dengan kondisi bangsa saat ini.

Dalam kesempatan tersebut mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia periode 2013-2015 ini berpesan, bahwa kemerdekaan (zelfbestuur) yang sudah dengan susah payah diwujudkan oleh para pendahulu agar tidak disia-siakan, agar diisi dengan prestasi-prestasi yang mengutamakan kesejahteraan rakyat Indonesia. Upaya itu hanya dapat dilakukan jika generasi muda memiliki 3 kualitas yang unggul, yaitu "Setinggi tinggi ilmu, semurni murni tauhid, sepintar pintar siasat". (bisot)