Header Ads

Dua kali sebulan wajib gunakan pakaian Daerah

Wajah Bekasi - Jakarta , Sejak 1 Februari 2016 lalu, Mendikbud Anies Baswedan mengeluaran surat edaran yang mewajibkan seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Pendidikan Menengah dan Kebudayaan memakai pakaian daerah dua kali sebulan.

Melalui aturan tersebut Anies berharap pakaian daerah tak hanya dipakai untuk upacara adat. Tapi bisa jadi pakaian yang nyaman untuk bekerja.

"Pakaian adat bukan hanya dipakai saat upacara adat, pakaian adat adalah pakaian keseharian, pakaian saat bekerja, pakaian saat berkarya," ujar Anies dalam keterangan di website Kemendikbud, Selasa (15/3/2016).

"Mari kita kembangkan pakaian adat menjadi pakaian yang nyaman untuk bekerja. Kita sama-sama jaga nilainya, kita tinggikan estetikanya, dan kita mudahkan penggunaannya," imbuhnya.

Di lingkungan Kemendikbud, berdasarkan Berdasarkan Surat Edaran Nomor 1051/A.A6.SE/2016 tentang Pakaian Kerja Pegawai, para pegawai Kemendikbud mengenakan pakaian daerah sebagai seragam kerja setiap hari Selasa di minggu pertama dan ketiga.

Anies juga sempat berkeliling ruangan-ruangan di Kemendikbud untuk mensosialisasikan peraturan tersebut. Saat berkeliling, mantan Rektor Universitas Paramadina itu melihat pegawai perempuan cenderung memilih berkebaya dan kain, sedangkan pegawai laki-laki sebagian besar lebih menyukai berbaju lurik atau beskap, dengan tutup kepala berupa blangkon atau udeng.

Adalah Mpo Awul penggiat budaya Gerakan Moral pelestari seni budaya  bekasi ketika di temui di acara bekasi expo 2016 mengatakan " saya apresiasi kepada bang anies baswedan yang telah memperjuangkan kearifan lokal terutama pakaian khas daerah agar jangan sampai punah , jangan alergi atau memandang manusia jadul serta kuno ketika melihat dan mengenakan busana khas daerah malah saya bangga akan pakaian khas daerah ini dan saya masih belom melihat bangganya orang bekasi terutama para pegawai mengenakan pakaian khas daerah khususnya pakaian adat bekasi, untuk itu saya berharap nyo make pakean daerah biar kita bangga dan punya identitas diri sebagai orang bekasi. Dan saya akan menunggu ketegasan pimpinan daerah baik kota maupun kabupaten untuk mewajibkan mengenakan pakaian khas bekasi".

Lebih lanjut Mpo awul salah seorang wanita yang juga pendiri sanggar melati budaya asal bojong menteng  kecamatan bantar gebang mengatakan "Sebuah pesan pengingat tentang Indonesia yang raya. Mari kita terus jaga dan rayakan kebhinekaan ini. Mari kita kembalikan pakaian adat menjadi pakaian kerja, pakaian keseharian. Sembari melapangkan arena berkarya bagi pengrajin, pelestari dan pengembang tradisi busana adat," tuturnya.(red)