Header Ads

Euis : Sampai kaki dan tangan ini tak lagi bisa menari

Bekasi  - Malam-malam bulan agustus di bekasi adalah malam penuh warna. Gedung juang tambun  ini seperti tak pernah tidur. Sabtu malam di penghujung agustus itu misalnya. Hingga pukul 23.00 WIB kawasan itu masih ramai dengan para pegiat budaya yang memamerkan keahlianya di bidang seni budaya. Jalan pasar tambun yg berdebu di sesaki para pengojek dan karyawan pabrik yang hendak bekerja seolah acuh tak acuh dengan berkumpulnya para budayawa n sesekali melihat ke dalam gedung juang. Di halaman gedung juang berdiri panggung berukuran sekira 2x3 meter. Backdrop dan cahaya lampu ala kadarnya serta sejumlah gamelan yang berjejer dengan asal menandakan panggung siap menyuguhkan pertunjukan.“Ini untuk pertunjukan tari jaipong,” kata seorang anggota sanggar pejuang  yang tak mau disebutkan namanya. Menurut lelaki paruh baya ini, setiap hari mulai pukul 20.00 WIB, para penari Sanggar pejuang menggelar pertunjukan tari jaipong baik ada yg menonton mauoun tidak . Dengan kostum penari Sunda, mereka menarik para penonton untuk bisa menikmati suguhan tari tradisional khas jawa barat  “kami menari karena kami hobby dan kami punya kewajiban untuk melestarikan warisan moyang kami , di perhatikan atau tanpa di perhatikan pemerintah kami akan tetap menari dan lestarikan budaya ini karena kalau bukan kami siapa lagi yang melestarikan ” ungkap teteh euis  pegiat budaya jaipong yang sehari- hari bekerja sebagai marketing produk di perusahaan swasta panggilan akrab di lingkungan gedung juang tambun.

Ketika ditanya oleh wajah bekasi  mengapa harus jaipongan euis kembali mengatakan " dari Smp saya sudah menari jaipongan bahkan saya pernah menari di korea,jepang dan australia memenuhi undangan kedutaan besar di sana, selain itu pula jaipongan adalah penyemangat hidup saya di mana ketika saya bete atau boring hanya jaipongan lah yang menghibur saya walaupun jerih payah saya dan kami yg tergabung di sanggar pejuang tak mendapatkan apresiasi dari pemerintah setempat namun saya akan terus menari sampai tangan dan kaki ini tak bisa menari " sambil menyeka air mata yang menandakan begitu dalam dan cintanya wanita ini kepada seni tradisional mengakhiri wawancara ini. (Red)