Header Ads

"Deny Ahmad Furqon" Gue Bisa Motret"

Kota bekasi - Wajah Bekasi , Kopi masih ada setengah cangkir, obrolan udah ngalor ngidul kemana bae. Gak ada yang menarik sebenernya obrolan malem ini buat jadi bahan. Kongkow malem ini terlalu imajiner. Sampai kemudian perbincangan kami kembali lagi pada Pemilu.

Siapa yang  nanggok rejeki selama Pemilu berlangsung?

Pertanyaan ini yang membuat cangkir kopi mendarat lagi di ujung bibir. Rokok dibakar, posisi duduk di tata lagi.

Siapa yang menanggok rejeki saat Pemilu? pastinya pengusaha percetakan dan konveksi. Spanduk, baliho, kaos, poster dan sebagainya, karena saat ini atribut semacam itu masih digunakan betul saat Pemilu. Yang lain siapa lagi?

Masyarakat pemilih?

Tapi rasanya keterlaluan jika masyarakat pemilih dibilang menanggok rejeki dari Pemilu. Memang berapa uang yang mereka terima waktu diminta memilih kandidat? Gocap, cepe? Yang pernah gua tau, bahkan ada yang cuma 25 rebu+kopi saset serenceng. Paket itu diterima dari Timses yang nangkring di ujung gang menuju TPS.

Bagaimana mungkin mereka yang menyerahkan kepercayaannya pada sosok orang yang tidak dia kenal baik dianggap menanggok rejeki lantaran menerima duit seperak dua perak. Masyarakat pemilih justru paling besar kemungkinannya menjadi korban.

Kecuali mereka yang merupakan pemilih kritis, selektif dan menganggap penting pemilihan umum; pergantian pemimpin menjadi pintu untuk melepas kekecewaan terhadap rezim yang selama ini berlangsung. Pemimpin baru untuk harapan yang belum tercapai.

Media?

Itu pasti. Semenjak SBY hingga kini, produk media massa laris manis dibeli oleh kandidat untuk mendongkrak popularitas mereka. Komposisinya kadang suka jomplang, lebih banyak porsi buat kandidat ketimbang info buat masyarakat. Display, advetorial, propaganda, penggiringan opini, cocokologi isu, sampai drama romantis pun diciptakan. Yang penting ada pembelinya. Rating, oplah dan seterusnya jadi nilai tawar. Makin tersebar, makin menyedot mahar.

Di wilayah Kabupaten Bekasi, silahkan dicek, marketing media saat ini sedang giat-giatnya menjalin komunikasi dengan kandidat. Bahkan mungkin bos-bos media turun langsung karena ada misi bisnis jangka panjang dengan kandidat potensial. Seperti musim duren atau musim mangga, saat Pemilu, pengusaha media juga tengah mengasah aritnya. “Waktunya ngarit,” begitu kira-kira teriaknya.

Konsultan?

Pekerjaan konsultan ini menurut gua mirip dengan pekerjaan Make Up Artis (MUA). Sudut mana dari sosok kandidat yang pantas diekspose, maka di situ yang akan dieksplor. Sementara sudut lemahnya akan dikemas baik-baik jangan sampai muncul di dalam frame, jangan sampai mengganggu Point of Interest (POI).

Pekerjaan MUA akan mudah ketika kandidatnya memang bernilai jual secara keseluruhan. Yang berat jika dapat kandidat busuk. Belum dipoles saja, MUA sudah disibukkan menutupi bau yang menyengat. MUA yang frustrasi mungkin akan mengubur bau sekaligus dengan jasad kandidatnya. hehe.

Jika membandingkan mana yang lebih banyak menanggok rejeki Pemilu dari keduanya? Kayaknya konsultan. Karena produk konsultan itulah yang dilempar ke media.

Terus siapa lagi?

Paranoral. Kalau upaya mendatangi paranormal untuk membantu mendapatkan sesuatu dianggap musyrik, ya mungkin kandidat yang datang ke paranormal ini diantaranya. Percaya nggak percaya, suka nggak suka, nyatanya peran paranormal masih penting sebagai upaya untuk melancarkan maksudnya.

Ada cerita begini : Seorang kandidat kepala desa mendatangi lelaki tua yang dikenal dekat dengan dunia paranormal.

“Wan, saya mau jadi kepala desa, saya harus bagaimana?” begitu kira-kira kata kandidat ini.

“Ente bawa jala, terus tebar di tambak. Ikan yang ente dapet ente itung,” begitu kata lelaki yang dipanggil Wan tadi. Wan merupakan panggilan penghormatan terhadap orang keturunan arab.

Pergilah kandidat ini melaksanakan perintah. Ditebarnya jala di tambak. Ternyata kandidat ini dapat menjala ribuan ikan kecil dari tambak. Setelah dihitungnya, dia pulang ke rumah.

Singkat cerita terlaksanalah pemilihan kepala desa. Rupanya, jumlah ikan yang didapat kandidat tadi sama dengan jumlah suara yang dia peroleh di pemilihan. Jadilah dia kepala desa. *Cerita ini muncul setelah kandidat yang dimaksud tak lagi menjabat kepala desa.

Ada lagi?

Bandar judi. Kompetisi besar apa yang tidak disatroni otak penjudi? Tebak-tebakan plat nomor mobil di pinggir jalan saja bahkan bisa jadi bahan untuk bermain judi. Dalam Pemilu, penjudi tak sekedar bertaruh, mereka juga akan turun tangan ikut mempengaruhi kecenderungan Pemilu. Bahkan mereka bisa saja ada diantara tim sukses, mereka juga ikut mempengaruhi pengawas dan penyelenggara Pemilu.

Yang hebatnya, para penjudi ini bisa juga menggerakkan media, konsultan bahkan paranormal demi taruhannya menang.

Lu nggak tertarik ikut nanggok rejeki di Pemilu?

Gua pilih jadi tukang foto aja. Kalau ada kandidat yang mau difoto, tolong bilangin gua bisa motret.(DAF)